Dialog imajiner*

Diary Ramadhan : Edisi tanggal 9 Ramadhan 1430 H

Oleh: Abdul Muizz Pradipto

Soekarno adalah bung Karno, salah satu bapak proklamator bangsa Indonesia. Thariq bin Ziyad adalah pemimpin pasukan Islam, penakluk Andalusia, Spanyol. Agung dalam cerita ini imajiner; tokoh bangsa Indonesia di medio awal abad 21, seorang mahasiswa Indonesia di kota Groningen tahun 2009.

Mereka berjumpa dalam suatu kesempatan.

Soekarno (S): Assalaamualaikum pak Thoriq. Tak dapat kesempatan berpuasa lagi kita, sudah puluhan tahun nampaknya.

Thoriq bin Ziyad (T): Waalaikum salam Bung. Situ baru puluhan tahun, saya sudah 15 abad.

S: Betul Pak, memang jaman ini bukan jaman kita lagi. Tak terbilang beda suasananya. Ah, apa kabar bangsaku sekarang? Saya rindu dengan dengan tegur sapanya, dengan ta’jilan Ramadhannya, dengan halal bihalalnya. Saya kira di tempatnya pak Thoriq ga ada tuh halal bilalal.

T: Memang tidak ada di tanah kami. Halal bihalal kan tradisi bangsa sampeyan, budaya bangsa yang mesti dijaga tuh.. Eits, sekarang bukan waktunya marah Bung, bulan Ramadhan nih.

S: Nah, itulah. Eh, mas Agung diem aja ga ikut ngobrol nih. Crita-critalah kabar sekarang. Ato jangan-jangan lagi lemes gara-gara puasa?

Agung (A): Bung, kami di Groningen puasanya panjang sekarang. Sahur pukul setengah lima, buka setengan sembilan lebih. Maklumlah, di sini sedang musim panas. Nyaman sekali puasa di kampung kita di sana.

T: Mas, justru itulah tantangannya. Dengan begitu kawan-kawan mas Agung bisa dapat kesempatan dapat pahala yang banyak. Lebih-lebih kalau sambil puasa, ada pula capaian lain berujud produktivitas.

S: Di Groningen musim panas ya? Ya ya, memang tidak ada musim panas di negeriku dan mas Agung, walaupun tiap hari serasa musim panas. Tapi betul kata pak Thoriq, toh dengan kondisi panas itu, kita tidak terhalang untuk produktif di bulan puasa. Mas Agung mungkin tahu, proklamasi kemerdekaan bangsa kita terjadi di bulan Ramadhan? Ah, jadi ingin mengenang kembali masa-masa itu. Rumitnya menyusun naskah proklamasi, semalam suntuk kita rapat. Anak-anak muda seusia mas Agung itulah.. energi mereka besar sekali. Tapi alhamdulillah, bersama pak Hatta, kita berhasil merumuskan naskah yang memuaskan semuanya.

Jadi ingat, setelah itu, kami sahur sendiri-sendiri di rumah Laksamana Maeda. Pak Hatta mojok di dapur tuh (hihi..).

A: Oh iya, saat itu Ramadhan terjadi bulan Agustus ya. Hm.. tahun ini Ramadhan kita tidak nabrak tanggal 17 Bung, tahun depan baru kena puasa tanggal 17 Agustus. Tapi untungnya, kita jadi bisa bazar-bazar dan makan-makan tanggal 17 itu.

T: Bung Karno, betul tadi kata Bung, tak terhitung lagi bedanya sekarang dengan jaman kita. Bung mungkin rindu dengan sapaan “Merdeka!”, sekarang sapaan itu ga jaman lagi. No offense ya Bung.

Mas Agung sudah ke mana saja selama di Eropa? Sudah mengunjungi Spanyol-kah? Di sana banyak sekali peninggalan jaman keemasan Islam. Mas Agung tahu tidak ya, kami dulu memasuki Andalusia di Spanyol itu di bulan Ramadhan juga. Jadi ingin nostalgia juga. Masih segar di memori bagaimana kami dulu membakar kapal agar tidak ada yang ingin lari mundur. Semangat menggelora, ditambah pasokan kekuatan ruhani akibat ibadah bulan Ramadhan. Hasilnya, Islam berkembang cukup pesat juga di sana. Masjid al-Hambra di Granada saksinya. Sedih sekali rasanya, masa itu tinggal sejarah saja. Al-Hambra dan masjid Cordoba hanya menjadi situs wisata.

A: Saya memang belum berkunjung ke sana, pak Thoriq, dan saya juga belum membuat prestasi seperti bung Karno di tahun 1945.

S: Jangan salah, Mas. Prestasi itu bukan hanya memproklamasikan kemerdekaan, atau menaklukkan suatu negeri seperti yang dilakukan Pak Thoriq. Achievement kata orang, tahu kan? Itu tidak harus spektakuler dan dalam skala besar. Bukan.. Saya kira saya dan pak Thoriq sejalan pikirannya. Cerita kami adalah untuk menegaskan, Ramadhan bukan masa untuk banyak membuat pembenaran buat bermalas-malas. Semangatlah, banyak capaian bisa dilakukan. Mas Agung kan mahasiswa, buatlah target capaian akademik tertentu di bulan Ramadhan ini. Rasanya, capaian dalam level apapun patut diberi penghargaan.

T: Sepakat lagi, Bung. Satu lagi poin saya. Kisah kemenangan kami maupun proklamasi yang dibacakan bung Karno di bulan Ramadhan itu sering cuma jadi bumbu pengantar menjelang Ramadhan. Dibaca dan diposting ulang di milis-milisnya mas Agung itu tiap bulan Ramadhan datang. Lalu banyak yang berbangga dengan capaian yang bukan prestasi mereka itu. Pepatah bangsa kami mengatakan, bukan pemuda namanya kalau cuma bisa bilang, “ini bapakku”, tapi pemuda itu yang mengatakan, “itu lho aku”. Mas Agung ngerti maksud saya kan?

A: Saya paham, pak Thoriq. Saya kira, kisah Bapak dan bung Karno itu bukan diceritakan untuk berbangga-bangga koq. Yah, mungkin ada yang begitu, tapi tidak banyak. Rasanya, tujuannya seperti kata bung Karno tadi, itu untuk memotivasi kita semua. Kawan-kawan saya sepikiran semuanya, saya kira. Kami pun bisa membuat prestasi di bulan ini. Hehe.. seperti lagunya AFI Junior,”Aku bisa.. aku pasti bisa..” Tapi pak Thoriq dan bung Karno pasti ga kenal dengan mereka.

T: Syukurlah kalau begitu. Kalau begitu kita tunggu prestasinya.

A: Terima kasih Pak, atas obrolannya yang berkualitas.

S: Ya, selamat berpuasa jika begitu. Mohon maaf lahir dan batin.

*Judul serupa ini diinpirasi oleh salah satu tulisan Ust. Rahmat Abdullah (almarhum), dimuat di majalah Tarbawi, long time ago.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × four =