Wajah Agama Saya

Diary Ramadhan edisi 23 Ramadhan 1431H

Oleh: Sri Pujiyanti

The purpose of religion is to benefit people, and I think that if we had one religion, after a while it would cease to benefit many people. All of these religions can make an effective contribution for the benefit of humanity. They are all designed to make the individual a happier person, and the world a better place.

-Dalai Lama-

Tadi saya membaca satu catatan (notes) di Facebook milik teman baik saya. Catatan tersebut sebenarnya lebih tepat disebut curhat ibu-ibu. Dia bercerita tentang anaknya -seorang anak laki-laki yang lembut hati dan selalu tersenyum- yang tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba datang padanya dan berkata,’Tuhan itu tidak ada. Orang-orang hanya berpura-pura.’ Kagetlah teman saya. Bertanya ada apa, yang dijawab dengan gelengan kepala anaknya. Lalu teman saya sibuk menjelaskan mengenai Tuhan pada anaknya tersebut, yang tetap disambut dengan wajah tidak percaya. Teman saya tiba-tiba merasa jadi ibu yang buruk karena bagaimana mungkin anaknya yang baru saja berusia enam tahun bisa menjadi agnostik? Tapi dia mengakui, bahwa pertanyaan yang sama juga pernah muncul pada dirinya (hanya tidak pada saat umurnya enam tahun). Dan teman saya itu berusaha untuk menghibur diri dengan menulis, ‘Anak saya akan baik-baik saja, dia adalah anak yang sangat baik dan lembut hati.’

Saya membaca catatan itu sambil membaca timeline di twitter yang masuk berseliweran. Membaca berita dari negeri tercinta sambil ngobrol tidak jelas lewat twitter dengan teman-teman saya. Membaca berita tentang FPI yang mengatakan Kapolri ngawur ketika Kapolri menyebutkan bahwa FPI layak untuk dibekukan. Membaca sikap sebuah partai yang mendukung Menteri Agama untuk membubarkan Ahmadiyah. Membaca rencana DPR RI untuk membuat gedung DPR baru dengan biaya trilyunan, lengkap dengan spa dan kolam renang (spa dan kolam renang kemudian dibatalkan ketika orang-orang ribut memprotes). Membaca berita 26 anggota DPR angkatan yang lalu yang dijadikan tersangka kasus penyuapan.

Sehari sebelumnya, saya berdiskusi dengan teman saya –juga lewat twitter- mengenai penolakan yang keras dari para tweeps (twitter people) Indonesia mengenai pemblokiran UU pornografi. Mengenai kenyataan yang bukan rahasia bahwa penduduk negeri ini merupakan pengakses situs porno yang mayoritas. Dan betapa di permukaan, semuanya serba baik dan sopan. Manusia-manusia yang berlindung di balik simbol-simbol (agama).

Tiba-tiba saya merasa capek. FPI, Ahmadiyah, korupsi, semua terjadi di Indonesia. Negara yang menurut KTP semua orangnya beragama. Negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Teman saya yang anaknya jadi agnostik itu, mengaku sudah tidak baca koran dan nonton televisi karena jiwanya kelelahan. Sulit untuk menganggap semua orang sebagai everyday angel ketika di sekitar kita berseliweran berita yang sebaliknya. Bikin pesimis dan patah hati.

Dan saya bertanya-tanya. Di negeri yang mayoritas manusianya muslim (kita juga punya kloter haji super besar setiap kali musim haji), mengapa korupsi, pornografi, kekerasan yang mengemuka? Kemana agama yang seharusnya dianut orang-orang ini? Kemana Islam yang seharusnya menjadi ‘rahmatan lil alamin’? Yang kemudian juga membuat saya tambah lelah adalah, pandangan orang-orang non Muslim -seperti di Negara kincir angin tempat saya sekarang, juga di Negara-negara lain- terhadap orang Muslim juga tidaklah terlalu baik. Islam dianggap sebagai agama yang menganjurkan kekerasan, menindas perempuan. Melihat penolakan-penolakan terhadap dibangunnya mesjid di berbagai Negara, terus terang membuat saya berpikir banyak mengenai agama sendiri. Membuat saya membolak-balikkan Quran, bertanya-tanya, apakah benar, agama saya sejahat itu? Jika Budha identik dengan kelembutan, mengapa Islam harus disandingkan dengan kekerasan? Apakah Islam memang agama yang buruk dan tidak punya efek yang baik terhadap? Negara mayoritas Muslim seperti Indonesia punya wajah bopeng dengan kemiskinan yang membuncah dimana-mana. Apakah memiliki agama (dan Tuhan) kemudian menjadi lebih penting daripada menjadi orang yang baik seperti teman saya pada anaknya, karena toh, punya agama tidak membuat seseorang menjadi orang yang baik?

Kang Jalaluddin Rakhmat (saya menyukai pemikiran beliau) pernah ditanya oleh seseorang di internet mana yang lebih baik, sholat tapi tidak baik dengan tidak sholat tapi baik. Beliau menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sungguh elegan,’Kalau dia sholat pastinya dia baik.’ Tapi kemudian si penanya kembali memaksa Kang Jalal untuk memilih dan akhirnya Kang Jalal mengatakan,’Kalau saya harus memilih, saya memilih, tidak sholat tapi baik.’

Mungkin sebagian dari kita tidak akan sepakat dengan kata-kata Kang Jalal ini. Akan tetapi yang saya lihat dari jawaban itu, sejatinya, seseorang yang beragama itu seharusnya baik. Islam itu rahmatan lil alamin, sehingga ketika kita mengaku beragama Islam, seharusnya apapun yang kita lakukan berada dalam konteks meraih surga dengan menjadi rahmatan lil alamin.

Lalu pertanyaan saya selanjutnya, ’Mengapa korupsi dimana-mana? Bukankah pemimpin-pemimpin Islam mencontohkan bahwa jabatan adalah amanah dan tidak sepantasnya memperkaya diri? Mengapa (sebagian dari) kita merasa begitu hebat sebagai mayoritas sehingga merasa punya alasan untuk memukuli dan mencerca mereka yang berbeda keyakinan dan pandangan? Bukankah Nabi yang mengajarkan,’Lakum Dinukum Waliyadin’? Bukankah Nabi juga yang mengajarkan untuk selalu bersikap lemah lembut dan santun, bersikap adil di dalam segala hal?

Saya percaya bahwa semua orang itu baik. Saya menolak pemikiran Thomas Hobbes yang mengatakan bahwa manusia itu serigala bagi sesamanya. Mungkin dahulu ketika manusia saling berebut untuk bertahan hidup kredo itu benar. Tapi saat ini, alasan apa yang bisa membenarkan kita untuk menyakiti orang lain?

Islam adalah agama penuh kasih sayang. Setiap kali saya sholat saya selalu membaca basmalah Bismillahirahmanirahim, dengan nama Allah yang Maha Kasih Maha Sayang. Allah itu Maha Kasih dan Maha Sayang, dan kita harus meniruNya. Tapi, membaca berita-berita buruk itu, pertanyaan saya kembali, mengapa? Apa yang terjadi? Salahnya dimana? Apa yang harus dilakukan? Saya belum juga menemukan jawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 1 =