Kunjungan deGromiest ke “Moskee An-Noer” Hoogezand, Groningen

Groningen, 2017. Ada yang berbeda dengan kajian tafsir rutin  deGromiest pekan lalu. Kajian tafsir yang biasanya rutin dilaksanakan setiap hari Ahad, pada 19 Maret 2017 yang lalu deGromiest berkesempatan untuk bertandang ke Mesjid An-Noer Hoogezand sekaligus mengadakan kajian tafsir rutin. Salah satu keunikan dan daya tarik Masjid An-Noer bagi pelajar-pelajar Muslim Indonesia adalah jamaah dari mesjid ini yang sebagian besar terdiri atas warga muslim keturunan Jawa-Suriname yang tinggal di Hoogezand. Banyak dari jemaah yang masih fasih berbahasa Jawa bahkan Indonesia. Hoogezand sendiri adalah nama sebuah desa yang berada di timur laut kota Groningen. Desa ini dapat ditempuh dengan menggunakan bus dan kereta. Hanya memakan waktu tidak lebih dari 15 menit dari Centraal Station Groningen menuju stasiun terdekat masjid An-Noer dengan menggunakan kereta, dan dari stasiun ke masjid dengan berjalan kaki kurang dari 10 menit.

Bangunan masjid An-Noer ini tidak seperti bangunan masjid pada umumnya yang sering kita temui di Indonesia. Tak ada kubah, ataupun menara penanda mesjid. Bentuk bangunan masjid tampak dari luar hanya seperti bentuk bangunan gedung pada umumnya. Hanya terdapat papan penanda di atas pintu utama bertuliskan “Moskee An-Noer Hoogezand” sebagai penanda. Bangunan Masjid An-Noer merupakan bangunan bekas sekolah yang kondisinya masih sangat bagus yang kemudian diakuisisi oleh warga muslim Jawa-Suriname dan digunakan sebagai sarana ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya. Selain ruangan utama mesjid yang digunakan oleh jamaah pria untuk sholat berjamaah, mesjid ini juga menyediakan ruangan khusus untuk Jemaah wanita dan juga ruangan aula yang biasa digunakan untuk belajar mengaji bagi para jemaah.

Kegiatan kajian tafsir dan silaturahmi dimulai pukul 11:00 siang waktu setempat dan dihadiri oleh sekitar 23 warga muslim Indonesia yang sebagian besar adalah mahasiswa Indonesia beserta keluarga. Kegiatan dimulai dengan tadarus bersama, kemudian dilanjutkan dengan kajian tafsir dan setelah itu sholat Dzuhur berjamaah. Di saat yang bersamaan, kegiatan pengajian anak tengah pula dilaksanakan oleh sebagian komunitas muslim lain di masjid An-Noer.

Ada hal yang menarik lain dari kegiatan silaturahmi kali ini. Setiap pekan khususnya hari minggu, pengurus masjid An-Noer akan membuka “Warung Minggu” yakni warung kecil yang menyediakan berbagai makanan khas jawa-suriname. Warung ini dibuka agar sebagai sarana warga muslim sekitar Hoogezand untuk bersilaturahmi di masjid. Makanan khas jawa-suriname yang dijual ternyata hampir mirip dengan makanan khas Indonesia. Salah satu makanan yang dijual yakni tahu lontong, nasi goreng, bakmi goreng, singkong goreng dan masih banyak lagi. Selain rasanya enak harganya pun tergolong murah. Baik komunitas deGromiest maupun warga muslim jawa-suriname sangat senang dan mengapresiasi kegiatan silaturahmi seperti ini. Diharapkan di waktu mendatang kegiatan seperti ini dapat sering dilakukan demi meningkatkan ukhuwah diantara sesama muslim yang tinggal di Belanda.

“Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 4 =