Ono dan Wati Berbicara Tentang Cinta

Diary Ramadhan: Edisi tanggal 7 Ramadhan 1430 H

Oleh: Teguh Sugihartono

Pada suatu ketika Ono bercerita kepada teman ceweknya, Wati, bahwa dia sedang jatuh cinta.

“Wati, aku mendapatkan sebuah pengalaman luar biasa” Ono bercerita kepada Wati.
“Apa?” Tanya Wati.
“Jum’at malam kemarin aku bertemu dengan seorang gadis cantik. Aku diperbolehkan untuk berkunjung ke rumahnya.” Jawab Ono. 
“Ngapain aja kalian?” Tanya Wati ingin tahu.
“Kita ngobrol, becanda, makan bersama dan saling mendengarkan cerita masing-masing.” Ono jawab.
“Siapa yang masak, trus apa yang dimasak?” Wati ingin tahu lebih jauh.
“Aku yang masak makanan utama, dia yang bikin salad Yunani.” Jawab Ono tanpa rincian lebih jauh lagi apa yang dimasak olehnya.
“Apa yang luar biasa dari acara masak-memasak itu?” Wati heran karena acaranya ternyata hanya masak-memasak.
“Perasaanku seakan mengawang-awang, aku seakan berada di dunia lain ketika aku bersamanya. Dunia yang penuh dengan keindahan. Perasaan ini tak aku rasakan jika aku bersama wanita lain.” Jawab Ono simpel.
Lalu Ono melanjutkan ceritanya.
“Setelah selesai makan, lalu kita saling bertukar lagu, aku yang pertama kali memainkan gitar sambil bernyanyi, aku mainkan lagu kesayanganku yang sempat aku pelajari ketika aku SMP. Setelah aku selesai bernyanyi, dia bilang dia suka laguku. Lalu aku pun berikan gitar kepadanya, aku bilang kepadanya, sekarang giliranmu. Kemudian dia pun mulai menyanyikan lagunya. Ketika gadis tersebut mulai memainkan gitarnya, aku amati jari-jarinya yang mungil yang sangat mahir memainkan nada-nada gitar. Ketika dia mulai bernyanyi, seakan-akan aku berada di langit ketujuh. Jiwaku bergetar. Suaranya indah, permainannya cantik. Ada sesuatu dalam hatiku yang mengatakan, inilah indahnya surga. Aku sedang di surga. Terima kasih Tuhan.”

“Perasaan itu begitu besar” Ono menyudahi ceritanya.
“Itu tandanya kamu sedang jatuh cinta No” Wati menyatakan dengan tegas.
“Oh ini bukan cinta” Ono menolak pernyataan Wati.
“Lho, kalau itu bukan cinta lalu apa dong? Jangan kamu nanti menyesal karena kamu sedang mengingkari perasaanmu sendiri” Tanya Wati yang semakin bingung.

“Aku tidak sedang mengingkari perasaanku. Maksudku, aku tahu apa yang aku rasakan, dan aku sangat menikmatinya. Tapi aku tidak ingin mereduksi apa yang aku rasakan menjadi hanya sebuah label belaka yang bernama cinta. Banyak orang mendefinisikan cinta sesuai dengan apa yang mereka definisikan sendiri. Sedangkan apa yang aku rasakan, perasaan agung dan indah ini, tak terdefinisikan hanya dengan sebuah kata sederhana, cinta. Jika aku reduksi menjadi sebuah kata cinta, maka banyak sekali embel-embel yang bisa diganduli seperti cinta gombal, cinta buaya, cinta monyet atau cinta nafsu. Tapi ini bukan rasa yang aku rasakan. Perasaan ini begitu dashyat dan aku tak berusaha untuk mengingkarinya, tapi aku hanya berusaha untuk menikmati dan mensyukuri kepada Sang Maha Pemberi yang telah memberikan rasa indah ini.”

“Tapi itu namanya cinta No” Wati tetap keras kepala.

“Aku tidak ada masalah jika kamu mau menamakan ini cinta, tapi aku sendiri tak mau mereduksinya.” Ono pun keras.

“Tapi aku melihat kalau kamu sedang berada dalam proses penolakan dan pengingkaran. Aku nggak mau kamu menyesal di hari kemudian. Apakah kamu takut? Wati ingin tau lebih jauh lagi, dia sayang kepada sahabatnya. Dia hanya ingin membantu.

“Memang ada perasaan takut dalam diri ini, tapi aku pikir ini wajar, karena perasaan takut ini ada gunanya juga. Untuk menjaga hati ini agar jangan menderita. Hati tidak suka menderita, itulah alamiahnya hati manusia, takut menderita.”

“Apa yang kamu takutkan? Wati semakin tidak mengerti.

“Aku takut cinta ini akan berakhir disini saja. Aku ingin cinta yang sebenarnya. Aku ingin cinta yang sesungguhnya. Bukan cinta-cintaan belaka. Aku ingin cinta yang selamanya. Aku ingin menikmati keindahan surga ini tak hanya detik ini saja, tapi selama aku hidup, selama-lamanya.”

“Apakah mungkin ada cinta seperti itu?” tanya Wati.

“Ada” Jawab Ono.

“Dimanakah mencarinya?”

“Di hati nurani yang paling dalam. Begitu dekat, sekaligus jauh. Begitu mudah ditemukan, sekaligus sangat sulit.

“Maksudmu?”

“Di dalam diri ini terdapat alam semesta yang sangat luas, seluas jagad raya, bahkan mungkin jauh lebih luas. Disitulah kamu akan menemukan cinta. Bukan di luar, bukan pula di gadis yang aku temui atau lelaki yang sedang kau pacari. Jika kamu mencarinya di lelaki yang engkau temui, maka dijamin engkau tidak akan menemukan cinta. Engkau akan selalu kecewa”

“Lalu apa gunanya pacar?”

“Pacar adalah teman yang membantumu mencari cinta, dalam dirimu sendiri. Pacar itu bagaikan cermin. Tempat kita berkaca.”

“Lalu apa sebenarnya perasaanmu pada gadis tersebut?” tanya Wati.

“Perasaan cinta, kalaupun tetap kau ingin namakan ini cinta baiklah akan aku gunakan sementara kata yang sangat terbatas ini, perasaan yang aku miliki ini hanyalah seperti embun dibandingkan dengan lautan Cinta-Nya. Namun embun ini asalnya dari samudra lautan. Embun ini berasal dari-Nya. Tapi jika kita berhasil mengenal embun ini, maka kita akan mengenal samudera. Karena asalnya sama. Aku percaya bahwa aku sedang diajari-Nya untuk lebih mengenal-Nya lewat perasaan yang dia berikan padaku. Aku sedang diajari oleh Sang Maha Guru. Banyak orang yang gagal dalam menemukan cinta”

“Mengapa banyak yang gagal?”

“Karena banyak yang tidak mengerti bahwa dia sedang diajari-Nya. Lihat saja bumi ini, jika semua orang telah menemukan cinta, maka bumi ini akan lebih mirip surga daripada neraka. Banyak yang salah dalam memahami cinta, cinta lebih sering direduksi menjadi pemuas hawa nafsu sex belaka, kenikmatan sementara yang dinamakan ejakulasi. Tapi itu bukan cinta yang sebenarnya. Ditambah lagi dengan kotoran-kotoran jiwa yang melekat pekat di tubuh manusia seperti kesombongan, iri, dengki, cemburu dan lain-lain, ini membuat cinta semakin sulit untuk ditemukan. Akhirnya jiwa kita tertutup rapat oleh kita sendiri.”

“Aku ingin mengenal cinta”.

“Kenalilah dahulu pemilik Cinta. Dialah yang mengurusmu semenjak kamu belum lahir. Dialah yang memberimu kehidupan, membuatmu bernafas, membuat mulutmu berbicara dan membuatmu berpikir. Dialah yang menggerakkan keinginanmu. Dialah yang membuat semua rasa dalam tubuhmu bisa kau rasakan dan kau nikmati. Dialah yang mengatur sehingga segala panca indra dalam tubuhmu bisa kau gunakan. Dia yang menuliskan garis hidupmu. Kamu hanyalah instrument-Nya. Alat-Nya. Semua ini milik-Nya. Termasuk gadis cantik itu. Dia pun milik-Nya. Oleh karena itu aku tak mau mengekang dia. Aku biarkan dia bebas mencari cintanya sendiri. Bebas seperti burung merpati. Jika dia berbahagia dengan orang lain, aku pun akan berbahagia untuknya. Perasaanku tulus. Tak ada perasaan untuk memiliki dalam diri ini, karena memang aku tak memiliki apa-apa. Bahkan tubuhku sendiri bukan milikku. Jiwaku bukan milikku. Ruhku pun bukan milikku.”

“Lalu siapa kamu?”

“Itulah tugasku dalam dunia ini, untuk mengenal diriku lebih jauh lagi. Semua rahasia alam ada di dalam diriku. Jika aku mengenal diriku sendiri, aku pun akan mengenal-Nya. Jika aku mengenal-Nya, aku akan mengerti apa itu Cinta.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − ten =