Warisan Berharga

Diary Ramadhan edisi 19 Ramadhan 1431H

Oleh: Abdul Muizz Pradipto

Dari parit itu segalanya bermula. Di tahun kelima Hijriyah itu, 10 ribu pasukan tengah bergerak untuk mengepung kota Madinah. 10 ribu orang, bukan jumlah yang sedikit. Di masa itu, jumlah tersebut bisa terkategori pasukan multinasional. Di Madinah, Rasulullah SAW dan 3000 orang sahabatnya berada dalam kondisi kritis. Bergerak keluar menyongsong pasukan musuh yang berjumlah 3 kali lipat lebih, atau bertahan saja di dalam kota? Keduanya pilihan amat berisiko. Namun sahabat Salman al-Farisi memiliki ide cemerlang, suatu hal yang biasa dilakukan bangsa Persia, namun tak diketahui bangsa lain saat itu: membangun parit besar di luar kota Madinah sebagai benteng.

Kerja cepat mesti dilakukan. Pasukan musuh akan datang dalam hitungan hari. Rasulullah SAW turut bekerja siang dan malam bahu membahu bersama sahabat membangun benteng parit tersebut. Dalam pekerjaan itu, kaum muslimin terhalang oleh satu batu besar yang sangat keras. Upaya kaum muslimin untuk memecah batu itu gagal, dan mereka melapor pada Rasulullah SAW. Saat itulah kuasa Allah diperlihatkan: saat beliau memukul batu itu, nampak cahaya terang lalu diperlihatkan pada Nabi kota-kota Persia, Romawi dan Habasyah, dan Nabi mengatakan bahwa kaum muslimin akan membuka pintu kota-kota itu! Sahabat tentu saja terkesima. Bayangkan situasi saat itu: kaum muslimin tengah terkepung, di hadapan mereka ada krisis antara hidup-mati, dan Rasulullah tidak bicara short term tentang strategi kaum muslimin menghadapi pasukan besar musuh. Rasulullah justru bicara mengenai ekspansi. Kalau Romawi dan Persia yang punya peradaban besar dan tua saja akan takluk, 10 ribu orang sih kecil, dengan izin Allah…

Upaya pembebasan kota yang dikuasai Romawi ini kemudian dimulai sejak zaman khalifah Umar bin Khattab RA (sebetulnya sudah di zaman Nabi lewat ekspedisi Mu’tah, namun usaha ini belum berhasil), dan Romawi Timur baru benar-benar takluk di tahun 857 H, lebih dari 8 abad sejak peristiwa Khandaq! Konstantinopel nama ibukota Romawi Timur saat itu, dan kemudian diganti dengan “Islam Bol/Islambul” yang berarti kota Islam dan akhirnya menjadi ibukota kekhalifahan Utsmaniyan/Ottoman. Nama pahlawan itu Sultan Muhammad II, yang kita kenal dengan Muhammad al-Fatih atau Mehmed al-Fatih, Sang Pembunuh Dracula, lantaran salah satu lawan beliau saat itu adalah Pangeran Vlad Dracula III yang sangat bengis dan menginspirasi Bram Stoker membuat karakter Dracula si penghisap darah.

Pembebasan itu tentu saja istimewa. Selain karena gilang-gemilang (jalannya peperangan ini panjang kalau diikuti), usai kemenangan itu Sultan Muhammad al-Fatih juga lantas memperlakukan warga Islambul dan para pendetanya dengan baik. Gereja dibiarkan berdiri untuk beribadah umat Nasrani seperti biasa, kecuali gereja Aya Sophia yang beliau minta diubah menjadi masjid agar bisa segera ditunaikan sholat Jumat di kota itu. Tapi bukan itu yang menarik saat ini, ada lagi hal lain yang lebih istimewa: sebuah pewarisan mimpi, dan kontinuitas kerja.

Nun berabad-abad sebelumnya, kembali di jaman Rasulullah SAW, beliau pernah mengatakan, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskannya, dan sebaik-baik tentara adalah bala tentaranya.” (HR. Ahmad). Lantaran ucapan ini, sahabat Abu Ayyub al-Anshary berwasiat untuk dimakamkan di tanah terjauh yang bisa dijangkau kaum Muslimin menuju Konstantinopel. Itu terjadi di masa Khalifah Muawiyah dari Bani Umayyah. Selanjutnya, upaya pembebasan ini dilanjutkan di masa Khalifah lain dari Bani Umayyah. Lalu berlanjut di zaman Bani Abbasiyah dan Kesultanan Islam Saljuk, hingga akhirnya Bani Utsmaniyah. Di zaman kekhalifahan ini, banyak upaya penaklukan Konstantinopel dilakukan. Sedikit demi sedikit wilayah yang dikuasai Romawi jatuh, hingga akhirnya Sultan Muhammad Al-Fatih menyempurnakan usaha ayah dan para pendahulunya.

Maka kini jika kita khawatir tak ada yang bisa kita tinggalkan untuk anak cucu atau generasi yang lebih muda, mudah-mudahan kita masih bisa mewariskan mimpi. Jadi, apa gerangan mimpi kita?

Side story:

Saat masih kecil, Muhammad II ini kabarnya adalah anak yang nakal dan sulit dididik. Ayahnya, Sultan Murad II, lantaran kesibukannya dalam upaya intensif pembebasan Konstantinopel, terpaksa menitipkan pendidikan putranya itu pada seorang guru. Sayangnya, tiap guru yang didatangkan selalu berakhir mengundurkan diri lantaran bandelnya Muhammad II muda ini. Hingga akhirnya seorang guru datang. Nama syaikh ini tak begitu terkenal, walaupun kalau mau googling agak serius sedikit mungkin bisa dapat juga nama beliau ini. Syaikh ini berani bersikap sangat tegas pada sang Pangeran yang nakal, dan di saat yang sama bisa menjadi sahabat dan teladan bagi muridnya. Beliau inilah yang mengajarkan agama dan berbagai pengetahuan umum saat itu, skill kepemimpinan dan strategi perang, mengenalkan hadits Nabi SAW tentang Konstantinopel, dan yang terpenting, mendidik Muhammad II agar punya idealisme. Muhammad II akhirnya menjadi sosok yang memiliki kepribadian kuat di usia sangat muda. Beliau menggantikan ayahnya di usia 20 tahun, dan dua tahun berikutnya beliau menaklukkan Konstantinopel. Ini adalah kemenangan sang murid dan, tentu saja, keberhasilan sang pendidik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − eighteen =