Kenapa dan Kemana: Retrospeksi dan Perspektif atas Kehidupan Nonrandom Saya

Diary Ramadhan edisi 16 Ramadhan 1431H

Oleh: Titah Yudhistira

Bertahun-tahun mengajar matakuliah Teori Probabilitas, memberi kesadaran bagi saya bahwa semua yang saya alami, jika dikaitkan dengan tujuan penciptaan manusia menurut Islam, bukanlah karena kebetulan semata. Saya akui kesadaran ini bersifat subjektif, karena dengan fakta objektif yang sama seorang atheis akan dapat tiba pada kesimpulan yang berbeda 180 derajat. Kesadaran subjektif ini selalu menjadi pengingat bagi saya bahwa ada maksud tersirat, pelajaran, dan peringatan dari Allah atas setiap hal yang saya alami atau sering saya anggap sebagai ‘nasib’.

Saat bertemu/chatting dengan teman-teman lama sering saya ditanya: ‘Sekarang di mana?’. Saat saya jawab saya sedang ambil S3 marketing di Groningen (RuG), banyak yang terkaget-kaget. Marketing? Bagaimana bisa? Saya akui keheranan mereka masuk akal. Di SMA saya jurusan fisika, S1 Teknik Industri, dan S2 Sistem Manufaktur. Melihat deret/pola ini — bayangkan soal deret angka/gambar dalam tes IQ atau TPA — marketing bukanlah sebuah lanjutan yang logis. Akan lebih logis jika saya melanjutkan sekolah di bidang manajemen operasi, system engineering, engineering design, ataupun logistik/supply chain. Dan memang, bagaimana saya bisa ditempatkan di marketing adalah benar-benar ‘nasib’. Saya tidak pernah apply ke Departemen Marketing-RuG. Awalnya saya apply proposal tentang product design and development dan berkorespondensi cukup intens hampir setahun dengan seorang calon supervisor di departemen inovasi. Walaupun calon supervisor ini akhirnya menerima proposal saya, aplikasi beasiswa saya waktu itu ditolak. Tidak menyerah, saya mencoba berbagai alternatif lain, dan alhamdulillah setelah satu setengah tahun menunggu, diselingi periode vakum yang cukup lama, ujug-ujug (tiba-tiba) saya mendapat email berisi tawaran beasiswa Bernoulli dari RuG. Di luar dugaan, tawaran beasiswa ini justru datang dari departemen marketing (yang mana saya tidak pernah apply ke sana) dan sebagai konsekuensinya saya akan disupervisori oleh seorang profesor marketing (yang juga tidak pernah saya berkoresponden dengannya sebelumnya).

Pada awalnya saya menerima kenyataan ini dengan bersyukur, tetapi bisa dikatakan ‘bersyukur sambil lalu’ (dari pada tidak dapat beasiswa sama sekali, bolehlah di marketing, mungkin begitu gampangannya). Baru setelah saya menjalani program saya ini, saya sadar bahwa saya sebenarnya telah diberi karunia luar biasa oleh Allah. Departemen Marketing ternyata merupakan departemen elite di fakultas kami. (Agak susah menjelaskan mengapa saya merasa mendapat karunia luar biasa tanpa menceritakan hal-hal berikut, tanpa terkesan menyombongkan diri. Tetapi, secara logika yang berhak sombong adalah departemennya, bukan sayanya. Jadi, be assured, niatan saya menceritakan hal-hal berikut hanya untuk menjaga keutuhan/naturalitas cerita). Ini baru saya sadari ketika ada acara kumpul-kumpul mahasiswa PhD se-fakultas sering saya ditanya dari departemen mana dan siapa supervisornya. Saat saya jawab dari marketing dan supervisor saya TB secara lempeng, tidak hanya satu dua yang mengatakan kurang lebih: ‘You’re very lucky’, ‘I wish I could be in your department’, ‘Wow, you’re working under the supervision of TB?’, etc. Lama kelamaan saya risih dengan situasi ini, meskipun mungkin saja mereka cuma basa-basi. Tapi, pada akhirnya hal inilah yang menyadarkan saya bahwa saya telah diberi yang terbaik oleh Allah dan semua komentar ini saya anggap sebagai peringatan dari Allah bahwa saya harus bersyukur atas nikmat ini dengan jalan bekerja keras dalam menyelesaikan program saya dengan baik. Saya juga mulai tersadarkan bahwa ada rencana Allah bagi saya agar saya menjadi seorang ahli di area marketing science (Note: ada juga marketing management dan marketing arts)

‘Keanehan’ berikutnya terjadi saat menyelesaikan project kedua saya tentang pengukuran konsumen dalam rangka pengembangan produk baru. Setelah proses yang cukup panjang, bahkan sudah sampai keluar findings dari analisis datanya, saya dan supervisor saya berkesimpulan bahwa project ini harus di-grounded alias tidak diteruskan karena tidak prospektif untuk publikasi. Tentu saja saya cukup sedih, tapi bagaimana lagi. Ini risiko dari riset S3 bahwa suatu project dapat di-abort karena hasilnya tidak sesuai ekspektasi awal. Saya pribadi terus terang pasrah dan menghibur diri dengan berkata dalam hati ‘toh minimal saya sudah dapat berbagai ilmu baru yang kontemporer di bidang pengukuran konsumen dan tools multivariate statistics/data analysis’. Mungkin kasihan melihat betapa pasrahnya saya, supervisor saya akhirnya mengusahakan saya untuk dapat bekerja sama dengan sebuah perusahaan riset pasar terkemuka di Eropa untuk mendapatkan data bagi pengganti project kedua yang gagal tadi. Di sini saya kembali melihat bagaimana sebuah kegagalan hanya merupakan pembukaan jalan oleh Allah bagi sesuatu yang jauh lebih baik. Tidak pernah terbayang sebelumnya saya bisa berada di sebuah ruang konferensi yang ultramodern, melakukan presentasi, berdiskusi dan bertatap muka langsung dengan top manajemen perusahaan yang namanya sebelumnya hanya bisa saya baca dari majalah atau internet. Sebuah pengalaman yang sangat berharga pula bagi saya untuk dapat beberapa hari mencicipi rasanya bekerja sebagai ekspatriat di sebuah perusahaan multinasional di Eropa sehingga dari sini saya banyak mendapat pengalaman dan ide tentang bagaimana nantinya saya mungkin dapat menerapkan berbagai praktik bisnis serupa di Indonesia, tanpa mengkhianati komitmen saya sebagai dosen nantinya (bagi yang berprofesi dosen di Indonesia, mungkin bisa mafhum dengan pernyataan saya ini). Sungguh, petunjuk dan ilham dari Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Kembali ke ‘keanehan’. Mengapa saya sebut ‘keanehan’? Karena project kedua yang baru ini lebih jauh lagi menyimpang dari background pendidikan saya sebelumnya. Di project ini saya akan meninggalkan jalan besar marketing, menyusuri area yang lebih pelosok yaitu advertising. Seperti pada banyak orang, saya tadinya berpendapat bahwa advertising sekedar identik dengan membuat dan menampilkan iklan di TV atau majalah. Tapi ternyata ia tidak sesederhana itu. Advertising ada ilmu/sainsnya. Dan ilmu ini mencakup bidang komunikasi, psikologi, ergonomi, ekonomi, statistika, control theory, riset operasional, dlsb. Untuk riset saya saat ini saya berkutat dengan berbagai teori tentang recognition, memory, believe, attitude, intention, dan akhirnya behavior. Suatu hal yang tidak terbayang sebelumnya bagi saya mempelajari bagaimana human mind bekerja dan akhirnya mengejawantah pada sikap dan tindakan kita. Namun, kembali ke pendirian saya bahwa semua ini bukan kebetulan semata, saya melihat ada pesan Allah di sini. Ada rencana Allah bagi saya mengapa saya harus terjun ke bidang yang demikian spesifik dan tampak sangat jauh dari background dan niatan saya mengambil S3 sebelumnya.

Sebagaimana sering saya tulis dalam email-email saya, saya selalu berkeyakinan bahwa selain ayat-ayat dalam Al-Quran, masih banyak ayat-ayat Allah yang lain yang bersebaran di muka bumi ini, menunggu untuk dibaca dan dimanfaatkan. Termasuk ayat-ayat ini adalah ayat-ayat tentang mekanisme pikiran manusia bekerja. Jika kita percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini diciptakan oleh Allah dan berjalan dalam keteraturan (walaupun kita tidak/belum tahu apa dan bagaimana keteraturan itu) atau dengan kata lain ada hukum-hukum atau ketetapan-ketetapan tertentu bagi setiap fenomena duniawi, maka pikiran dan tindakan manusia pada dasarnya bekerja tidak random, meskipun dalam keseharian kita seringkali menjumpai pikiran atau tindakan yang dianggap ‘irrasional’ atau random (sebagai bahan bacaan ringan yang menarik dan menggugah yang mendukung premis saya ini secara empirik, silakan baca buku ‘Predictably Irrational’ karangan Dan Ariely, seorang profesor behavioral economics asal Israel). Jika premis saya benar, konsekuensinya adalah wajib kifayah hukumnya bagi kaum muslim untuk mempelajari hal (bagaimana pikiran manusia bekerja dan menghasilkan sistem believe, attitude, intention, dan behavior) ini.

Pada titik waktu ini, saya melakukan sebuah retrospeksi dengan mengajukan pertanyaan: kenapa saya tiba di posisi seperti sekarang (yang telah saya ceritakan panjang lebar di atas)? Setelah saya renungkan, jawabannya cukup mengejutkan karena jawaban ini dapat dihubungkan dengan (sebagian) pertanyaan atau kegelisahan saya yang juga sering saya sampaikan di milis deGromiest: jika Islam memang agama yang sempurna, bagaimana mungkin jutaan (atau mungkin sampai milyaran?) manusia di dunia masih tidak bisa menerima Islam dan bahkan memandang Islam secara negatif dan hina? Bagaimana jalan keluarnya?

Dari sains marketing yang saya pelajari, sebuah produk yang superb, superior, excellent, atau simply the best, jika keunggulannya tersebut dikomunikasikan dengan baik sehingga mampu membentuk kepercayaan di benak konsumen akan keunggulan-keunggulan tersebut, maka hanya masalah waktu produk tersebut akan diterima secara luas oleh pasar (teori yang sejauh ini diyakini benar dalam marketing dan bagi saya pribadi sebuah teori yang benar adalah tidak lain sebuah sunnatullah). Dalam hal ini saya berpikir, Islam adalah agama yang sempurna. Ad-din yang merupakan rahmatan lil ‘alamin. Bagaimana mungkin begitu banyak (lebih tepatnya mungkin terlalu banyak) skeptisme, sinisme, penolakan, bahkan gerakan anti-Islam di dunia? Bagi logika saya, awalnya ini adalah paradoks yang luar biasa. Namun demikian, setelah memikirkan lebih dalam saya menyadari bahwa potret kehidupan umat Islam saat ini sebagai vehicle bagi messages dienul Islam bisa jadi tidak mengkomunikasikan dengan baik messages itu. Ibaratnya mengkampanyekan produk Mercedes, tapi yang ditampilkan adalah Kancil. Akibatnya, persepsi nonmuslim terhadap Islam terdistorsi (mengutip seorang teman saya yang kristen ortodoks, “The easiest way, though not necessarily the best way, for assessing a religion is by looking at the religion believers’ deeds). Bagaimana bisa teryakinkan bahwa Islam agama cinta damai kalau hampir tiap minggu kita disuguhi serangan-serangan bom bunuh diri yang dilakukan di negara-negara Islam oleh orang-orang yang mengaku Islam, dengan korban orang-orang Islam, baik laki-laki, perempuan, dan anak-anak (cf. kejadian akhir-akhir ini di Irak, Afghanistan, dan Pakistan)? Belum lagi aksi teror bunuh diri di barat (9/11, bom London, bom Madrid, etc.) yang konon dilakukan oleh orang-orang yang mengaku muslim. Bagaimana bisa dipercaya bahwa Islam menjunjung tinggi sopan santun dan kelembutan dan mengajak kebaikan dengan hikmah kalau artikel yang berseberangan pandangan/paham/keyakinan atas suatu issue ditanggapi dengan komentar-komentar arogan, ganas, dan tak jarang sarkasme? Bagaimana nonmuslim bisa teryakinkan bahwa Islam membawa misi keadilan, perlindungan bagi kaum yang lemah, kalau penindasan atas kaum lemah masih banyak terjadi di negara-negara muslim (tidak usah jauh-jauh, mari kita introspeksi negara kita yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia)? Hukum yang memihak kaum kaya dan berkuasa, distribusi kekayaan yang tidak adil dan menyebabkan kemiskinan kronis bagi jutaan saudara muslim kita. Dan daftar ini masih bisa diperpanjang.

Jadi, saya pribadi berkeyakinan, bahwa selain di satu sisi kita umat Islam secara sistematis perlu ‘menyembuhkan’ dirinya secara internal untuk kembali ke era kejayaannya dan berusaha mencapai kondisi ideal yang dijanjikan oleh Allah, di sisi lain kita harus mengupayakan vehicle lain untuk menyebarkan pesan-pesan mulia, gambaran tentang Islam yang sebenar-benarnya, ke kalangan external. Ini adalah hal yang krusial, karena jika message ini tersampaikan dengan baik, insya Allah umat Islam tidak akan mengalami stigmatisasi, kecurigaan, dan hambatan-hambatan beribadah terutama di dunia barat. Tidak akan ada berita tentang penentangan gigih pembangunan masjid di New York atau Swiss. Tidak akan ada kampanye pengenaan pajak untuk penggunaan jilbab oleh kaum muslimah di Belgia dan Belanda. Bahkan, bukan tidak mungkin pemeluk Islam di barat akan bertambah dengan cepat, mengingat fitrah manusia, tidak peduli dia orang Asia, Eropa, atau Amerika, adalah menjadi muslim (CMIIW).

Di sinilah saya mulai berpikir bahwa Allah telah men-challenge saya untuk memikirkan tentang ‘marketing’ Islam (in fact, sudah ada artikel di majalah The Economist, Desember 2007, tentang ‘marketing’ agama-agama di dunia, terutama Kristen dan Islam; Yahudi tidak termasuk karena pada dasarnya Yahudi adalah agama ekslusif. Dalam artikel ini terlihat bagaimana kaum misionaris Kristen sudah memanfaatkan temuan-temuan dari riset-riset marketing dalam misi mereka). ‘Marketing’ dalam sesuatu yang saya rasakan sebagai ‘challenge’ Allah kepada saya ini mungkin nantinya tidak lain adalah bentuk/strategi (bukan isi, tentu saja) yang lebih kontemporer dari syiar/dakwah Islam. Mungkin Islam perlu melakukan ‘advertising’ dalam rangka meng-edukasi publik di barat, khususnya. Selanjutnya, mencari perspektif bagi saya pribadi ke depannya, mungkin di sinilah peran yang dituntut dari saya sebagai seorang muslim oleh Allah (lewat fardhu kifayah saya), demi kejayaan Islam. Lebih spesifik lagi, dalam ‘marketing’ Islam ini, saya butuh ilmu tentang bagaimana agar pesan-pesan ke-Islam-an ini bisa efektif, baik internal maupun eksternal umat Islam. Dan, saya telah dituntun oleh Allah dengan harus mempelajari psychology of advertising, sebagaimana yang dibutuhkan dalam project saya sekarang.

Akhirnya, setelah sekian panjang tulisan ini berfokus pada saya dan saya, sebagai inti dari tulisan ini, saya ingin mengajak rekan-rekan deGromiest dan diri saya pribadi untuk selalu memikirkan dan merenungkan atas semua kejadian yang kita alami. Marilah di bulan Ramadan yang suci ini kita selain ber-introspeksi, kita juga ber-retrospeksi dan memproyeksikan langkah kita ke depan. Jika kita yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi atas diri kita bukanlah karena efek random (saya rasa ini juga salah satu pilar aqidah Islam, CMIIW), penting bagi kita untuk tahu kira-kira pesan apa yang Allah sedang sampaikan kepada kita. Hal ini penting bagi kita agar kita selalu dapat mensyukuri atas apapun yang terjadi atas diri kita. Juga hal ini penting untuk menyadarkan kita tentang misi atau kewajiban (fardhu kifayah) apa yang sebenarnya sedang diembankan kepada kita, terlepas dari/in addition to misi pribadi kita untuk menuntaskan kewajiban ibadah individual (fardhu ‘ain) dan mencapai surga di akhirat kelak. Apa yang dapat kita sumbangkan dari diri kita bagi Islam sebagai suatu kesatuan umat/society (Islam jelas bukan agama yang mendukung pola hidup hermetic)? Situasi yang dihadapi setiap orang pasti berbeda-beda, tapi di balik itu semua ada sebuah rencana besar, grand design, yang maha kompleks, tapi maha sempurna, dari Allah SWT, Tuhan kita yang sebaik-baiknya Pencipta Rencana.

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 4 =