Kajian Romadhon 2016

IMG_2950 IMG_2980    IMG_3013IMG_2916  IMG_3003

Groningen, 2016. Romadhon kariim. Hari Sabtu, 18 Juni 2016 deGromiest mengadakan Pengajian Romadhon yang diadakan di Masjid HDV Eyup Sultan (Masjid Turki). Acara dimulai pada jam 15.00 hingga 18.00 di salah satu ruang di masjid. Kegiatan berlangsung sukses dengan dihadiri oleh sekitar 40 orang keluarga muslim Indonesia Groningen yang tentu saja sebagian besar adalah pelajar.

Pembicara kajian pada kesempatan ini adalah Ust. Hamdi Rofiudin (Den Haag) dan Ust. Siswanto (Utrecht). Ust. Hamdi Rofiudin menyampaikan bahwa puasa di Belanda merupakan tantangan tersendiri terutama bagi yang pertama kali datang di Belanda. Beliau menyampaikan bahwa puasa Romadhon di Belanda tahun ini menjadi yang terpanjang (sekitar 19 jam) sejak 37 tahun terakhir. Untuk itu, beliau mengingatkan untuk senantiasa menjaga kondisi tubuh agar tetap prima di bulan puasa ini sehingga tetap dapat menjalani aktivitas secara rutin.

“Islam agama yang mudah dan tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya. Sehingga, bagi muslim Indonesia yang menjalani puasa lebih lama dari biasanya (13 jam di Indonesia) menjadi hal yang menantang sekaligus menguji keimanan. Untuk itu jika memang Saudara sekalian yang sudah berupaya maksimal untuk menjalani ibadah puasa dan tidak mampu, maka dapat di-qodho di hari lain setelah bulan puasa.”pesan Ust. Hamdi Rofiudin.

Ust. Siswanto menyampaikan tentang Ikhtilaf bahwa di dalam agalam Islam sering kali terjadi perbedaan (ikhtilaf), antara lain : jumlah rekaat sholat tarawih, qunut dalam sholat Subuh, penentuan awal Romadhon, dll. Beliau mengatakan bahwa perbedaan dalam agama Islam adalah keniscayaan, karena hal ini telah lama terjadi di dalam agama Islam bahkan semenjak Nabi Muhammad SAW masih hidup. Akan tetapi, yang paling utama adalah menyikapi perbedaan dalam agama Islam itu dengan sikap dewasa. Jika perbedaan yang terjadi masih pada tataran furu’ (fiqih amal dan madzhab) bukan dalam hal qaidah kulliyah (aqidah dan ibadah) maupun ushuludin (pokok akidah dan syariah) maka hal tersebut adalah sesuatu yang masih bisa ditoleransi. Para ulama madhzab dengan keilmuannya yang tinggi juga memiliki perbedaan pendapat dalam fiqih amaliyah, Imam Syafi’i berqunut di sholat Subuh sedangkan Imam Malik. Tetapi hal itu tidak pernah menjadikan perselisihan bagi kedua ulama tersebut. Yang paling utama dalam hal menyikapi perbedaan adalah kedewasaan kita sebagai umat yan besar. Menjaga ukhuwah islamiyah jauh lebih penting daripada sekedar berdebat tentang siapa yang benar dan yang salah. Semoga Alloh SWTsenantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus.

Kajian hari itu ditutup dengan sholat Ashar berjamah. Kegiatan Romadhon 2016 berikutnya insyaa’ Alloh akan diadakan MABIT. Semoga Alloh SWT memberikan kemudahan. Aamiin.

Untuk mendengarkan rekaman kajian silahkan klik disini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × one =