Cahaya Redup di Lintas Utara

Diary Ramadhan: Edisi tanggal 27 Ramadhan 1430 H

Oleh: Eko Hardjanto

“Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya pada Hari Kiamat.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

***

Cahaya Redup di Lintas Utara

Pagi itu Cahaya cerah ceria. Lima hari lagi Lebaran kan tiba. Waktu mudik kini saatnya. Ayah telah menyiapkan segala keperluan perjalanan. Ibu dan adik bersiap mengepak pakaian, dan sedikit makanan pengganjal perut. Bagi ibu, buat apa jajan di jalan. Lebih baik uang disimpan untuk kampung halaman.

Mudik tahun ini seperti biasa. Cahaya bersama ayah menggunakan sepeda motor. Ibu bersama adik naik bis antar propinsi. Mudik yang hemat. Karena tak mungkin Cahaya duduk bersama di dalam bis itu. Apalagi naik kereta AC. Atau pesawat terbang. Biru Malam, Lion Air atau Garuda sudah pasti mahal ongkosnya.

Sebagaimana layaknya anak usia 10 tahun. Cahaya sudah tidak sabar menunggu perjalanan itu. Pasti sebuah pengalaman yang seru, duduk di belakang ayah membonceng sepeda motor. Biarlah ibu tidur di dalam bis bersama adik. Di jalan, cahaya ingin melihat semua. Biar nanti di sekolah banyak cerita. Bertemu kakek dan nenek tambah bahagia.

Waktunya pun tiba.

Setelah mengantar ibu dan adik ke terminal bis antar kota. Ayah dan Cahaya pun memulai perjalanan jauh. Melewati hiruk pikuk kota Tangerang, menuju Ngawi di timur sana. Dua-tiga jam Cahaya banyak bertanya. Tentang apa saja yang dilihatnya.

“Ibu sedang apa ya Yah ?”,

“Ah paling sedang tidur bersama adik”.

“Lebih seru naik motor ya Yah”.

Siang itu matahari terik seperti biasa. Jalanan padat dipenuhi para pemudik. Ayah dan Cahaya memasuki jalur lintas Utara. Cahaya menyandarkan kepalanya di punggung ayah. Rasa kantuk karena panas dan lelah. Walau bukan di dalam kendaraan mewah, rasa kantuk sebuah nikmat yang sama.

Cahaya pun redup.

Di depan mobil Kijang Krista gagah melaju. Ayah menahan kantuk. Ia harus tetap siaga. Tidak ada alunan musik Ungu yang mengiringi perjalanan seperti mereka. Perjalanan masih jauh. Bukan AC, biarlah debu dan asap teman setia.

Memasuki kota Cirebon penuh dengan truk besar dan bus antar kota. Kendaraan merayap perlahan. Motor-motor berseliweran.

Kemacetan semakin menggila.

Truk dan bus menepi, kendaraan perlahan. Motor-motor kecil terus merangsek ke depan. Mengambil sisi jalan sebelah kanan. Mepet trotoar para pejalan. Ayah mencari celah, mencoba menembus kepadatan. Gesit, cahaya sedikit terhenyak, jalan banyak berlubang. Ayah terus melaju..terus..dan terus…

Saatnya tiba…

Di depan tak dinyana..dalam kecepatan ada sebuah becak nyelonong ke jalan…

“Awas…”, ayah berteriak…

Ayah membanting motor ke kiri. Di situ ada sebuah truk. Ayah terserempet, jatuh bersama motornya.

“Brakkk..sreeettttt…”

Gelap…

Kerumunan orang datang seketika. Seorang anak 10 tahun tergolek di belakang motor.

Mata Cahaya ditutup.

Cahaya pun redup.

 

Tak ada cerita seru di sekolah.

Hanya cerita duka.

 

***

 

Eindhoven, 16 September 2009

Kisah nyata di Lintas Utara.

Kudedikasikan untuk Cahaya dan para pemudik yang papa, kaum dhu’afa.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 2 =