Opruiming

Diary Ramadhan : Edisi tanggal 4 Ramadhan 1430 H

Oleh: Rachmawati

Sebentar lagi musim panas akan berakhir, tergantikan musim gugur. Seperti halnya pergantian musim lainnya, akhir musim panas kali ini pun diwarnai sale besar-besaran. Kata aanbieding, opruiming, op=op, korting, 3 halen 2 betalen, dan 2 halen 1 betalen pun ramai mewarnai dinding kaca toko-toko di sekitaran shopping center. Kesempatan mendapatkan barang bagus dengan harga lebih murah? Tentu saja orang-orang jadi lebih semangat membelanjakan euro-nya.

Jika ditelaah lebih jauh, Ramadhan pun mirip seperti acara sale tersebut. Dengan mengandaikan kehidupan sebagai perniagaan antara makhluk dan khaliknya, bulan Ramadhan diwarnai opruiming pahala serta aanbieding keberkahan dalam banyak hal. Berbagai kemudahan mendapat rahmat dan ridha Allah SWT pun ditawarkan untuk mengimbangi perintah shaum yang diwajibkan pada manusia. Di sini tentu saja manusia bisa memilih untuk mengambil tawaran tersebut atau mengabaikannya.

Sebagai manusia yang tidak mau rugi, tentunya saya lebih memilih mengambil kupon sale tersebut. Kapan lagi coba? Belum tentu umur saya sampai pada Ramadhan tahun depan. Ketika rasa malas mulai melanda (karena walaupun selama bulan Ramadhan ini semua setan dibelenggu, tetap saja ada rasa malas :D), biasanya saya bertanya pada diri sendiri: mau pilih surga, atau mau pilih malas? Mengingat umur saya bukan lagi berada di daerah rentang anak SD, saya jadi malu pada diri sendiri kalo secara nyata memilih rasa malas. Apalagi kalau mengingat semangat belanja kalau melihat tanda korting atau opruiming :D. Jadi, saya pun memaksakan diri, mendikte diri sendiri untuk sebanyak-banyaknya mengambil keuntungan di bulan Ramadhan ini. Menargetkan amalan di bulan ini tentu saja tidak mudah. Saya harus menerapkan target yang realistis, tapi tidak mau juga target yang ece-ece. Kalau terlalu rendah targetnya, berarti saya tidak mengoptimalkan tawaran pahala berlimpah yang sudah jelas di depan mata. Kesannya jadi tidak sinkron dengan prinsip ekonomi yang selalu saya terapkan ketika berbelanja: dapatkan keuntungan sebanyak mungkin.

Kebetulan, di Yellow Building ini pada semangat shalat berjama’ah, tarawih bersama, bahkan sahur bersama. Alhamdulillah, rasa kangen sholat berjama’ah pun terobati. Saya juga menargetkan untuk tidak tidur lagi setelah Shubuh. Saya paksakan untuk membaca Al-Qur’an karena walaupun tidur orang yang sedang shaum itu adalah ibadah, saya ingin mengoptimalkan penggunaan kupon sale-nya. Sebagai penyemangat, saya sempatkan juga membaca terjemahannya. Kebetulan kalau terjemahannya menarik, bisa jadi alasan untuk menambah bacaan beberapa maqrah. Terkadang malu juga, saya lebih semangat menamatkan baca novel, artikel koran atau blog walking dibanding baca terjemah Al-Qur’an. Padahal kalau dibaca lebih dalam dan mencoba menghayati artinya, banyak kata-kata indah dan bermakna di situ (saya bandingkan dengan puisi atau quote-quote yang terkadang jadi sumber pencerahan saat perlu penyemangat hidup). Mengutip perkataan Umar bin Khatab, “ajarkan sastra kepada anak-anakmu agar mereka berani“, sastra memang dikenal bisa menumbuhkan kekuatan juga melembutkan hati. Membaca karya sastra seperti novel atau tulisan lainnya tentu tidak dilarang. Namun saya ingatkan diri saya sendiri, bahwa Al-Qur’an adalah bahasa sastra paling tinggi yang sudah sepantasnya dipelajari.

Untuk melawan rasa kantuk setelah Shubuh, saya membiasakan diri olahraga, walaupun hanya sebatas senam, skipping, atau sit up beberapa kali. Kalo ada pepatah mengatakan “tidak perlu menunggu tua dulu untuk rajin beribadah”, barangkali memang “tidak perlu menunggu berlemak dulu untuk mulai merutinkan olah raga. Saya pun ingat bahwa hari yang baik itu diawali dengan senyum dan menjaga wudhu. Kali ini sebagai bonus saya tambahkan, lebih baik lagi kalo wudhunya dipakai untuk shalat Dhuha. Jika orang Belanda menyempatkan coffee break di pagi hari, maka tidak ada salahnya untuk mengalokasikan waktu lima menit untuk shalat. Faedah shalat Dhuha di antaranya adalah lancar rezeki di dunia dan dibangunkan rumah di surga. Saat masih kecil dulu, saya sangat semangat shalat Dhuha, salah satunya karena membayangkan akan punya rumah megah di surga sana, lebih megah dari rumah mainan Barbie. Untuk umur sekarang ini, tentu saja bukan Barbie lagi bandingannya, melainkan rumah beneran. Saya bayangkan, dengan konsep opruiming yang sedang saya telaah saat ini, shalat Dhuha di bulan Ramadhan akan mempermudah perolehan kredit untuk mendapatkan rumah di surga nanti. Bukan tidak mungkin kalau saya mendapat bonus bisa memilih ornamen rumah sesuka hati, atau jika kreditnya cukup bisa punya istana, bukan lagi dari kristal Swarovski, tapi bisa langsung dari berlian dan yakut (walau saya belum tau, permata yakut itu yang seperti apa? Yang jelas masih termasuk yang blink-blink lucu gitu kali ya :D).

Perlu ditekankan pula bahwa yang harus dipelihara lebih utama adalah yang wajibnya dahulu. Jika kebetulan shalat fardhunya tidak tepat waktu, saya mencoba mengompensasi itu dengan ibadah yang lain, misal dengan menambah bacaan Al-Qur’an, menambah dzikir, atau memaksakan diri membaca satu artikel keagamaan baru. Saya pun ingat betul bahwa salah satu faedah shalat sunah adalah bisa menambal cacat shalat fardhu. Saya sadar, shalat fardhu saya masih jauh dari khusyu. Jadi saya paksakan untuk sebisa mungkin mengerjakan shalat rawatibnya. Shalat tarawih tentunya menjadi bagian tak terpisahkan di bulan Ramadhan ini. Saya ingin mendapat poin lebih. Jadi saya usahakan mengerjakan shalat sunah yang lain, seperti shalat hajat misalnya, walau baru sebatas dua rakaat saja. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.

Ibadah yang baik itu bisa menumbuhkan akhlak yang baik, dan sebaliknya perbuatan yang tidak baik dapat mengikis iman yang ada. Dalam rangka mendidik dan mendewasakan diri, saya berusaha menghadirkan hati saat shalat (walaupun ini bukan perkara mudah), saat membaca Al-Qur’an, dan saat berdo’a. Yang saya tau, hikmah Ramadhan yang penuh berkah ini salah satunya adalah maqbulnya do’a. Kalau pada hari-hari biasa mungkin sebelum mencapai Arasy do’a-do’a manusia di-screen dahulu prioritasnya, barangkali di bulan Ramadhan ini do’a-do’a di-by pass dan malah masuk fast track. Saya senang bahwa pada saat berdo’a saya tidak perlu berpura-pura tegar menghadapi kehidupan, tidak perlu bersusah payah meredam emosi. Allah lebih tau kondisi saya, dan lebih mengetahui apa-apa yang terjadi, dan tentu saja lebih kuasa terhadap apa pun. Saya bisa menumpahkan apa pun uneg-uneg yang ada di kepala saya, menceritakan kerisauhan hati, dan memohon solusi. Tentunya dengan keyakinan bahwa apa pun do’a yang dikabulkan atau tidak dikabulkan, itu adalah untuk kebaikan saya sendiri.

Selalu saya ingat bahwa ketika seorang hamba membaca Al-Qur’an, ada malaikat yang menemani, mendengarkan bacaan tadi dengan penuh khidmat, sebagaimana layaknya punggawa yang khidmat ketika mendengar titah rajanya. Dari sini lantas saya pun memahami konsep maqbulnya do’a yang diucapkan setelah membaca Al-Qur’an, karena malaikat yang menjadi saksi bacaan Al-Qur’an tadi turut mengaminkan do’a. Dengan mencoba memahami keberadaan malaikat ini, saya jadi berpikir, sesungguhnya saya memang tidak pernah sendiri. Bahkan tidak ada alasan untuk sedih ketika menghadapi suatu persoalan, karena saat seorang hamba yang dicintai Allah sedang sedih hatinya, Allah menurunkan malaikat-malaikat untuk menghibur hati hamba tersebut. Bahkan, dari yang pernah saya baca, nama hamba yang dicintai Allah itu terpajang indah di kerjaan langit, di mana seluruh penduduk langit jadi mengenalnya dan turut pula mencintainya, senantiasa mendo’akan kebaikan untuknya. Pertanyaannya adalah, apakah saya termasuk hamba yang tingkah lakunya diridhai Allah? Apakah level saya termasuk hamba yang dicintai Allah?

Yang namanya berhayal, tentu saja harus sadar diri. Berhayal berhasil mendapatkan banyak keuntungan berkah Ramadhan ini tentunya juga harus dibarengi niat yang tulus serta konsistensi tinggi. Hayalan bisa saja dianggap muluk, namun saya membiasakan hati untuk menerima kemungkinan bahwa hayalan -layaknya harapan- dapat berubah menjadi do’a yang terkabulkan. Adalah suatu fakta bahwa kapan pun di mana pun, Allah melihat, mendengar, dan menyaksikan semua hal yang saya perbuat. Tak bisa ditampik kenyataan bahwa selama ini ada malaikat Raqib dan Atid di samping kanan kiri saya, yang senantiasa mencatat detail apa-apa yang saya perbuat, merunut apa-apa yang terlintas di pikiran saya, juga mendokumentasikan apa-apa yang tersimpan dalam hati saya. Saya sadar bahwa di akhirat nanti saya akan diminta pertanggungjawaban atas itu semua. Saya tahu masih banyak hal yang perlu saya perbaiki. Namun saya yakin bahwa Tuhan saya, Allah SWT, adalah Tuhan yang Maha Pengampun, Maha Pemurah, dan Maha Penyayang, yang tidak akan pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Bahkan untuk amalan yang paling kecil sekalipun, saya yakin Allah akan menggembirakan hamba-Nya dengan memberi balasan yang lebih baik.

Sungguh suatu berkah bahwa kita semua masih diberi izin memasuki hari ke-4 bulan Ramadhan ini. Bulan di mana sepuluh hari pertamanya adalah rahmat, sepuluh hari keduanya penuh dengan ampunan, serta sepuluh hari ketiganya terbebas dari api neraka. Andaikan ada agen iklan untuk mengampanyekan berkah Ramadhan di Groningen ini, barangkali bunyi iklannya adalah: Gefeliciteerd! Nog 26 dagen voordeel: supersale speciaal voor u … Opruiming en extra korting op uw favoriete artikel… Profiteer nu!

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − eleven =