Analogi Ayam: Tiga Tipe Manusia dalam Menyikapi Rezeki dari Allah

Diary Ramadhan edisi 25 Ramadhan 1431H

Oleh: Titah Yudhistira

Seorang pengusaha yang kaya raya dan sangat dermawan dan baik hati dalam suatu perjalanan bertemu dengan tiga orang gelandangan, sebut saja A, B, dan C, yang tidak memiliki apa-apa. Pengusaha ini ingin menguji ketiga orang itu. Maka ia berkata kepada mereka:

“Kalian masing-masing selama setahun akan aku pinjami peternakanku dengan seribu ekor ayam betina dan 50 ekor ayam jago didalamnya. Kalian boleh pergunakan apa saja telur-telur yang dihasilkan. Tapi karena peternakanku itu merupakan tempat yang terisolasi, kalian tidak bisa memperdagangkannya. Setelah setahun, aku akan mengambil alih kembali peternakanku.”

Apa yang dilakukan si A? Dia tidak mengurus peternakan itu dengan baik. Ayam-ayam diberi makan seenak hatinya. Telur-telurnya dimakan sepuas-puasnya dan karena berlebih, sisanya dibuat mainan. Ayam-ayam jantan saling diadu untuk hiburan sampai diantaranya mati. Beberapa ayam dipotong untuk dimakan. Kandang yang tidak diurus, menjadi berlubang dan beberapa ayam lepas atau dimakan musang.

Si B, berbeda dengan si A, mengurus ayam-ayam itu dengan seksama. Dia ingin ayam-ayamnya bertelur banyak. Setiap hari telur-telur yang dihasilkan iya makan sepuasnya, dan sisanya dibersihkan dan dikumpulkan dalam gudang. Setiap hari dipandanginya kumpulan telur yang makin menggunung  itu sambil berpikir, setelah setahun aku akan punya ratusan ribu telur. Aku akan kaya.

Si C berbeda lagi. Dia merasa berterima kasih kepada si pengusaha. Ayam-ayamnya diurus dengan baik tidak beda dengan B. Telur-telur yang dihasilkan iya makan secukupnya, sisanya iya ternakkan. Pikirnya, si pengusaha itu telah baik terhadapku. Kalau telur ini berubah jadi ayam, maka saat ia kembali setahun lagi dia pasti akan senang ayamnya telah bertambah. Lagipula, telur-telur itu kalau dibiarkan saja pasti akan busuk.

Apa yang terjadi setelah setahun?

Si pengusaha datang ke peternakannya yang diurus A. Dia sangat marah karena ayamnya habis dan peternakannya rusak. Si A sendiri jadi kolesterol, stroke, menderita sepanjang sisa hidupnya.

Apa yang terjadi dengan si B? Setelah setahun, si pengusaha mengambil alih kembali peternakannya. Si B pergi meninggalkan peternakan itu sambil membawa ribuan telur busuk. Baru setelah sampai kota, ia menyadari kesalahannya dan sadar bahwa ia sebenarnya kembali menjadi seorang miskin yang tidak memiliki apa-apa.

Si pengusaha mendatangi peternakannya yang dititipkan ke si C. Melihat ayamnya bertambah, si pengusaha merasa senang. Karena dia sudah kaya, tambahan beberapa ratus ayam adalah tidak berarti terhadap kekayaannya. Karena dia tidak membutuhkan tambahan kekayaan ini, maka ia memberikan ayam-ayam baru itu kepada si C untuk dijual di kota atau ia ternakkan kembali untuk bekal sisa hidupnya.

A, B, dan C dapat dianalogikan sebagai tiga tipe manusia dalam menyikapi titipan kekayaan di dunia. Hidup di peternakan dapat  dianalaogikan dengan hidup di dunia. Peternakan itu sendiri dapat dianalogikan dengan harta titipan Allah.

Si A adalah tipe orang yang tidak bersyukur. Dia puaskan nafsunya dan dia berbuat kerusakan atas apa yang telah dititipkannya.

Si B adalah tipe orang yang mampu menjaga diri dari nafsu dengan tidak menghambur-hamburkan titipan tadi, tapi semata-mata motifnya adalah demi kepentingannya sendiri. Dia tidak merasa berterima kasih kepada yang telah memberinya kesempatan memanfaatkan titipannya.

Si C adalah tipe orang yang bersyukur dan tidak egois. Dia berpikir bahwa kebahagiaannya selama setahun di peternakan itu, semata-mata adalah kebaikan dari yang telah menitipi. Maka ia harus membalas kebaikan itu.

Kehidupan setelah meninggalkan peternakan adalah akibat yang terjadi oleh apa yang dilakukan ketiga orang tadi selama di peternakan. Si A, selain mendapat murka si pengusaha, sisa hidupnya penuh penderitaan. Si B, sisa hidupnya penuh penyesalan dan tidak memiliki apa-apa untuk bekal kehidupannya kemudian. Si C, dia merasa bahagia selama sisa hidupnya karena dia sudah memiliki peternakannya sendiri dan ayam-ayamnya beserta telur-telurnya tidak akan habis karena akan terus berkembang dan berkembang. Di sini kita bisa menganalogikan apa yang dibawa ketiga orang tadi selepas episode hidup mereka di peternakan  sebagai apa yang akan kita bawa setelah meninggalkan dunia ini sebagai hasil kita menyikapi modal rezeki yang telah dikaruniakan Allah selama hidup kita.

Sekarang mari kita bertanya pada diri sendiri. Mau menjadi si A, si B, ataukah si C kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × two =