Perempuan yang bersedih

Diary Ramadhan: Edisi tanggal 3 Ramadhan 1430 H
Oleh: Lia Atwa

Seorang perempuan tampak sedang kebingungan, tatapannya kosong menerawang. Ramadhan kali ini ia jalani dengan bersedih hati. Dia menghela napas cukup berat, suara dalam dirinya tak berhenti mengusik,”Ramadhan kali ini, berapa dosa yang aku ajak kesana, berapa banyak khilaf yang coba aku kikis, berapa banyak kesedihan yang coba aku sembuhkan, dan berapa banyak kemarahan, dengki, dan sakit hati yang ingin kukubur sedalam mungkin.” Hatinya terasa berat, terlalu banyak dosa yang coba dia hapuskan, sungguh tak kuat dia melihat sejarah hidupnya sebelum Ramadhan tiba. Rasa kehilangan, ketakutan, rasa bersalah, terus-menerus menghantuinya. Pakaian yang menempel padanya sudah tak putih, terlalu banyak bercak noda, warna-warni, kebanyakan suram kelam. Sungguh hal itu memalukan.

Ah itu adalah ulah setan dengan segala taktik liciknya,  benarkah? Apakah dia akan terus menyalahkan setan untuk setiap dosa, kesedihan, sesak yang terus menghimpitnya. Tapi apa mungkin itu datang dari dirinya, hati-pikiran, darah-daging, jiwa, kesatuan itulah penyebabnya, kelalaian dan kebodohan yang tak bisa dikendalikannya. Setan mungkin hanya pembisik dikala keyakinan diri terkikis, masuk mengetuk ketiadaan iman.

Suatu hari, diantara amarah, kesedihan yang sangat, disaat dosa menancapkan giginya yang tajam seperti lintah yang menghisap, perempuan tadi berkata kepada temannya, “Aku sholat, 5 kali sehari, aku tak lupa sedikitpun gerakannya. Itu kewajiban. Tapi untuk bertobat, berdoa, dan meminta sesuatu pada Allah, aku malu pada-Nya. Sungguh aku benar-benar malu.”

Pilihannya hanya dua, semakin terjerumus, mencelupkan dirinya dalam segala dosa, atau mencoba bertahan, berpegang pada dirinya sendiri tanpa harus meminta pertolongan Allah.  dia butuh kekuatan cukup besar, karena kesedihan, rasa marah, ketakutan, itu seperti penyakit yang datang tak diundang, kadang terbawa angin yang membisikinya, kadang datang dalam mimpi meneror lelap tidurnya, atau suara-suara entah darimana, seperti hantu yang katanya tak berwujud tapi terasa dan mendatangkan suasana horor, terus menghantamnya tanpa henti. Sedangkan tak ada tiang penyangga untuknya berpegang, berpeluh, menangis, hanya satu individu yang siap yang dipaksa menjalaninya.  Imannya tergores, jiwanya limbung, terhempas, kembali diping-pong, terangkat tinggi, lalu dijatuhkan seketika.

Temannya berkata, “kau terlalu sombong. Bahkan untuk berdoa kau takut dan malu. Allah tak mungkin sedangkal itu, Dia yang Maha Tahu akan setiap jengkal mahluk-Nya. Ada kalanya kita bahkan tak kuat menjalani suatu ujian, maka berpeluh kesah lah kepada-Nya, kepada Allah yang Maha memiliki hati-hati manusia, yang bisa dengan gampangnya membolak-balikan hati. Mencabut kesedihan, penyesalan, sesak yang menghimpit diri.”

Larilah dirinya ke seorang perempuan shaleh. Perempuan itu menatap tajam dirinya. Lalu dengan kelembutannya berkata. “Hidup penuh ujian, seperti ujian kenaikan kelas. Mungkin ada yang lulus, ada juga yang harus mengulang. Ini masalah menang-kalah akan ujian itu. Allah menyiapkan semua ujian itu, ujian yang bisa menguatkan moral, mental, penghargaan, rasa syukur. Ketika satu ujian selesai, ujian lain akan menanti. Tapi itulah yang membentuk karakter seseorang. Bersujudlah kepada Allah, untuk diberi kekuatan, keteguhan hati dalam menjalani setiap ujian. Karena ketika dirimu lupa, semuanya akan mudah terhempaskan. Sabar, percaya, dan bersyukur, berpeganglah pada tiga hal itu, Insya Allah hatimu akan tenang menghadapi setiap hal yang menyapa.”

Kemudian dia mencari ke tempat lain, seorang sahabat lain. Sang sahabat hanya tersenyum mendengar keluh kesahnya. Dia berkata bahwa dia tak khawatir mendengar itu, melihat lelah  seorang teman karena terus berlari mencari solusi untuk hidupnya. Siapapun pernah salah, berdosa, menjadi hina, dan disesatkan oleh kebimbangan dan kebingungan dalam mencari jawaban. Itu wajar, ucapnya kemudian. Rasakanlah semua warna hidup di dunia, sedih, senang, haru-biru, marah, benci, cinta, patah hati, luka, sesak, semua warna, karenanya seseorang bisa lebih menghargai hidup. Rasa kehilanganlah, sakit, dan semua jenis perasaan itulah yang membuatnya belajar menghargai dan mensyukuri apa yang didapatnya sekarang. Terkadang hati digelisahkan oleh semua dugaan, prasangka akan masa depan, tertarik mundur oleh sejarah dirinya, dengan semua tragedi-kejadian, kenistaan, kesenangan, itulah ketakutan akan masa depan. Tapi ingat satu hal, hidup itu penuh dengan kejutan-kejutan, bahkan disaat harapan sudah padam, mimpi sudah dikubur dalam-dalam, hidup selalu punya banyak cara untuk membuat mata kembali terbelalak, menghantam ketidaksadaran diri untuk terbangun dan berdiri.

Perempuan tadi, si pencari jawaban, merubah wajah sedih dan muramnya, mencoba tersenyum, berdamai dengan segalanya, dengan keadaan, dengan dirinya sendiri, dengan alam, dengan semua ciptaan yang berputar  dan hadir di kehidupannya. Kemudian dia bersujud, mencoba berdoa, memberanikan diri, melawan semua kesombongan, tersungkur, meminta dengan sangat kepada sang Pencipta, yang bahkan lebih dekat dari nafasnya. Dia mengawali Ramadhan kali ini dengan penuh pengharapan. Kesedihan, kemarahan, ketakutan, rasa bersalah, kehilangan, tak semudah itu terpupus hapus, itulah yang membuatnya nyata, membuatnya tersadar akan banyak rasa di dunia, ada ujian, ada rasa lelah, tapi keberpalingannya akan sosok tuhan, Allah Yang Maha Tahu, hanya membuatnya semakin terperosok lebih dalam. Tekadnya sudah bulat, ini momen yang tepat untuk membalikkan garis hidupnya, berhenti bersedih dan untuk tidak kalah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + seven =