Kita, Kami, dan Revans

Pada hari rabu tanggal 27 Juli 2005, setelah sempat beberapa hari tidak bersentuhan dengan internet, saya menyempatkan diri membaca beberapa blog dan situs berita mengenai tanah air. Pendek kata, setelah membuka-buka beberapa halaman situs, mata saya mulai terasa gatal. Ternyata setelah diperhatikan, ada beberapa penggunaan bahasa Indonesia yang sedikit membuat saya “tersinggung”.

Masalah penggunaan “kami” dan “kita” memang sudah mengusik saya sejak lama. Hanya saja, “serangan” yang bertubi-tubi pada hari Rabu kemarin itu, membuat saya ingin menumpahkan kerisauan saya di tempat yang dapat dibaca oleh publik luas. Media mana lagi yang lebih cocok dari café degromiest yang ratingnya di google sudah amat tinggi ini?

Kami dan Kita

Perhatikan contoh dibawah ini :

A ingin mengungkapkan kepada B, bahwa ia dan X kemarin beli ikan Tongkol di Vismarkt.

A: “Eh, B, kemarin aku dan X ke Vismarkt lho.. kita beli ikan Tongkol masing-masing 3 ekor!
B: “Wah.. berarti aku bisa ke rumah mu ya malam ini, numpang makan.. maklum, di Gedung Kuning udah enggak ada makanan lagi”

Sebelum dibahas lebih lanjut, ada baiknya kita (!) mengulangi sedikit pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 3 SD. Dalam suatu percakapan, “Kita” digunakan untuk mengacu kepada si pembicara (orang pertama), dan si lawan bicara (orang kedua). Sedangkan “kami” digunakan untuk mengacu kepada si pembicara (orang pertama), dan orang lain (orang ketiga), selain si lawan bicara (orang kedua).

Sehingga, menurut kaidah bahasa Indonesia, A pada contoh diatas, seakan-akan mengatakan bahwa A dan B lah yang beli ikan tongkol di Vismarkt, dan bukan A dan X. Seharusnya, A menggunakan “kami”, bukan “kita”.

Dalam percakapan sehari-hari, sering sekali kesalahan macam ini terjadi. Mungkin, karena sudah terlalu sering, otak kita (!) cenderung untuk mengabaikannya. Atau bahkan, penggunaan “kita” untuk contoh diatas sudah dirasa benar, dan penggunaan “kami” malah dirasa janggal. Tetapi, bagi yang memperhatikan, tentu telinganya akan menderita gatal-gatal yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter THT.

Selama ini, sering terdengar keluhan, bahwa Bahasa Indonesia banyak menyerap kata-kata dari bahasa lain, karena Bahasa Indonesia itu tidak memiliki kosa kata yang cukup, sehingga harus dilengkapi oleh bahasa lain. Contoh diatas, telah membuktikan, bahwa keluhan tersebut tidak sepenuhnya benar. Bandingkan dengan bahasa Inggris dan bahasa Belanda yang hanya punya “we” dan “wij”, sementara bahasa Indonesia punya “kami” dan “kita”. Bukankah dalam hal ini bahasa kita lebih kaya?

Revans

Penggunaan kata serapan, dalam hal memang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, memang dapat diterima, atau malah dianjurkan. Akan tetapi, apabila diperhatikan, banyak juga kata serapan yang seharusnya tidak perlu diserap, karena padanan katanya sudah terdapat dalam Bahasa Indonesia.

Pada hari yang sama, hari Rabu kemarin, di salah satu rubrik olahraga situs berita dari tanah air, saya menjumpai kata “revans”. Ini juga bukan yang pertama kali kata ini saya jumpai. Namun, kali ini karena dijumpai di salah satu situs berita yang menurut beberapa informan diakses sekian ratus ribu kali perharinya, saya menjadi amat prihatin. Penggunaan “revans” pada situs itu adalah kira-kira sebagai berikut:
“Dalam olahraga X, A ingin revans terhadap B”.

Setelah beritanya dibaca, ternyata yang dimaksud oleh si penulis berita dengan “revans” adalah “balas dendam”. Apakah begitu nistanya bahasa Indonesia sehingga si penulis harus menggunakan “revans”? atau apakah tujuannya agar pembaca situs itu tahu, bahwa si penulis berita sudah mengerti bagaimana cara menggunakan kata “revenge” dalam bahasa Inggris?


Kemalasan berbahasa Indonesia yang baik dan benar (bukan propaganda orba ya..) akhir-akhir ini sema(ng)kin memprihatinkan. Makin banyak kosa kata bahasa kita hilang ditelan bumi, karena sudah tidak digunakan lagi, diganti dengan kata lain, dan dari bahasa lain. Di lain pihak, kekayaan bahasa kita makin dipermiskin, bahwa walaupun sedianya ada “kita” dan “kami”, saat ini secara perlahan-lahan “kami” sedang dalam proses pengikisan dari kosa kata bahasa Indonesia.

Dengan tetap chusnudzan, saya ingin berkata bahwa mungkin, program pengajaran bahasa Inggris di tanah air sudah sedemikian hebatnya, sehingga para pemakai bahasa Indonesia sudah mulai lupa dengan bahasa ibunya (English disease – mulai mewabah di Belanda), , dan siap “Go International”. Tetapi sepertinya, saya belum bisa berkata demikian. Pejabat negara bagian pariwisata saja, bahasa inggrisnya masih “belepotan”. Masa sudah lupa bahasa Indonesia?

Repot amat sih sama bahasa Indonesia? So What Gitu Lho!!?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 + eighteen =