Dari Cobaan Menuju Rahmat via Azab (Part 1)

Sebuah Diary Ramadhan oleh Titah Yudhistira

Satu hal yang benar-benar saya syukuri dalam menjalani bulan Ramadhan di Indonesia adalah tersedianya berlimpah sarana untuk merengkuh segala yang terbaik dari bulan yang mulia ini. Berbagai kegiatan dapat diikuti untuk meraih berkah Ramadhan di tanah air. Mulai dari tarawih dan tadarus di masjid dan surau, turut menyumbang makanan pada yang sedang berpuasa, mendatangi stand-stand amal, sampai-sampai menonton TV-pun memiliki potensi ibadah. Pada bulan ini, stasiun-stasiun TV di Indonesia berlomba-lomba menyiarkan acara-acara religius Islami. Memang, harus diakui bahwa beberapa acara ini hanya bersifat hura-hura dan kurang Islami, tapi banyak juga acara yang dapat membuka hati dan wawasan.

Salah satu acara TV yang cukup menarik perhatian saya adalah acara yang berisikan perjalanan spritual selebritis dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Acara-acara ini berisikan bagaimana mereka mengalami krisis hidup dan akhirnya mendapat petunjuk Allah SWT serta akhirnya saat ini hidup tentram dan damai. Bukan semata-mata karena ini menyangkut kisah selebritis sehingga menjadi acara favorit saya (in fact, masalah mereka sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja). Ada dua hal utama yang menjadikan acara ini favorit. Pertama, saya  pribadi baru saja mengalami episode tersulit yang penuh cobaan (dan azab) dari Allah SWT, sehingga saya bisa hanyut dalam emosi dan emphaty mengikuti perjalanan hidup mereka. Kedua, pengalaman mereka dapat menjadi pelajaran yang dapat diikuti oleh saya yang sedang struggling menepis azab. Dan atas dasar ini pulalah saya ingin berbagi perjalanan saya melewati cobaan menuju rahmat via azab, melalui Diary Ramadhan ini. Saya berharap kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya.

Sebelum lanjut, ada dua istilah yang sangat penting dan menjadi inti tulisan ini: cobaan dan azab. Apa bedanya? Dalam praktiknya keduanya dapat bermanifestasi dalam bentuk yang sama. Jika usaha kita bangkrut atau tunangan kita tiba-tiba memutuskan hubungan dengan kita, apakah hal tersebut cobaan atau azab? Yang pasti, cobaan adalah sesuatu yang masih terperikan (bahkan terkadang kita mintakan, e.g cobaan berupa keturunan, harta, ilmu, dan kedudukan/kemuliaan); azab adalah sesuatu yang kita ingin hindari dan merupakan akibat dari kesalahan dan dosa yang kita perbuat. Saya pribadi berkeyakinan bahwa kita sebagai manusia sangat rentan terhadap azab Allah (baik yang ringan sampai yang berat). Dasar pemikiran saya adalah sebagai berikut:

1. Manusia hidup tidak akan lepas dari cobaan
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut:2)

2. Tidak semua cobaan adalah berupa penderitaan. Seringkali cobaan itu berupa nikmat dan kesenangan
“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata:’Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku’. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS Az-zumar:49)

3. Jika cobaan itu berupa penderitaan atau sesuatu yang membuat kita sedih, seringkali kita malah akan mendekatkan diri pada Allah SWT. Tapi, sebaliknya jika cobaan itu berupa kenikmatan (atau ‘kenikmatan’), maka seringkali kita tidak sadar bahwa diri kita sedang diuji oleh Allah.
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya (kesusahan) dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Yunus:12)

4. Manakala kita tidak sadar bahwa kita sedang diuji dengan kenikmatan, besar kemungkinan kita akan tergelincir dan tidak mensyukuri nikmat Allah itu, maka azab Allah akan segera tiba.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:’Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim: 7)

Bagaimana argumen saya diatas? Cukup logis bukan? Dan secara empiris, proses ini baru saja terjadi pada diri saya pribadi akhir-akhir ini. Sebenarnya agak malu juga menceritakannya (masa terkena azab pamer dan bangga), tapi memang salah satu jalan awal yang harus ditempuh untuk mengubah azab menjadi rahmat adalah kebesaran hati kita untuk mengakui kesalahan kita dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi (dan tentu saja juga berjanji untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan sejenis dan sebanding di masa depan).

Mengacu ke pengalaman saya, semuanya bermula dengan kesempatan yang saya peroleh untuk melanjutkan pendidikan di Groningen yang notabene bagian dari Belanda yang bagian dari Eropa. Adalah cita-cita saya sedari kecil untuk menghabiskan sebagian hidup saya di Eropa. Dan ternyata tidak cuma itu saja. Kenikmatan demi kenikmatan datang bertubi-tubi.  Satu demi satu mimpi hidup saya (yang selama ini saya yakini mimpi hanya mimpi) terwujud dalam enam bulan pertama saya di Groningen. Bahkan beberapa saya rasakan jauh lebih indah dari bayangan saya sebelumnya hingga sempat saya berpikir: it’s to good to be true. Saya tenggelam dalam euphoria (belakangan saya tahu bahwa yang saya alami, secara ilmiah, tidak lain merupakan bagian dari perubahan drastis yang saya alami. Demikian konon menurut booklet menjalani stress selama di RuG terbitan biro konseling RuG. Booklet yang bagus, sebisa mungkin bagi rekan-rekan yang baru datang untuk membaca booklet ini seawal mungkin). Dan memang itulah puncak kebodohan saya. Saya tidak sadar bahwa saya sedang diuji oleh Yang Mahakuasa (c.f QS Az-Zumar 49). Dan akibat ignorance saya ini, saya pun tergelincir. Dan sesuai peringatan-peringatan-Nya di kitab suci, berbagai kehilangan, kekecewaan, penderitaan, dan kesedihan segera datang satu per satu (c.f QS Ibrahim:7).

Pada awalnya saya berusaha mengatasi segala kekecewaan yang saya alami dengan mengandalkan kekuatan rasio saya. Pelan-pelan otak saya berusaha merekayasa keadaan dan membuat justifikasi atas apa yang saya alami ini sebagai sesuatu yang baik bagi saya serta berusaha menyiapkan segepok “mitigation plan”. Tapi meskipun sudah berbulan-bulan, rasa sakit, kecewa, dan penyesalan yang luar biasa (sorrows) itu tidak bisa lepas dan selalu menghantui hari-hari saya. Bahkan pada suatu titik sudah pada tahap membahayakan kesehatan fisik (yang paling nampak adalah turunnya berat badan saya secara cukup signifikan yang sebagaimana dengan sukses teramati oleh beberapa rekan deGromiest  yang sempat menanyakan perubahan ini pada saya).

… to be continued …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 4 =