Kebahagiaan

Diary Ramadhan edisi 18 Ramadhan 1431H

Oleh: Teguh Sugihartono

(Diterjemahkan dari THE ALCHEMY OF HAPPINESS, Hazrat Inayat Khan)

Ruh (soul) dalam bahasa Sanskrit dinamakan Atman, yang berarti kebahagiaan itu sendiri. Bukan berarti kebahagiaan adalah bagian dari ruh, tetapi ruh itu sendiri adalah kebahagiaan. Hari ini kita sering bingung antara kebahagiaan (happiness) dengan kesenangan (pleasure); tetapi kesenangan hanyalah ilusi, bayang-bayang dari kebahagiaan; dan orang yang termakan ilusi akan mencari terus menerus seluruh hidupnya kesenangan demi kesenangan tapi tak pernah mendapatkan kebahagiaan. Ada peribahasa Hindu yang mengatakan bahwa orang mencari kesenangan tetapi malah menemukan penderitaan. Setiap kesenangan akan terlihat dari luarnya sebagai kebahagiaan; kesenangan menjanjikan kebahagiaan, karena kesenangan itu merupakan bayang-bayang kebahagiaan, tetapi bayang-bayang seseorang bukanlah orang itu sendiri, walaupun terlihat menyerupai bentuk orang tersebut. Oleh karena itu, kesenangan menyerupai bentuk kebahagiaan, tapi bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya.

Adalah sangat jarang mendapatkan ruh (soul) di dalam dunia ini yang tahu apa itu arti kebahagiaan; mereka biasanya sering dikecewakan oleh satu hal dan hal yang lainnya. Ini merupakan proses alamiahnya hidup di dunia; bahwa walaupun seseorang dikecewakan beribu-ribu kali dia akan tetap mengambil jalan yang sama, karena dia tidak tau yang lain. Lebih banyak kita belajar dalam hidup ini, semakin kita menyadari bahwa hanya sedikit ruh (souls) yang secara jujur bisa mengatakan, ‘Saya bahagia’. Hampir setiap ruh (soul), apapun posisinya dalam kehidupan ini, akan mengatakan dia tidak bahagia di dalam satu atau lain hal, dan jika kamu menanyakan mengapa, mungkin dia akan mengatakan bahwa ini karena dia tidak bisa mendapatkan posisi tertentu, kekuasaan, harta kekayaan, atau keinginan-keinginan lainnya yang sangat dia idam-idamkan selama bertahun-tahun. Mungkin dia sangat mengidamkan memiliki uang banyak dan tidak menyadari bahwa memiliki uang banyak tidak akan memberikan kepuasan; mungkin dia memiliki banyak musuh, atau orang yang dia cintai tidak mencintainya kembali. Ada beribu-ribu alasan untuk menjadi tidak bahagia yang akan dihasilkan dari akal pikiran.

Akan tetapi, apakah satu dari sekian banyak alasan ini seluruhnya benar? Apakah kamu pikir jika orang-orang ini mendapatkan apa yang mereka idam-idamkan kemudian mereka akan menjadi bahagia? Jika mereka memiliki semuanya, apakah itu cukup? Tidak, mereka akan tetap menemukan alasan untuk tidak menjadi bahagia. Mereka yang benar-benar bahagia akan berbahagia dimana saja, di istana atau di gubuk, dalam kekayaan atau dalam kemiskinan, karena dia telah menemukan sumber kebahagiaan sejati yang terletak di dalam hatinya. Selama orang tersebut belum menemukan sumber tersebut di dalam hatinya, tidak ada sesuatu pun yang bisa memberikannya kebahagiaan sejati.

Seorang manusia yang tidak tau rahasia dari kebahagiaan sering kali mempunyai sifat serakah. Dia ingin seribu, dan setelah mendapatkan seribu dia tidak puas dan dia ingin sejuta dan dia tetap tidak puas; dia ingin lebih lagi dan ingin lebih lagi. Jika kamu berikan dia rasa simpati dan kamu coba menyenangkan dia, dia akan tetap tidak puas; bahkan semua yang kamu miliki tidak cukup, bahkan cintamu tidak bisa menolong dia, karena dia mencari di jalan yang salah, dan kehidupan ini pun menjadi sebuah tragedi.

Kebahagiaan tidak dapat diperjual belikan, juga tidak dapat kamu berikan ke seseroang yang tidak memilikinya. Kebahagiaan sejati yang ditemukan dalam diri sendiri adalah hal yang paling berharga di dalam kehidupan ini. Semua agama, semua sistem filosofi, mempunyai bentuk dan jalan yang berbeda-beda dalam mengajarkan manusia untuk mencapai kebahagiaan. Semua orang bijak, mempunyai cara atau methoda untuk mengajarkan seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan yang sangat dicari oleh ruh (soul).

Orang-orang bijak telah menamakan hal ini The Alchemy of Happiness, kimia kebahagiaan. Cerita ‘The Arabian Nights’bercerita tentang philosopher’s stone, yang bisa mengubah metal menjadi emas dengan proses kimia. Hal ini telah membuat banyak orang berfikir, baik di timur maupun di barat. Banyak yang berpikir bahwa emas dapat dibuat. Tapi ini bukanlah ide dari seseorang yang bijak; perburuan emas hanyalah untuk anak-anak. Untuk mereka yang memiliki kesadaran akan kenyataan, emas adalah simbol untuk cahaya atau inspirasi spiritual. Emas adalah simbol warna dari cahaya, dan oleh karena itu secara tidak sadar orang-orang mengejar emas seperti layaknya mengejar cahaya. Namun ada perbedaan besar antara emas yang asli dan emas yang palsu. Keinginan untuk mendapatkan emas asli telah membuat manusia mengumpulkan emas imitasi, bukan mencari emas yang asli. Dia memuaskan kehausan ruhnya dengan cara seperti, seperti anak-anak memuaskan dirinya dengan mainan-mainannya.

Kesadaran bukanlah masalah umur. Seseorang bisa saja telah mencapai usia tua tetapi tetap bermain dengan mainan-mainan layaknya anak-anak, ruhnya mungkin saja terlibat dalam pencarian emas imitasi; sedangkan orang lain yang lebih muda telah memulai pencarian akan emas asli. Jika seseorang mempelajari fenomena alamiah kehidupan dan memperhatikan mengenai perubahan, dan keinginan orang-orang untuk mencari kebahagiaan, seseorang akan melakukan semua cara dan mengeluarkan semua biaya untuk mencapai kebahagiaan. Manusia di dalam dunia yang cepat berubah ini mencari sesuatu yang tidak berubah, yaitu kebahagiaan itu sendiri. Yang dia tidak tahu, yaitu bahwa dia harus mengembangkan sifat ke-tidak-berubah-an tersebut dalam dirinya. Semua yang dibuat dan diciptakan akan menghadapi kehancuran suatu harinya. Semua yang berawal mempunyai akhir. Jika ada sesuatu yang bisa digantungkan, yaitu adalah sesuatu yang tersembunyi di dalam hati manusia, sesuatu yang suci, the real philosopher’s stone, emas asli dan murni, yang merupakan inti dan essensi dari seorang manusia.

Seseorang mungkin menjalankan sebuah agama namun tidak sampai pada kesadaran akan kebenaran (realization of truth). Untuk apakah guna agamanya tersebut jika dia tidak bahagia? Agama bukanlah berarti depresi dan kesedihan. Semangat keberagamaan seharusnya memberikan kebahagiaan. Tuhan adalah kebahagiaan. Dia lah kesempurnaan cinta, harmoni dan keindahan. Seseorang yang saleh dalam beragama seharusnya lebih bahagia daripada orang yang tidak beragama. Jika seseorang yang menjalankan agama tetapi selalu melankolis, agamanya tidak berguna. Mungkin kulit luarnya yang dia ambil, tapi bukan isinya. Jika belajar agama tidak berujung kepada kebahagiaan sejati, maka sama saja seperti tidak belajar agama, karena tidak membantu untuk mencapai tujuan hidup. Dunia saat ini sedang bersedih dan menderita karena hasil dari perang yang sadis. Agama yang memberikan jawaban atas kebutuhan kehidupan adalah agama yang memberikan kehidupan kepada ruh (soul), yang menerangi hati manusia dengan cahaya yang agung.

Adapun mengenai pertanyaan bagaimana proses kimia kebahagiaan ini dilaksanakan, seluruh proses dijelaskan oleh ahli kimia dalam cara yang simbolis. Mereka mengatakan bahwa emas dibuat dari mercury. Alamiahnya mercury adalah selalu bergerak, tetapi dengan proses tertentu mercury bisa dibuat diam, dan kemudian menjadi perak; dan setelah perak tersebut dilelehkan, dan esensi dari tanaman ditambahkan ke cairan perak, maka akan terbentuklah emas. Tentunya proses ini sangat global, tetapi anda akan bisa mencari penjelasan yang lebih detail dari seluruh proses. Banyak ruh (soul) yang seperti anak-anak telah mencoba membuat emas dengan mendiamkan mercury dan melelehkan perak, dan mereka telah mencoba mencari esens tanaman; tetapi mereka tersesat; dan akan lebih baik bagi mereka jika mereka bekerja untuk mencari uang saja.

Interpretasi sebenarnya dari proses ini adalah mercury itu simbol dari akal pikiran dan perasaan (mind) manusia yang selalu saja bergerak, melesat dan tak pernah diam. Apalagi ketika manusia mencoba untuk berkonsentrasi, maka dia akan menyadari bahwa akal pikiran dan perasaannya (mind) sulit untuk dikendalikan dan ditundukkan. Akal pikiran dan perasaan-perasaan itu layaknya seperti kuda; ketika dinaiki akan lebih melawan ketika sedang disimpan di kandangnya. Seperti itulah alamiahnya akal pikiran dan perasaan (mind); akan menjadi lebih melawan dan menentang ketika ada keinginan untuk mengendalikannya; seperti mercury, selalu bergerak-gerak. Untuk memudahkan, maka akal pikiran dan perasaan (mind) akan selanjutnya diterjemahkan dengan jiwa.

Ketika seseorang dengan methoda konsentrasi telah bisa menguasai jiwa, maka seseorang telah meraih step pertama dalam menempuh tugas mulia. Berdoa adalah konsentrasi, membaca adalah konsentrasi, duduk dan relax dan berfikir dalam satu subjek adalah konsentrasi. Semua seniman, pemikir dan pencipta telah mempraktekkan konsentrasi dalam suatu bentuk. Mereka telah memberikan jiwa-nya untuk satu hal, dan fokus terhadap satu objek telah melatih konsentrasi.

Ketika jiwa telah dikendalikan dan tidak lagi melawan, maka seseorang bisa memegang pikirannya akan sesuatu selama yang dia inginkan. Inilah asal mulanya fenomena. Beberapa orang menyalahgunakan kemampuan ini dan menggunakan kekuatan ini untuk menghancurkan perak sebelum menjadi emas. Perak tersebut perlu dipanaskan terlebih dahulu sehingga meleleh, oleh apa? Oleh kehangatan yang merupakan essensi murni yang terletak di hati setiap manusia, yang berasal dari cinta, toleransi, simpati, dan masih banyak lagi titik-titik lainnya, dimana setiap titik bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga. Semuanya berasal dari satu sumber, yaitu cinta. Ketika cinta menerangi hati manusia, maka perbuatan dan perkataan dan expresi orang tersebut akan menunjukkan bahwa cinta telah menghangatkan hatinya. Saat ketika hal ini terjadi maka manusia akan benar-benar hidup. Dia akan membuka kunci mata air kebahagiaan yang akan mengalir ke semua penjuru, mengairi keburukan dan ketidakharmonisan. Dia akan membuka penutup cahaya, sehingga cahayanya menyinari semua penjuru.

Setelah hati dihangatkan oleh element agung yang bernama cinta, maka langkah berikutnya adalah tanaman, yang merupakan Cinta Tuhan (Love of God). Tetapi Cinta Tuhan sendiri itu tidak cukup. Pengetahuan akan Tuhan juga dibutuhkan. Ketidak tahuan akan Tuhan lah yang membuat manusia meninggalkan agama, karena ada batas bagi kesabaran manusia. Pengetahuan akan Tuhan menguatkan kepercayaan seseorang akan Tuhan, memberikan cahaya pada kehidupannya. Semuanya menjadi jelas, bahkan setiap daun pada pohon akan menjadi lembar buku suci bagi setiap orang yang matanya telah terbuka akan pengetahuan terhadap Tuhan. Ketika essensi dari tanaman cinta telah terjatuh di dalam hati, dihangatkan oleh cinta terhadap sesama manusia, maka hati akan menjadi hati yang emas, hati yang menghendaki apa pun yang Tuhan kehendaki. Manusia tidak melihat Tuhan, tetapi manusia telah melihat Tuhan di dalam manusia, dan ketika ini terjadi, semuanya yang keluar dari manusia tersebut adalah berasal dari Tuhan itu sendiri.

Untuk seorang teman baik yang sedang mencari kebahagiaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + 11 =