Saat Mobil Jatuh dari Langit ke-5

Diary Ramadhan – Edisi 13 Ramadhan 1432H

Pagi itu Iskandar bersiap-siap untuk ke kampus seperti biasa. Memanaskan mobil dan membuka pintu pagar seperti biasa. Tidak ada yang luar biasa, tidak ada yang kelihatan aneh. Suasana di komplek perumahan tempat Iskandar tinggal, terlihat seperi biasa, sunyi, sepi, seolah-olah tidak ada kehidupan. Tidak ada tetangga yang kelihatan sedang ngerumpi mencuci mobil, atau membersihkan halaman. Tidak ada sesiapa kecuali petugas keamanan yang mungkin sedang khusyu’ dan tawadhu’s berbakti kepada agama, bangsa dan negara, menjalankan tugasnya, menjaga kemanan komplek.
Sudah 1 bulan Iskandar berpindah ke komplek perumahan itu, tapi dia masih belum pernah melihat sosok tetangga yang tinggal dekat dengan rumahnya, apalagi berkenalan dan beramah mesra. Walaupun sudah seminggu berpuasa, Iskandar tetap tidak melihat kemeriahan warga di kompleknya, baik saat mau berbuka puasa, tarawih, maupun sahur. Suasana di komplek itu sama seperti bulan-bulan lainnya, sunyi dan sepi.
Pagi itu, seperti biasa, setelah mengunci pintu pagar, Iskandar memundurkan mobilnya sebelum melewati portal yang terletak persis di hadapan rumahnya. Hal yang tidak biasa adalah saat dia sedang memundurkan mobilnya, tiba-tiba Iskandar menabarak sesuatu. Badannya mental ke depan, terdengar bunyi benturan dan kaca pecah.
“Wah, ada apa ini?” Iskandar bertanya di dalam hati, berasa kaget dengan apa yang baru terjadi.
Iskandar segera membuka pintu dan keluar dari mobil untuk melihat apa yang terjadi.
“Ya, Allah! Kok bisa ada mobil di sini!” Iskandar berasa kaget luar bisa karena dia baru saja menabrak sebuah mobil, besar, dan berwarna hitam. Lampu mobilnya pecah.
“Kok bisa, aku menabrak mobil sebesar ini? Saat matahari bersinar ceria?” Iskandar tidak habis pikir, seolah-olah tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Ada sebuah mobil hitam Innova yang sedang parkir di depan rumah tetangganya. Mobil hitam itu, sedang duduk diam, tidak bergerak, tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, tidak ada suara, tidak ada sedikit pun permintaan untuk ditabrak dan pagi itu, ia ditabrak oleh sebuah mobil kecil, Estillo silver. Tidak tau mobil siapa, belum pernah bertemu, belum pernah berkenalan, belum pernah bertegur sapa, tidak tau salah apa, mobil hitam Innova ditabrak oleh Estillo putih yang aneh, di pagi hari yang biasa, yang berubah menjadi luar biasa.
“Permisi…permisi…permisi” Iskandar tidak biasanya membuat keributan di depan rumah tetangganya, yang biasanya tidak ada tanda-tanda kehidupan, tidak ada orang, dan tidak ada mobil hitam itu.
“Oh, tidak!” Iskandar menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat mobil hitam itu, yang sepertinya baru saja turun dari langit ke-5 saat dia memundurkan mobilnya.
Tidak ada yang menjawab. Sunyi, sepi. Iskandar melihat ke depan, coba untuk mengkatifkan kemampuan tembus pandangnya, melihat aktivitas yang ada di dalam rumah tetangganya. Tidak berhasil, Iskandar coba mengaktifkan kemampuannya sensor panasnya untuk mendeteksi pergerakan panas. Gagal, sepertinya kemampuan yang dipertontonkan di filem-filem asing itu merupakan sebuah pembohongan publik.
Tidak ada pilihan lain, Iskandar menggunakan kemampuan satu-satunya, suaranya yang merdu untuk memanggil tuan rumah.
“Permisi…permisi..permisi” jerit Iskandar sambil menunggu dengan penuh sabar.
“Ya Pak, ada apa?” tidak lama, keluar sosok manusia, ya, seratus persen manusia. Iskandar mengkonfirmasi bahwa komplek perumahan itu didiami oleh para manusia, bukan para jin atau makhluk asing yang mempunyai kemampuan menyembunyikan pergerakan serta keahlian melakukan sesuatu secra diam, sunyi dan sepi.
“Maaf Bu, ini mobil siapa ya? Barusan saya menabrak mobil ini” kata Iskandar sambil menunjuk mobil Innova yang baru saja ditabraknya.
“Oh, itu mobil Pak Adek” Sosok manusia itu buru-buru masuk ke dalam rumah, mungkin coba memanggil Pak Adek.
“Pak Adek itu tetangga aku atau bukan ya?” Iskandar coba membayangkan sosok Pak Adek. Apakah dia mempunyai kemampuan magis, menurunkan mobil hitamnya yang besar itu, dari langit ke-5 saat Iskandar ingin memundurkan mobilnya.
“Ada apa Mas?” lamunan Iskandar tehenti, kembali ke alam nyata, melihat sesosok manusia laki-laki, tinggi dan besar, berkulit sawo matang dan memegang kunci. Iskandar sekali lagi menkonfirmasi di dalam hatinya kalau sosok yang baru dlihatnya adalah seorang manusia, dan sepertinya pemilik mobil Innova hitam yang baru saja ditabrakya.
“Maaf Pak, ini mobil Bapak ya?
“Iya” jawwabnya pendek.
”Maaf Pak, tadi saya lagi buru-buru pas mau memundurkan mobil, tidak melihat ada mobil Bapak. Tau-tau sudah ketabrak Pak!” ceritaku dengan sepenuh hati dan perasaan.
“Salah saya Pak karena tidak melihat cermin belakang. Biasanya tidak ada mobil di sini, makanya saya langsung tancap gas saat mundur. Nggak tau kalau hari ini tiba-tiba ada mobil. Tapi, memang salah saya Pak. Seharusnya saya melihat ke belakang terlebih dahulu sebelum mundur”
Iskandar coba meyakinkan Pak Adek seolah-olah mobil itu tidak ada di situ saat dia mau memundurkan mobil dan entah bagaimana, tiba-tiba mobil Pak Adek bisa bertabrakan dengan mobilnya.
“Mas tinggal di mana?”
“Di rumah sebelah Pak” Iskandar menunjukkan rumahnya, yang memang persis, seratus persen berada disebelah rumah Pak Adek, tetangga sebelah rumahnya yang mobilnya baru saja ditabrak sebentar tadi.
“Oh, belum kenalan Pak. Saya Iskandar”
“Saya Adek. Saya jarang ada di sini”
“Punten Pak, sesama tetanggan belum kenalan tau-taunya langsung mobil Bapak ditabrak”
“Tidak apa, nanti saya bawa mobil ke bengkel untuk diganti lampunya. Yang kentop juga tinggap di ketok magic” kata Pak Adek singkat.
Iskandar berasa aneh. Bukankah biasanya kalau terjadi tabrakan, pihak yang terlibat akan saling ngotot dan beragumentasi dan menjadi sebuah drama panjang dan sedikit tragis. Tapi pagi itu, di komplek perumahan itu, baru saja terjadi tabrakan mobil, dan semudah itu, secepat itu, terjadi kesepakatan di antara kedua pihak yang terlibat. Iskandar sungguh berasa aneh bin ajaib.
“Ya Allah, sungguh Kau Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” Iskandar memanjatkan puji dan syukur di dalam hatinya.
“Sekali lagi maaf Pak. Nanti bon nya diserahkan ke saya ya Pak” Iskandar coba meyakinkan Pak Adek kalau kalau dia sepenuhnya mau bertanggungjawab atas apa yang terjadi.
“Ya, tidak apa” singkat jawab Pak Adek. Sangat ringkas, tepat dan padat.
“Oh ya, sore nanti silakan buka puasa di temat saya, sekalian silaturrahmi!”
“Insya Allah Pak” Iskandar bersalaman dengan Pak Adek sebelum masuk ke mobilnya. Dengan berhati-hati, Iskandar melihat cermin belakang, melihat ada sebuah mobil hitam besar yang baru saja ditabraknya, menekan gas perlahan-lahan dan meninggalkan rumahnya dan komplek perumahan itu.
Di dalam perjalanan ke kampus, Iskandar berasa bersyukur karena akhirnya dapat berkenalan dengan tetangga sebelah rumah, walaupun perkenalan itu harus terjadi lewat tabarakan. Iskandar coba untuk melihat apa yang terjadi secara jernih. Sungguh Allah itu Maha Hebat dan Maha Mengatur segala sesuatu. Memberikan rejeki kepada hambanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Dengan terjadinya tabrakan itu, akan mendatangkan rejeki buat penjual lampu mobil, tukang ketok magic dan para tukang parkir dan yang lebih penting, Iskandar dapat berkenalan dan bersilaturrahmi dengan tetangganya. Setiap seuatu yang terjadi itu pasti ada hikmahnya. Hanya saja manusia mau mencermatinya atau tidak, menerima dengan hati yang terbuka dan berpikir secara bijaksana.
“Wah, harus berapa mobil yang kutabrak ya untuk berkenalan dengan tetangga lainnya!” Iskandar tertawa kecil, memikirkan apa yang baru saja terjadi, di hari biasa yang luar bisa; saat mobil jatuh dari langit ke-5.

Abduh Hehamahua
Bandung, 17 Agustus 2011.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + six =