Doa-doa yang Terkabul

Diary Ramadhan: Edisi tanggal 8 Ramadhan 1430 H

Oleh: Sri Aktaviyani

Sering kali hati kecilku berkata, mengapa doa-doaku tak kunjung dikabulkan. Tak sabar rasanya hati menanti jawaban atas doa-doa yang selama ini sudah kumunajatkan. Walaupun terkadang,munajat itu dilantunkan diakhir sholat-sholatku yang masih jauh dari khusyu’. 

Aku juga sering berpikir, bukankan Allah Maha Mengetahui bahwa ruhaniku yang ringkih ini, sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani semua ujian kehidupan yang Ia Berikan. Bukankah Allah tidak akan menguji selain sesuaidengan kemampuanhamba-Nya? (QS Al Baqarah : 286). Ya Rabb.. apakah ini yg namanya tergesa-gesa, berharap agar do’a dikabulkan? Atau ini merupakan bentuk prasangka burukku kepada-Mu wahai pencipta alam semesta raya? Na’udzubillahimin dzalik…

Tapi, mengapa hingga saat ini masih belum ada jawabannya? Skenario indah seperti apa yang sebenarnya tengah Engkau rencanakan untuk hidupku,Ya Rabb..? Bukankah semua hal itu mudah bagi-Mu, apalagi hanya sekedar mengabulkan do’aku yang tidakada apa-apanya jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta ciptaan-Mu?

Sejenak aku teringat kisah Nabi Nuh a.s. (QS Nuh). Seorang manusia sholih yang diutus Allah untuk menyampaikan risalahnya di muka bumi ini. Beliau berdakwah kepada kaumnya siang dan malam, baik dengan sembunyi maupun terang-terangan. Namun, apa hasilnya? Kaumnya malah berlari meninggalkannya dan menutup telinga dengan pakaian mereka, agar tidak mendengarkan apa yang diucapkannya. Setelah 950 tahun berusaha dan terus berdo’a, barulah pertolongan Allah itu datang. Dengan cara mendatangkan banjir besar yang menenggelamkan seluruh kaum kafir saat itu, dan hanya menyisakan  orang-orang yang beriman dengan jumlah yang tidak lebih dari 100 orang.

Aku berpikir, ternyata pertolongan Allah datang kepada seorang manusia sholih seperti Nuh, setelah beliau menanti hingga 950 tahun, yang sama sekali bukanlah waktu yang singkat. Bentuk pertolongan yang Allah berikan pun bukan dengan menyadarkan orang-orang yang selama ini membangkang, namun Allah punya cara-Nya sendiri. Yaitu dengan memusnahkan para pembangkang itu, dan hanya menyisakan orang-orang yang beriman..

Lain lagi kisahnya nabi Ayyub a.s. Beliau diberi Allah ujian berupa penyakit borok yang tumbuh di sekujur tubuhnya dan mengeluarkan bau tidak sedap yang sangat menyengat. Akibatnya, istri dan anak-anaknya pun  pergi meninggalkan beliau dalam kondisi sakit parah. Setelah menanti selama delapan tahun, barulah Allah mengabulkan do’a nabi Ayyub dengen memberikan kesembuhan pada penyakitnya, dan mengembalikan keluarganya (QS AlAnbiya’ :83-84). Hmm… delapan tahun, bukanlah waktu yang singkat juga..

Ibrahim a.s. sang khalilullah (kekasih Allah) pun mengalami ujian yang sangat panjang. Telah lama beliau berharap untuk mendapatkan keturunan. Hingga pada saat berusia 90 tahun, Allah memberikan kabar gembira melalui malaikat Jibril, bahwa istrinya Sarah akan mengandung. Sarah pun berkata”bagaimana mungkin aku seorang wanita tua lagi mandul dapat mempunyai seorang anak?” (QS Adz dzariyat : 24-30). Sungguh tidak ada yang sulit bagi Allah jika ingin mengabulkan do’a hamba-Nya. Setelah puluhan tahun menanti, ternyata Allah mengaruniakan kepada Ibrahim keturunan, yang bukansembarang keturunan. Allah menjadikan keturunan nabi Ibrahim menjadi para Nabi, yaitu Ishaq dan isma’il, yang masing-masingnya juga menjadi ayah dari para nabi. Dari Nabi Ishaq lahirlah ya’kub a.s, Yusuf a.s dan seterusnya hingga Isa a.s. Sedangkan Ismail a.s. merupakan asal usul keturunan nabi Muhammad saw. Itulah sebabnya Nabi Ibrahim diberi gelar Abul Anbiya (bapak para nabi).

Subhanallah.. batinku berkata. Orang-orang shaleh bergelar rasulullah –yang tentunya sangat dicintai Allah- seperti mereka saja butuh waktu yang panjang untuk menempuh ujian dan butuh waktu yang lama menanti terkabulnya do’amereka. Lalu apakah pantas aku seorang yang tidak adaapa-apanya dibandingkan mereka mengeluh, dan berkata mengapa do’aku belum kunjung diijabah, mengapa ujian yang kuhadapi ini tak kunjung usai. Padahal, Allah tidak akan mungkin memberikan ujian kepadaku lebih berat dari ujian yang diberikan kepada para Rasul. Karena Rasulullah pernah bersabda, bahwa ujian yang paling berat itu diberikan kepada para Rasul, kemudian, kepada para tabi’in, dan kemudian kepada orang yang semisalnya.

Jika berkaca diri, dibandingkan dengan “orang yang semisalnya” pun aku masih jauh kualitasnnya. Berarti ujian yang aku hadapi pun tentu kualitasnya jauh lebih rendah dari mereka. Ya Allah, rasanya terlalu cepat bagiku untuk berkata bahwa do’aku tak  kunjung dikabulkan dan ujian yang kuhadapi terlalu panjang.

Jika menengok ke belakang, ternyata banyak sekali do’a-do’aku yang selama ini sudah dikabulkan oleh Allah. Terkadang sekedar harapan lepas pun Allah kabulkan. Satu hal lagi Ya Rabb.. Engkau mengabulkan do’aku dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang aku  minta dan dari jalan yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Ya Allah.. engkau memang lebih tau apa yang terbaik untukku. Dan Engkau juga lebih tau, kapan saat yang tepat untuk mengabulkan do’a-do’aku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty + 1 =