Badainya sudah reda….

Diary Ramadhan : Edisi tanggal 16 Ramadhan 1430 H

Oleh: Nur Alia Oktaviani 

Awan putih telah tertembus, tinggal tersisa kabut tipis, yang dibaliknya terlihat hamparan dengan bentuk-bentuk serupa rumah berwarna oranye, kecil-kecil di bawah sana. “Sebentar lagi pesawatnya akan mendarat, aku harus bersiap-siap” kataku dalam hati. Ada kerinduan yang begitu menyeruak dalam relung hatiku yang makin berdebar kencang. Hari ini aku akan bertemu dengan keluargaku. Dua tahun tidak bertemu mereka, adalah waktu yang tidak mudah bagiku. Dan di empat bulan terakhir ini, begitu banyak hal yang terjadi. Disaat aku baru saja memutuskan untuk melengkapi setengah Dien-ku, badai yang sangat hebat menerpa hidupku. Ibuku masuk rumah sakit karena mengalami pendarahan yang sangat hebat. Hb-nya turun dari yang normal,11,  menjadi 4. Aku hanya bisa berdoa dan membantu sebisaku dari negeri kincir angin ini. Sangat sulit bagiku untuk pulang pada saat itu karena studiku hampir selesai, ditambah lagi aku memprioritaskan uangku yang jumlahnya sangat terbatas untuk biaya perawatan ibu di rumah  sakit. Sulit sekali untuk memfokuskan pikiranku pada studiku. Aku hanya bisa berkata dengan penuh kepasrahan ”Ya Allah, aku sudah mengikhlaskan diriku untuk menempuh semua yang terjadi dalam hidupku”. Satu bulan setelah kesehatan ibuku sudah mulai membaik, ayahku pun masuk rumah sakit. Awalnya, beliau terserang sakit kepala yang begitu hebat, namun pihak rumah sakit tidak tahu apa penyebab penyakitnya. Mereka hanya memberikan obat-obat penenang dengan dosis yang sangat tinggi. Akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk memindahkan ayahku ke RS Pelni Jakarta. Ternyata disana akhirnya diketahui bahwa ayahku menderita penyakit tipus dan radang sinusitis. Kami cukup lega mendengar ketika akhirnya penyakitnya sudah diketahui. Satu bulan setelah dirawat, akhirnya dokter membolehkan beliau untuk menjalani perawatan di rumah saja. 

Aku mengambil koperku dan menuju lobby kedatangan. Disana aku menemukan kakakku, ya kakakku tercinta. Aah dia masih saja sama seperti kakakku yang dulu, namun nampak anggun dengan jilbabnya yang rapi. Aku berlari memeluk kakakku melepas kerinduanku yang mengharu biru. Kami memutuskan untuk pulang dengan bus, masih cukup jauh memang. Ditengah perjalanan, tiba-tiba ibuku menelpon bahwa panas ayahku sangat tinggi. Ibuku meminta kami agar segera pulang secepatnya. Sesampainya di rumah, ibuku membuka pintu. Betapa terkejutnya diriku melihat ibuku yang menjadi sangat kurus. Beliau kehilangan beratnya lebih dari 20 kg. Hampir seberat koperku yang kubawa, seberat itulah berat badan ibuku hilang. Aku hanya bisa menangis dan memeluk ibuku. Setelah itu aku pun menuju kamar ayahku. Sesosok yang dulunya gagah dan segar kini berubah 180 derajat. Ayahku terbaring diatas kasur sambil meringkuk. Matanya terpejam. Badannya sangat panas.  Dia hanya membuka matanya sedikit lalu matanya terpejam kembali. Yang membuatku sangat terpukul, beliau tidak mampu lagi mengenaliku. Aku merasa sangat bersalah sekali karena kakakku mengatakan bahwa ayahku sangat rindu sekali padaku dan juga ada perasaan berat untuk melepasku yang akan menikah sebentar lagi meskipun beliau juga yang sangat bersemangat pada mulanya. Hari-hari selanjutnya ternyata jauh lebih berat dibandingkan apa yang aku alami sebelumnya. Pernah ayahku terjatuh di kamar mandi dan tak mampu lagi untuk berdiri. Bahkan, kami bertiga (aku, kakakku dan ibuku) tidak kuat untuk mengangkat beliau ke kamar.  

Kami pun berbagi tugas, kakakku bekerja juga untuk menafkahi keluarga, aku dan ibuku yang harus merawat ayahku sehari-hari. Dimulai dari memandikan, membersihkan kotorannya dan menyuapkan makanannya. Tidak ada lagi keinginan untuk melanjutkan rencana pernikahanku saat itu. Hanya saja ketika orang tua calon suamiku ingin sekali bertemu denganku, akupun memutuskan untuk bersilaturahmi kepada mereka. Setidaknya hanya silaturahmi pikirku. Namun setibanya di rumah mereka, mereka mengajakku untuk segera fitting baju. Nampaknya persiapan mereka sudah sangat jauh. Padahal keluargaku pun belum membicarakan hal ini kembali dengan keluarga besarku. Aku hanya bisa terdiam dan tak mampu berkata apa-apa lagi. Yang aku tahu, mereka sudah tahu tentang kondisi keluargaku. Dan mereka bisa menerima kondisi keluargaku. Keesokkan harinya ternyata kondisi ayahku drop kembali. Bukannya hanya badan yang panasnya saja naik yang secara drastis, tapi beliau juga tidak mampu menelan air. Kakakku menangis sambil terus memberikan aba-aba kepadaku untuk melakukan sesuatu. Jika begini terus, ayahku harus diinfus. Tidak ada jalan lain.  

Pagi itu aku menelpon kakak laki-lakiku di Jepang. Beliau juga sangat khawatir, namun saat ini beliau sangat tidak mungkin pulang, karena beliau sedang berada pada kondisi terberat masa studinya PhD-nya di Jepang. Aku mengatakan pada kakakku untuk membatalkan semua rencana pernikahanku, karena aku tidak sanggup memikirkan keduanya secara bersamaan. Aku tidak ingin menjadi anak yang egois dan hanya memikirkan diriku saja sendiri. Aku tahu bahwa aku akan menghancurkan perasaan calon suamiku, keluarganya dan tentunya perasaanku sendiri. Namun aku tidak sanggup lagi untuk berpikir. Kakakku mencoba berpikir tenang dan mengatakan untuk melihat situasi selama seminggu ke depan dan tidak tergesa-gesa untuk mengambil keputusan-keputusan besar. Aku pun mengikuti saran kakakku.  

Sorenya seorang ustadz datang menjenguk ayahku. Ibuku menceritakan kondisi ayahku yang semakin memburuk dan ayahku yang kehilangan semua ingatannya bahkan untuk sholat sekalipun. Pak ustadz hanya tersenyum ”Saat ini kewajiban suami ibu sudah gugur dikarenakan sakitnya”. Pak ustadz juga menceritakan bahwa adiknya juga menderita penyakit yang sama dengan ayahku. Penyebabnya karena dosis obat yang sangat tinggi sehingga ayahku terkena stroke. Kamipun akhirnya terdorong untuk memeriksa semua komposisi dan indikasi serta kontra-indikasi obat-obat ayahku. Ternyata ustadz itu benar. Obat-obat ini sangat keras. Beliau menyarankan kami untuk mengganti obat itu dengan habatussauda sebagaimana yang dianjurkan dalam hadist Rasulullah saw. Kami mengikuti saran itu  dan juga kami membawa ayahku untuk menjalani terapi akupuntur. Seperti keajaiban…kondisi ayahku sedikit demi sedikit membaik. Panasnya kemudian turun, beliau bisa menelan air kembali dan bahkan sedikit demi sedikit sudah bisa berjalan kembali meskipun masih dituntun. Namun ingatannya belum benar-benar pulih. 

Hari itu kami memasuki Ramadhan 1429 H dengan kondisi prihatin. Satu minggu kemudian, tanteku (adik ayahku) datang menengok ayahku. Ada bulir-bulir air mata kesedihan ketika melihat kondisi ayahku. Ibuku juga menceritakan tentang rencana pernikahanku yang terkatung-katung kepada beliau. Tanteku hanya tersenyum sambil berkata pada Ibuku, ”Uni, tidak usah khawatir, kami sudah mengadakan rapat keluarga. Niat untuk menikah adalah sebuah niatan yang sangat baik. Jangan ditunda-tunda. Kami yang akan mengurus semuanya. Dan kita juga akan bersama-sama untuk mengurus Uda yang sakit”. Setelah kunjungan tanteku, akhirnya semua pihak keluarga dari Jakarta mulai sering berdatangan ke rumahku untuk menengok ayahku dan membicarakan rencana pernikahan yang waktunya tinggal sebulan lagi.  

Dentuman hari raya Idul Fitri kali ini benar-benar terasa berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Terasa sepi dan penuh kesedihan. Empat hari kemudian, keluarga calon suamiku dan calon suamiku yang baru saja paginya tiba dari Jepang datang mengunjungi keluargaku. Itulah pertama kalinya bagi calon suamiku untuk bertemu orangtuaku setelah beliau mempinang saya kepada ayah saya melalui telepon tepat sebulan sebelum ibuku sakit. Berjalannya ia mendekati ayahku, kemudian memijit-mijit kaki ayahku. Terngiang-ngiang kata-kata kakak laki-lakiku yang mengatakan ”Kunci utama pernikahan adalah keikhlasan, karena badainya tidak sedikit”. 

Hari-haripun berlalu dan menghantarkan aku pada momen terbesar dalam hidupku. Sahabatku, yang selama ini menemani studiku di Belanda, datang mengunjungiku di malam sebelum pernikahanku. Betapa bahagianya hatiku ketika bertemunya saat itu. Wajah yang selalu menemaniku dalam suka maupun duka. Malam itu aku benar-benar sulit sekali untuk tidur. Padahal sahabatku terlihat sudah terlelap dalam mimpinya. Akhirnya kuputuskan untuk sholat, Sholat istikhoroh. Dan jawabannya akan terlihat di keesokan paginya. Malam itu aku benar-benar mengikhlaskan semuanya. Apapun yang terbaik menurut pilihan Allah. Karena aku tidak mampu melihat masa depan, namun hanya Dia-lah mengetahuinya. Pagi itu, pagi yang sangat menentukan sekali. Alhamdulillah, kondisi ayahku baik-baik saja, dibandingkan kondisi sebelumnya. Namun untuk akad nikah itu, kakak ayahku, pamanku yang menjadi wali saat itu. Proses sakral bersatunya dua insan dalam sebuah ikatan suci pernikahan sendiri hanya berlangsung beberapa menit. Setelah itu aku dipertemukan dengan suamiku. Kamipun berdoa bersama dan suamiku membaca butir-butir kewajiban yang tertulis di buku nikah. Pada saat acara sungkeman, aku tidak mampu menahan air mataku melihat ayahku yang berada di atas kursi roda. Saat itu, segala perjuangan selama ini kembali terbayang ketika aku menapaki sebuah mahligai pernikahan. 

Hampir satu tahun berlalu. Waktu telah menghantarkan aku dan suamiku untuk bertemu dan berpisah kembali, karena kami berdua masih sedang melanjutkan studi di dua belahan bumi yang berbeda, barat dan timur. Walaupun begitu, kami menjalani waktu-waktu itu dengan penuh keikhlasan, kebahagiaan dan  rasa syukur yang mendalam pada Allah SWT. Satu dan lainnya saling membantu, saling mengingatkan, saling menghibur dan bekerja sama sebagai dua insan suami-istri dalam mewujudkan cita-cita. Alhamdulillah, kini kondisi ayahku sudah semakin banyak mengalami kemajuan, meskipun beliau masih tetap belum sembuh sepenuhnya. Juga, kakakku yang berada di Jepang pun akhirnya berkesempatan untuk menengok ayahku di Indonesia. 

”Allahu akbar… Allahu akbar”. Aku tersentak dari lamunanku ketika mendengar suara adzan Magrib dari  Islamic finder di laptopku…..”Badainya sudah reda…”lirihku dalam hati 

Fainnama’al ’usri yusraa Innama ’al ’usri yusraa

”Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan” (QS Al Insyirah  5-6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × five =