Lepas Ramadan: Sudahkah Saya Bertakwa?

AlQuran-02-045

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al Quran 02:183)

Taqwa, itulah tujuan berpuasa di hari-hari yang telah ditentukan (yaitu hari-hari di bulan Ramadan, Al-Baqarah ayat 185). Bukan sehat, bukan diet,  bukan berumur panjang, bukan rezeki lancar, bukan naik haji ke Mekkah, bukan pintar, bukan cari dapat jodoh, bukan apa-apa kecuali taqwa sebagai tujuan dari berpuasa di bulan Ramadan ini.
Apa taqwa itu? Kita sudah sering mendengar dari ceramah-ceramah, bahwa taqwa itu berarti takut, takut akan Allah, takut akan siksa neraka, takut meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan laranganNya. Al Quran sendiri memberikan pengertian taqwa, setidak-tidaknya, pada permulaan surat Al Baqarah (ayat 2-5):

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa [2] (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib , yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka [3] dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. [4] Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [5]

Berbicara tentang taqwa tentu akan panjang. Tapi, untuk saat ini cukup 4 ayat di atas menjadi acuan kita saat ini.
Sekarang Ramadan sudah dipenghujung. Sudahkah kita merasakan taqwa dalam diri kita? Saya sering bertanya pada diri saya tentang hal ini. Sedikitnya ada enam perkara, sesuatu Al Baqarah 2-5 tadi, yang membuat saya resah, yaitu sebagai berikut.
Pertama beriman, sebuah keadaan diri dalam keyakinan penuh dan teguh sehingga kita tunduk dan menyerahkan jiwa kita pada iman tersebut. Kita patuh kepada apa yang dikehendaki iman. Iman adalah syarat tauhid, tanpa iman jangan pernah kita mengaku bertauhid — alias kafir. Iman sendiri menyaratkan syariat, yaitu tata-cara beribadah dan beramal. Tidak mengakui syariat berarti tidak beriman; tidak beriman jelas tidak bertauhid. Terakhir syariat menyaratkan adab.
adab n kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak: ayahnya terkenal sbg orang yg tinggi –nya.
(KBBI Daring)
Pertanyaannya, setelah berpuasa, adakah saya beradab?
Kedua, beriman kepada yang gaib, ok, itu tidak susah. Saya yakin adanya kebenaran lain di luar kebenaran  ilmiah. Bagi saya, kebenaran terbesar adalah sunatullah, sebagian kecil dari kebenaran itu dapat dipahami otak manusia yang disebut Fisika (dari sinilah slogan fisika itu sunnatullah muncul). Di luar Fisika, masih banyak kebenaran-kebenaran lain, termasuk di antaranya ruh dan dunia gaib. Oleh sebab itu, saya tidak pernah menyangkal adanya sihir dan guna-guna. Dua ilmu ini benar tapi bukan bagian Fisika, karena itulah saya selalu menolak menjelaskan atau menerima penjelasan fenomena sihir atau guna-guna dari sisi ilmiah.
Sudah bukan rahasia lagi, secara naluri kita takut kepada jin dan hantu. Pertanyaannya, setelah berpuasa adakah yakin saya akan “la haula wala kuwwata illah billah”?
Ketiga, mendirikan salat. Bukan mengerjakan, tapi mendirikan, sebuah pilihan kata yang menurut ahli bahasa memiliki perbedaan makna. Mendirikan salat berarti mengerjakan dengan teratur, melengkapi rukun dan adabnya baik lahir (seperti bersih) atapun batin (seperti khusuk), memperhatikan apa yang dibaca, dan akhirnya komit dengan salat itu sehingga salat benar-benar dapat mencegah kita dari perbuatan munkar. Jika perangai kita buruk, maka tengoklah salat kita — begitu kira-kira pengejewantahannya dalam kehidupan kita.
Pertanyaannya, setelah berpuasa adakah saya telah mampu mendirikan shalat meskipun satu rakaat saja?
Keempat, menafkahkan sebahagian rezki. Alhamdulillah banyak badan amil zakat sekarang di Indonesia yang selalu menghimbau kita untuk berzakat dengan segala kemudahan. Sungguh keterlaluan jika kita masih tidak mau berzakat, atau spesifiknya lupa membayar zakat fitrah. Tapi, zakat tidak hanya zakat fitrah, masih ada zakat harta, zakat niaga, zakat macam-macam. Dari sejumlah rezeki yang kita dapatkan terdapat sebagian hak orang lain. Membayar zakat berarti selain menyucikan harta juga memberikan hak orang lain — dengan kata lain kita berkesempatan menjadi “kran” penyalur rezeki Allah. Zakat adalah amalan yang menakjubkan. Perintah berzakat dalam Al Quran sering disandingkan dengan perintah mendirikan salat.
Pertanyaannya, setelah berpuasa adakah saya sanggup serius menghitung rezeki untuk dikeluarkan zakatnya?
Kelimat, beriman kepada kitab (Al Quran dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya). Pengejewantahan beriman pada kitab di zaman sekarang mungkin adalah tadarus Al Quran, membaca dan mempelajari Al Quran (karena kitab-kitab sebelumnya buat apa lagi dibaca karena yang lengkapnya sudah ada). Sekedar membaca saja, alhamdulillah sering kita lakukan. Setidak-tidaknya al fathiah saat salat. Tapi mempelajarinya?
Doa khatam Quran menyebutkan,
Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadaku dengan Al Quran, dan jadikan Al Quran sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku. Ya Allah, ingatkanlah aku terhadap apa yang telah aku lupakan dari Al Quran. Ajarilah aku apa-apa yang belum aku ketahui dari Al Quran. Anugerahkanlah aku kemampuan untuk senantiasa membacanya sepanjang siang dan malam. Jadikan Al Quran hujjah bagiku, wahai Tuhan seru sekalian Alam.
The question is obvious: setelah berpuasa, adakah Al Quran menjadi pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku?
keenam dan terakhir untuk sesi ini, yakin akan adanya kehidupan akhirat. Ini jelas, tanpa tandeng aling, pertanyaan pamungkas yang membuat saya selalu merinding, setelah berpuasa, siapkah saya untuk mati?
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan untuk bertemu lagi dengan RamadanMu, sesungguhnya kami telah menyia-nyiakan waktu kami kecuali Engkau mengampuni kami.
Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa api neraka.
Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada nabi kita Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabatnya yang terpilih, serta salam yang berlimpah ruah.
Bogor,
29 Ramadan 1430

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + 5 =