Obrolan malam hari di kereta Utrecht – Groningen

Diary Ramadhan edisi 28 Ramadhan 1431H

Oleh: Teguh Sugihartono

Untuk adinda tersayang

Utrecht Centraal Station, 5 September 2010

Ono baru saja pulang dari London dan sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di Groningen. Saat ini Ono sedang berada di Utrecht Centraal Station. Jam peron sudah menunjukkan pukul 20.15. Ono pun bergegas memasuki kereta jurusan Groningen. Dia meminta dengan sopan kepada seorang penumpang pria apakah kursi di sebelahnya kosong dan apakah dia boleh duduk disitu. Pria muda tersebut mengiyakan. Nama pria tersebut adalah Peter Kralt.

Ono menyimpan ranselnya di atas tempat duduk dan membuka laptop Macbooknya.

Peter Kralt: “Kamu punya ikan yang lucu”, Peter memulai pembicaraan.

Ono: “Maaf, apa maksud anda dengan ikan?” Ono agak bingung.

Peter Kralt: “Maksudku boneka ikan yang diikat di ranselmu. Itu ikan nemo kan? The clown fish? Saya lihat ada namanya. Untuk siapakah ikan tersebut?” Ternyata Peter memperhatikan ikan tersebut dari tadi.

Ono baru menyadari ikan yang dimaksud Peter Kralt itu adalah boneka ikan nemo yang ditempeli nama di depannya.

Ono: “Oh, boneka ikan ini adalah hadiah dari kekasih saya untuk anak perempuan saya yang berumur 6 tahun, namanya Michelle. Saya baru saja dari London menemui kekasih saya.” Ono bercerita dengan terbuka, hatinya masih saja dipenuhi rasa bahagia yang berapi-api karena dia baru saja bertemu kekasihnya yang sangat dia cintai di London.

Peter Kralt: ”Oh begitu. Dimanakah kekasihmu itu, apakah dia tinggal di London?” Peter bertanya karena sedikit ingin tahu.

Ono: “Tidak. Dia baru saja tadi siang pulang kembali ke Jakarta. Dia tinggal dan bekerja disana. Dia lulusan sekolah kedokteran dan mempunyai pekerjaan bagus yang dia sukai di Jakarta.”

Peter Kralt: “Berarti kalian baru saja berpisah. Apakah kamu sedih?” Ujar Peter berempati.

Ono: “Tentu saja. Kami sangat menikmati kebersamaan kami di London. Walaupun singkat tapi saat-saat dimana aku bersamanya adalah saat-saat yang paling indah dalam hidupku. Kami banyak tertawa karena aku dan dia suka becanda dan kami memiliki banyak kesamaan, dalam hal kepercayaan, nilai-nilai kehidupan dan impian. Aku sedih karena kita harus berpisah. Aku akan merindukannya setiap hari. ”

Ketika berpisah, Ono mendapatkan surat dari kekasihnya. Ini kata-katanya dalam surat itu: “Dear kanda sayang yang semoga dirahmati Allah, thank you for your wonderful company, for being a nice friend, adventurous pal, a patience listener and terrific lover. Love always, Dinda. :x” Kata-kata dalam surat tersebut begitu dashyat sehingga membuat hati Ono selalu diliputi oleh kehangatan setiap kali Ono membaca surat itu.

“Tapi di bulan December nanti kami akan bertemu lagi. Saya akan berlibur ke Indonesia untuk bertemu dengannya.” Ono menjawab dengan antusias!

Perhatian Ono terpaku pada Macbook Pro kepunyaan Peter yang tergeletak di meja.

“Kamu juga pakai Macbook toch?” Ono merasa punya teman sesama pengguna Macbook.

Peter Kralt: “Ya, aku perlu macbook untuk sekolahku.”

“Kamu sekolah dimana?” Tanya Ono.

Peter Kralt: “Aku saat ini sekolah cardiologi di UMCG Groningen. Aku baru saja memulai sekolah ini 2 bulan yang lalu. Sebelumnya aku sudah selesai sekolah kedokteran di Rotterdam. Anak dan istriku tinggal di Rotterdam dan aku tiap akhir minggu pulang untuk menemui mereka. Kamu sendiri kerja dimana?”

“Saya adalah seorang aktuaris. Saya bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Kerjaan saya membuat model matematika untuk membuat proyeksi cash flow perusahaan di masa depan. Hal ini dibuat dengan menggunakan perhitungan-perhitungan yang mengkombinasikan model-model statistic, matematik dan ekonomi.” Ono coba menjelaskan.

Peter Kralt: “Kedengerannya pekerjaan yang sulit.”

“Kadang-kadang memang sulit, namun juga menyenangkan.” Ono mencoba membuat profesi aktuaris menjadi agak sedikit kurang menyeramkan.

Peter Kralt: “Komputer banyak sekali memudahkan perkerjaan kita. Contohnya adalah program ini, dia bisa memperlihatkan gambar MRI-scan.” Peter Kralt memperlihatkan gambar MRI-scan. “Ini gambar tulang punggung manusia.” Gambar-gambar MRI-scan terlihat mencengangkan.

Ono pun memperlihatkan Macbooknya. “Aku pun sangat suka dengan Macbook yang baru seminggu ini aku punyai. Dengan Macbook ini salah seorang teman baikku membuat video clip, memperlihatkan aku sedang menyanyikan “I Wanna Grow Old With You” yang dibawakan oleh Adam Sandler.” Ono memperlihatkan video tersebut ke Peter Kralt.

“Woww!! Alangkah bagusnya. Kalau boleh tau, untuk siapakah video clip ini diperuntukkan?” tanya Peter.

“Video clip ini kuperuntukkan untuk kekasihku. Ini surprise untuk dia. Setelah aku perlihatkan video ini kepadanya, aku pun meminta dia untuk menikahiku.” Jawab Ono dengan hati yang berbunga-bunga.

“Lalu, apa jawaban dia?” Peter Kralt menjadi sangat penasaran.

“Dia menjawab ya.” Ono terlihat sangat bahagia.

“Wah, selamat ya! Pantas kamu terlihat sangat senang, dari tadi senyum-senyum bahagia. Kapan kalian akan menikah?” Peter Kralt ternyata orang yang sangat perhatian dan sangat ingin tahu rupanya.

“Terima kasih. Pernikahannya masih lama, mungkin tahun depan jika semuanya berjalan lancar. Do’akan saja ya. Oh ya, apakah kamu berdo’a? atau tidak sama sekali?” Ono pun langsung menyadari bahwa tidak semua orang di Belanda suka berdo’a.

“Saya akan do’akan kalian. Saya adalah seorang kristen. Dari golongan gereformeerd.” Peter Kralt mendo’akan Ono.

“Apakah kamu gereformeerd vrijgemaakt?” Ono pun ingin tahu.

“Ya! Betul sekali. Kok kamu bisa tahu tentang golongan yang satu ini?” Peter jadi sedikit terkejut, tidak menyangka ada yang tahu tentang golongan kristen yang satu ini. Apalagi seorang immigrant berkulit berwarna.

“Mantan istri saya adalah seorang kristen gereformeerd vrijgemaakt, salah satu golongan yang sangat saleh dalam agama kristen di Belanda. Sedangkan saya adalah seorang muslim. Kami bercerai karena perbedaan iman diantara kami. Ada sesuatu yang kurang jika kita tidak bisa berbagi sesuatu yang sangat berharga dan sangat fundamental seperti misalnya iman. Namun hubungan kami masih sangat baik. Kami pun menjadi sahabat karib yang sangat dekat. Kami masih sering bertemu, hampir setiap hari. Rumah kami pun berdekatan. Kami masih sering melakukan aktifitas bersama-sama. Bahkan kami masih pergi berlibur bersama-sama dengan anak kami. Saya pun telah banyak sekali belajar tentang agama kristen darinya. Namun begitu saya akhirnya tetap memilih untuk mengimani agama saya, yaitu Islam. Saya telah banyak mengunjungi gereja-gereja, seperti gereja gereformeerd vrijgemaakt di bagian utara Groningen, gereja evangelie di dekat Stadspark. Saya pun mengikuti banyak sekali malam-malam diskusi dengan para missionaris kristen dan penganut-penganut kristiani lainnya. Saya punya banyak kenalan keluarga kristiani. Mereka adalah orang-orang yang sangat ramah dan mempunyai kepribadian terbaik. Saya sempat sangat dekat dengan mereka. Mereka banyak sekali membantu saya sehingga jasa-jasa mereka tidak akan pernah saya lupakan.” Ono bercerita panjang lebar.

“Lalu apa yang menyebabkan kamu akhirnya memilih untuk tetap mempercayai agama Islam dan tidak pindah ke agama Kristen? Kamu kan bertemu banyak orang kristiani yang sangat baik.” Peter ingin mengerti alasan Ono mengapa Ono tidak memilih kristen.

“Ada dua alasan yang membuat saya sulit untuk menerima agama kristen. Yang pertama adalah ajaran kristiani yang mengatakan bahwa Jesus Christus datang ke bumi untuk menebus dosa-dosa manusia. Kedua adalah ajaran kristiani yang mengatakan bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah dengan beriman kepada Jesus Christus. Saya mempercayai bahwa setiap orang bertanggung jawab akan perbuatannya sendiri. Dia sendiri yang akan menanggung akibat dari dosa-dosa yang dilakukannya, adapun orang lain tidak bisa menebusnya. Jika kita benar-benar menyesali perbuatan kita dan memohon ampunan kepada Tuhan, maka Tuhan Yang Maha Pengampun akan mengampuni dosa-dosa kita. Kemudian, saya pun tidak bisa menerima bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah jalan Jesus Christus. Saya masih mempunyai beberapa argumen lainnya, namun pada akhirnya, hati saya lah yang tidak bisa merasa nyaman jika saya berubah menjadi seorang Kristen. Saya tidak bisa membohongi hati saya sendiri. Saya telah jatuh cinta kepada Islam. Jika saya harus memilih agama berdasarkan pengikutnya maka sudah dipastikan saya akan memilih agama Kristen karena pengikut kristiani adalah orang-orang terbaik yang pernah saya temui dalam hidup saya. Orang-orang Islam masih harus belajar banyak dari mereka, termasuk saya sendiri. “

“Jika menjadi seorang Kristen adalah dengan melakukan hal-hal seperti tidak berbohong, tidak mencuri, tidak membunuh, berbuat baik kepada orang lain dan menolong sesama, maka saya siap menjadi orang Kristen. Saya tidak punya masalah akan nama atau julukan-julukan luar, itu semua hanya topeng saja. Tapi justru di dalam agama Kristen hal yang terpenting adalah mempercayai bahwa Jesus Christ adalah satu-satunya jalan keselamatan karena beliau telah menebus dosa-dosa umat manusia di muka bumi ini dengan cara mati disalib. Ini yang tidak bisa saya percayai. “

Peter Kralt termangguk-mangguk mendengar cerita Ono. Seperti yang masih penasaran, dia pun bertanya lagi. “Bagaimana hubunganmu dengan Tuhanmu?”

“Tuhanku adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Aku merasakan kehadiran-Nya dimana-mana, di dalam dirimu, di orang-oran g yang kutemui, di alam sekitar, di pohon dan daun-daunnya dan di dalam hatiku sendiri. Dalam hidup ini aku telah mengalami banyak hal. Namun jika aku telaah kembali alur perjalanan hidupku, aku merasakan betul ada tangan Tuhan dalam setiap kejadian. Dia selalu membimbingku dan melindungiku. Memberikan aku arah. Dia selalu memberikan apa yang kubutuhkan. Aku bersyukur setiap saat dan setiap detik kepada-Nya atas anugerah yang tidak terhitung nilainya yang telah Dia berikan kepadaku. Ketika aku bersama-Nya adalah saat-saat terindah dalam hidupku, tidak ada perasaan lainnya yang dapat mengalahkan perasaan indah tersebut. Perasaan ini tidak bisa dijelaskan kepada orang yang belum mengalaminya. Seperti halnya menjelaskan rasa manisnya gula kepada orang yang belum pernah merasakan manisnya gula. Tidak akan bisa karena satu-satunya cara adalah dengan merasakannya sendiri.”

Peter Kralt masih menanyakan lagi satu hal. “Jika kamu mempercayai agamamu, berarti kamu juga percaya bahwa satu-satunya agama yang paling benar adalah agamamu kan? Berarti sama saja dengan kami, umat kristiani yang mempercayai bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah Jesus Christ, yang lain adalah salah. Kami percaya bahwa yang menyelamatkan manusia bukanlah amal-amal salehnya, karena seorang manusia pada dasarnya adalah buruk dan selalu berbuat keburukan, sekuat apa pun dia berusaha untuk menjadi baik. Namun jika kita percaya kepada Jesus Christ maka kita akan selamat. Itu satu-satunya cara untuk mendapatkan keselamatan.”

“Selain muslim saya juga sedang mempelajari sufi. Di Belanda ini pesan sufi dibawakan oleh Hazrat Inayat Khan, seorang sufi muslim dari daratan India yang datang pada tahun 1910 ke barat. Sampai saat ini pesan sufi yang dibawakan beliau masih sering dipelajari oleh orang-orang di Barat, termasuk di Belanda. Salah satu pesan sufi yang dibawakan beliau adalah bahwa essensi dari agama-agama itu adalah sama. Semuanya mengandung essensi yang berasal dari Tuhan yang sama. Saya tidak mengatakan bahwa agama-agama itu semuanya sama, karena jelas berbeda. Agama yang satu mempercayai hal ini dan agama yang lain mempercayai hal yang berbeda. Tapi kalau kita mencoba melihat lebih jauh dari sekedar kulit luarnya saja, maka kita akan menemukan bahwa essensi ajaran agama itu adalah sama. Beriman kepada Tuhan dan melakukan hal yang baik di dunia ini. Jika ada orang yang bilang bahwa agamaku yang paling benar dan yang lain adalah salah maka itu adalah suatu bentuk kesombongan. Sedangkan kesombongan bukan bagian dari kebenaran.”

“Lalu jika kamu mempercayai apa yang kamu yakini itu benar, maka kebenaran itu harus berlaku juga kepada semua orang. Termasuk aku juga kan?” Peter Kralt masih saja meneruskan pertanyaannya.

“Tentu saja aku yakin apa yang aku yakini benar adanya. Setidaknya aku merasa nyaman dengan apa yang aku yakini walaupun tetap tidak menutup kemungkinan aku pun melakukan kesalahan karena aku pun hanya manusia biasa. Aku berharap Tuhan akan mengampuniku karena aku punya niat yang tulus dalam mencari-Nya dan aku berusaha sebaik mungkin berada di jalan-Nya. Tapi ada yang dinamakan kebenaran Absolut, yaitu Tuhan itu sendiri. Dan kita baru bisa tahu tentang kebenaran Absolut jika kita adalah kebenaran itu sendiri. Tapi aku bukan Tuhan, oleh karena itu aku tidak bisa bilang aku benar dan kamu salah. Lagipula itu bukan tugasku di dunia ini. Tugasku adalah mengenal diriku sendiri dan menyelam ke dalam diri, masih banyak kekurangan dalam diriku sehingga aku tidak punya hak untuk menyalahkan orang lain. Walaupun begitu, Jesus bilang di dalam kitab suci Injil: ‘Be perfect because Your Father in Heaven is Perfect!’”

“Tapi kan tidak mungkin untuk bisa menjadi sempurna? Kita hanyalah manusia biasa. Jesus adalah seorang personifikasi yang sangat sempurna, level dia begitu tinggi sedangkan kita adalah manusia yang setiap harinya bergulat dengan kesalahan. Bagaimana mungkin kita bisa mencapai kesempurnaan yang dicapai oleh Jesus?” Peter Kralt terlihat kurang setuju.

“Setidaknya setiap manusia memiliki potensi untuk mencapai kesempurnaan. Namun kebanyakan orang tidak menyadari potensi tersebut dan oleh karenanya tidak menggunakan potensinya secara optimal. Kenyataan bahwa Jesus telah menyuruh kita untuk menjadi sempurna artinya menjadi sempurna adalah sesuatu yang bisa dicapai. Setidaknya kita mencoba mendekati kesempurnaan tersebut. Manusia adalah mahluk yang di satu sisi bisa lebih rendah dari hewan karena kelakuannya, disatu sisi bisa lebih tinggi dari malaikat karena walaupun dengan segala keterbatasan hawa nafsunya manusia bisa tetap beriman dan bertakwa kepada Tuhannya. Dalam perjalanan mencapai kesempurnaan, seorang manusia harus menyelam ke dalam dirinya, mengenal dirinya secara betul-betul karena semua alam semesta ada di dalam diri. Dia akan mengenali bahwa di dalam dirinya ada ‘false self’ dan ‘true self’. Ketika dia menghancurkan semua ‘false self’ dalam dirinya, maka hanya akan tersisa ‘true self’. Baru ketika itu dia akan mengenal Tuhannya.” Ono mencoba menjelaskan.

Peter Kralt menganguk-angguk mendengarkan penjelasan Ono. Peter Kralt pun meneruskan pertanyaannya. “Ada satu pertanyaan yang banyak membuat orang menjadi tidak percaya adanya Tuhan. Jika kamu mempercayai adanya Tuhan, mengapa Tuhan membiarkan adanya penderitaan di dunia ini? Jika Tuhan itu baik maka Dia akan membantu orang-orang yang menderita. Tapi nyatanya banyak sekali orang-orang yang menderita di muka bumi ini. Apakah Tuhan menolong mereka? Tidak. Dimanakah Tuhan itu? Apakah Tuhan itu ada?”

“Ini adalah salah satu pertanyaan tersulit yang juga saya alami. Pertanyaan ini hampir saja membuatku tidak percaya Tuhan. Namun saya diselamatkan oleh-Nya. Aku pun tidak punya jawaban yang sempurna. Namun aku cukup bisa menerima dengan jawaban seperti ini. Tuhan sayang kepada semua mahluk ciptaanNya. Namun, kadang kala manusia sendiri yang berbuat kerusakan sehingga membawa penderitaan di muka bumi ini. Salah satu contoh yang bisa saya berikan. Ketika saya pulang dari Spanyol dan harus mendarat di Brussels. Saat itu sangat dingin, minus sepuluh derajat celcius. Adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk berada di luar. Tapi aku melihat seorang ibu yang masih muda dengan seorang bayi meminta-minta. Hatiku menangis melihatnya. Ingin sekali aku membawa mereka ke rumahku yang hangat. Aku punya segalanya untuk bisa merawat mereka. Namun hal ini tentu saja tidak mudah. Aku hanyalah seorang individu yang tidak bisa menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada di masyarakat. Aku akhirnya membelikan mereka roti dan buah-buahan agar mereka bisa mendapatkan gizi yang cukup. Aku pergi meninggalkan mereka sambil membawa hati yang pedih. Aku selalu ingat mereka dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan mereka. Kalau kita pikirkan, sumber daya alam di dunia ini cukup untuk memberi makan semua orang di dunia. Tapi system yang kita punyai sekarang adalah system dimana orang-orang kaya yang jumlahnya kecil hampir memiliki semua resources yang ada di dunia ini. Apa hak seorang Bill Gates mempunyai uang sebanyak 50 milyard dollar sedangkan masih banyak orang kelaparan di dunia ini. Oke, mungkin Bill Gates telah membantu banyak orang dengan uangnya, tapi masih banyak uang yang dia miliki yang bisa dia gunakan untuk membantu seluruh penduduk di satu Negara. System yang kita punyai adalah tidak adil. Manusia masih serakah. Penderitaan di dunia ini berasal dari manusia itu sendiri.”

Peter pun menyela. “Tapi kan ada penderitaan yang tidak dihasilkan oleh manusia, seperti bencana alam, contohnya tsunami di Aceh yang memakan korban sebanyak 250 ribu manusia.”

“Bencana alam adalah salah satu fenomena dimana alam menyeimbangkan dirinya sendiri. Kita melihat sesuatu dari perspektif yang kita punyai. Kita menganggap bahwa bencana alam yang membawa korban manusia adalah yang kejam. Tapi alam punya mekanisme sendiri dalam mengatur keseimbangan. Mungkin hal itu adalah salah satu cara untuk mengurangi jumlah penduduk yang sudah terlalu banyak. Apa bedanya orang yang meninggal karena bencana alam dengan orang yang meninggal di atas tempat tidurnya? Mereka tetap saja mati. Kematian adalah hal yang alamiah, yaitu merupakan suatu kejadian yang membawa kita dari satu alam ke alam lainnya. Kematian bukanlah akhir dari segalanya tapi justru merupakan awal dari kehidupan yang abadi selamanya. Kalau kita memakai analogi ayah dan anaknya. Seorang ayah tentu sangat sayang kepada anaknya. Jika dia melihat anaknya jatuh tersandung, tentu hatinya terluka. Dia ingin sekali membantu anaknya. Tapi kadang-kadang, dengan membiarkan anak tersebut terjatuh justru itu yang terbaik karena hal itu yang akan membuat si anak belajar. Sehingga lain kali anak tersebut tidak jatuh lagi. Begitu pun dengan Tuhan.

Tanpa terasa kereta pun sudah sampai di Groningen. Ternyata dua jam berlalu sangat cepat ketika ada pembicaraan yang menarik.

“Dua jam ini berlalu begitu cepat. Mungkin kita bisa melanjutkan obrolan ini di lain hari. Ini alamat email saya. Apakah kau punya email?” ujar Peter Kralt.

“Saya pun sangat menikmati obrolan kita dan saya akan sangat senang jika kita bisa melanjutkan obrolan ini. Ini almat email saya. Jangan sungkan untuk mengkontak saya.” Ono pun senang sekali bisa berkenalan dengan Peter Kralt.

Peter Kralt menanyakan satu hal lagi sebelum berpisah: “Oh ya, kapan kalian akan menikah? Dan setelah menikah akan tinggal dimana?” Ternyata Peter Kralt masih saja ingat awal pembicaraan.

“Jika semua berjalan lancar semoga tahun depan kita bisa menikah. Kita akan tinggal di Belanda. Dia bersedia untuk meninggalkan pekerjaan, keluarga dan teman-temannya untuk tinggal bersama denganku disini. Demi bersama orang yang dia cintai.”

Keesokan harinya, ketika Ono membuka email. “You have 1 new message from Peter Kralt.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − eight =