Teori Konspirasi si Pangeran Setengah-berdarah

Saya ingat pemutaran film Harry Potter pertama kali, sekitar akhir tahun 2001. Saat itu saya masih di Maryland, Amerika Serikat. Tidak beberapa lama kemudian diputar The Lord of the Ring: The Fellowship of the Rings. Saya mengenal fantasi Rowling lebih dulu daripada fantasi Tolkien, jadi ketika The Fellowship of the Rings diputar, saya hanya mencibir sambil berujar, “Ah, satu lagi karya film mendompleng ketenaran karya lain.” (Ini merujuk pada pengalaman yang sudah-sudah, satu film laris akan diikuti oleh film-film sejenisnya.)

Desember 2003, beberapa hari menjelang ujian akhir Subatomic Physics. Seorang sahabat pribumi mengajak saya ke peluncuran perdana The Lord of the Rings: The Return of the King. Malam itu saya harus menjilat kembali cibiran 2 tahun yang lalu. Tidak beberapa lama 4 kitab fantasi Tolkien, The Silmarillion, The Hobbits, The Lords of the Rings, dan Unfinished Tales saya khatami – hanya bagian indeks yang tidak saya baca. *This is the greatest and the only one favorite fantasy for me*. (Eventhough I quite agree that Mahabarata is better, but for some reason I choose Tolkien.)

Bagaimana dengan Harry Potter?

Fantasi Rowling bagus, buktinya menarik balik minat baca anak-anak seluruh dunia dari ketergantungan menonton tivi. Itu berarti ceritanya menarik, dan pada kenyataannya memang menarik. Pembaca Harry Potter bisa disebut segala umur, walau saya belum pernah tahu kalau ada generasi 50-an membaca Harry Potter (berbeda dengan fantasi Tolkien yang jadi cerita sebelum bobo sampai kakek-kakek).

Popularitas Harry Potter makin melangit setelah suksesnya versi layar lebar, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone. Layar lebar kedua, Harry Potter and The Chamber of Secret, menurutku sangat mengesankan. Dan terakhir, Harry Potter and The Prizoner of Azkaban, sedikit menurun kualitasnya. Yang paling mengecewakan adalah alurnya yang tidak benar. Kalau tidak salah saya sampai marah-marah dengan seorang teman dekat gara-gara dia saya tuduh tidak menceritakan alur dengan benar – setelah dicek ternyata alur di film yang salah. *Itu lho*, adegan Harry mengeluarkan mantera mengusir Dementhor yang mengerubungi Sirius Black – saya sendiri juga sudah lupa bagian mana yang tidak benar.

Nah, kenapa saya marah-marah? Ternyata, selama ini saya adalah penikmat Harry Potter palsu. Saya gemar mendengar diskusi para penggemar Harry Potter, tanya ini-itu, kemudian menceritakan kembali ke orang lain dengan lagak yang seakan-akan sudah baca. Hehehe…

Tapi tentu saja saya tidak tergantung pada ajian menguping itu. Sebelum menguping, saya baca dulu bukunya. Bedanya, kalau penggemar Harry Potter asli membaca kata demi kata, halaman demi halaman, seakan-akan tidak mau kehilangan momen-momen penting, saya membaca buku itu hanya dalam hitungan menit.

Caranya? Cukup baca 3 bab pertama + 10 halaman terakhir. Tiga bab pertama dibaca dari kiri ke kanan, selayaknya membaca buku teks, dan sepuluh halaman terakhir dibaca dari kiri ke kanan selayaknya mebaca Al Quran. Saya jamin, inti dari cerita satu buku sudah ada di kepala anda. Kata orang padang, “Kalau bisa melakukan dengan lebih cepat dengan hasil yang sama, kenapa cari jalan yang berbelit-belit?” He he he… Sayangnya ajian itu tidak berlaku dengan untuk The Lord of the Rings dan karya Tolkien lainnya.

Nah dengan ajian itu, hari Minggu 17 Juli saya sudah menyelesaikan Harry Potter and the Half-blood Prince (yang saya terjemahkan: Harry Potter dan Pangeran Setengah-berdarah, hihihi). Hari Senin, dengan polosnya saya email beberapa teman penggemar Harry Potter untuk mendiskusikan beberapa hal, dan yang paling penting adalah teori konspirasiku terhadap pembunuhan Dumdumdum (ini cara saya mengeja nama kepala sekolah sihir Hogwart, tempat sekolah Harry Potter) yang dilakukan Snape. (Btw, Snape sejak dulu sudah menjadi idolaku. Di film juga dia cool, aduuh, ganteng dech!)

Ini dia: the Conspiration Theory

Saya berteori bahwa pembunuhan ini adalah rekayasa Dumdumdum untuk meyakinkan Voldemort (the guy who doesn’t know his name) bahwa Snape ada di pihak mereka. Peran agen ganda memang diperlukan di mana-mana, kalau tidak Sekutu tidak akan pernah menang lawan Jerman dan Jepang, atau Amerika Serikat tidak akan berhasil meruntuhkan Soviet. Teori itu berlandaskan bahwa tingginya kepercayaan yang diberikan Dumdumdum pada Snape pada buku ke-5: Order of The Phoenix (yang kalau diperhatikan alurnya mirip-mirip dengan The Fellowship of the Rings).

Namun ternyata saya mendapat amuk marah dari mereka-mereka penggemar Harry Potter. Katanya saya spoiler. Setelah saya cek di kamus, spoiler ini artinya kandidat yang tidak punya kesempatan untuk menang tapi bisa membuat kandidat yang lain tidak menang. Bisa juga artinya sesuatu atau seseorang yang membuat makanan basi. Hehe, mungkin arti ke dua lebih tepat dalam kasus ini. Saya diprotes: jangan ganggu kesenangan orang lain. Lha, kalau begitu, sama artinya saya disuruh berhenti bersenang-senang? Hihihi.

Ternyata memang ada semacam kesepakatan etika yang dibangun di antara para penggemar sejati Harry Potter: tidak boleh berdiskusi atau mendiskusikan buku terbaru di depan seseorang yang belum baca. Dan aturan ini benar-benar dipegang teguh oleh mereka.

Seseorang diantaranya memarahi saya karena tidak pernah serius kalau bercerita tentang Harry Potter. Mulai dari banyaknya kesalahejaan nama tokoh, sampai ke alur cerita yang sudah dipelintir kesana-kemari oleh saya.

Sementara bagi saya, si penggemar palsu ini, Harry Potter adalah buku untuk bersenang-senang: saya beli, saya bebas interpretasikan semena-mena saya, dan saya bebas mengemukakan pendapat. Itulah cara saya menikmat Harry Potter.

Saya jadi tergelitik untuk bertanya, saat fantasi Tolkien diterbitkan satu per satu, apakah juga seperti itu? Saya dulu penggemar dan langganan Doraemon, Dragon Ball, Kungfu Boy, Cityhunter, Tapak Sakti, dan majalah Ananda. Saya juga punya klub pecinta komik yang sama, dan kami tidak punya etika seperti itu. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang membuat perbedaan sehingga kami dulu tidak punya etika itu dan sementara generasi sekarang memilikinya?

Banyak kemungkinan terpikir: zaman yang berbeda, faktor media massa, jenis bacaan… dan salah satunya: faktor pribadi. Dari sekian banyak yang protes ke saya, tidak satupun yang datang dari fisikawan seperti saya. Teman sekantor saya malah asik-asik saja dengan ulah tersebut, walau tetap mengolok-ngolok saya yang diprotes banyak orang. (Dia juga pembaca Harry Potter dan The Lords of the Rings, saya ceritakan kejadian tersebut ke dia.)

Menarik sekali dengan etika “no spoiler” ini. Kalau untuk yang beginian kawan-kawan muda kita sudah bisa membangun dan melaksanakannya, apakah bisa dikembangkan ke etika-etika yang lain? Misalnya etika tidak menjadi plagiat di sekolah, etika tidak menyuap dan berkolusi tidak sehat, dan etika-etika yang bermanfaat untuk lebih banyak orang. Entahlah…

Yang jelas, dengan segala ketulusan hati saya minta maaf kepada semua penggemar asli Harry Potter atas ulah saya di atas. Percayalah, buku ketujuh akan jauh lebih hebat daripada buku keenam, jadi jangan membenci Harry Potter cuma gara-gara ulah spoiler ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × five =