Diary Ramadhan: Edisi tanggal 11 Ramadhan 1430 H

Oleh: Teguh Sugihartono

Bagaimanakah bentuk hubungan antara manusia dengan Tuhan? Bagaimana manusia mengenal Tuhan? Apakah sebagai Bapak, sebagai Ibu, sebagai Pencipta, sebagai Hakim, sebagai Pemberi Ampunan, sebagai Teman atau sebagai Kekasih? Dalam berbagai macam situasi dan kondisi yang berbeda-beda, kita berikan tempat untuk Tuhan sesuai dengan kebutuhan kita saat itu. Ketika kehidupan manusia dimainkan oleh ketidak-adilan dan tersakiti oleh ketidak-adilan itu sendiri, dia butuh Tuhan yang sempurna akan Keadilan-Nya. Seketika itu dia akan merasakan tenang dan sakitnya pun akan terobati, dia akan temukan kedamaian dalam Keadilan Tuhan. Akan tumbuh dalam hatinya rasa Keadilan dan dia melihat dunia dalam kacamata yang lain.

Ketika manusia tak punya ayah atau ibu, maka Tuhan akan menjadi Ayah atau Ibunya. Ayah dan ibu dalam dunia ini hanya mencerminkan sedikit cinta dari Sumber Cinta Yang Maha Sempurna. Ayah dan ibu memberikan cinta yang tulus kepada anak-anaknya. Tuhan memberikan Cinta-Nya yang Tulus kepada seluruh alam semesta dan jagad raya. Dan manusia akan menemukan, bahwa Tuhan Maha Pengampun, seperti orang tua kita mengampuni kekurangan kita.

Dan manusia yang melihat Tuhan sebagai Kekasih, apalagi yang dia inginkan dalam hidup ini? Hatinya terbuka akan semua keindahan, baik nuraniah maupun lahiriah. Bagi mereka, Kekasih tak pernah pergi. Selalu ada. Ketika menutup mata dan ketika membuka mata. Telinganya mendengar Suara-Nya. Matanya melihat-Nya. Tuhan menjadi kenyataan saat ini. Tuhan ada dimana-mana, di hutan, di pantai, di kampung atau di kota, di Indonesia atau di Belanda, di pasar atau di tempat kerja, di dalam rumah atau di luar rumah, di dalam kamar atau di luar kamar, dimana-mana.

Namun manusia tak akan menemukan Kekasih dalam Tuhan, sebelum komponen cinta dalam dirinya berkembang sepenuhnya. Mereka yang cinta terhadap teman-temannya dan benci terhadap musuh-musuhnya tidak menemukan Kekasih dalam Tuhan, karena mereka tidak mengenal Tuhan. Cinta Tuhan tak membeda-bedakan. Tuhan cinta semua. Apakah Tuhan hanya cinta orang Indonesia saja dan tidak cinta orang Belanda? Apakah cinta Tuhan hanya untuk orang yang percaya kepada-Nya saja? Sedangkan orang yang tidak percaya kepada-Nya tetap diurus dan diberi kehidupan. Apakah Tuhan hanya cinta orang Islam saja dan membiarkan orang Kristen tak terurus? Bahkan kepada orang yang tak mengaku beragama pun Tuhan berikan Cinta-Nya. Kepada semua mahluk di alam semesta diberikan-Nya Rahmaan dan Rahiim.

Inilah yang dinamakan dengan cinta tak bersyarat. Analogi cinta tak bersyarat bisa ditemukan pada cinta orang tua kepada anak-anaknya. Dan cinta orang tua ini hanyalah contoh kecil dari cinta Tuhan kepada mahluk-mahlukNya. Kita semua adalah anak-anakNya. Walaupun kita berulang kali melakukan kesalahan, jika kita meminta ampunan, maka Tuhan Maha Pengampun. Jika kita butuh Dia, Dia selalu ada, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri.

Apakah cinta tak bersyarat ini mudah didapat? Jawabannya: Tidak mudah. Apakah bisa dicapai? Jawabannya: Ya. Jika kita mencintai seseorang, kita ingin cinta kita berbalas. Kita ingin orang yang kita cintai membalas cinta kita. Kalau orang yang kita cintai tidak membalas cinta kita, cinta kita terhadapnya akan mulai menghilang. Apalagi jika orang yang kita cintai sama sekali cuek dan membiarkan kita, cinta yang tadinya kita miliki akan mulai perlahan-lahan luntur sampai akhirnya tak berbekas sama sekali. Dalam stadium tertinggi, cinta kita terhadap sesama seharusnya adalah cinta yang tak bersyarat. Baik terhadap kawan maupun terhadap lawan, kita senantiasa dianjurkan untuk mencintai mereka. Secara kawan dan lawan kita akan membuat diri kita menjadi lebih baik. Kita belajar baik dari kawan maupun lawan. Kawan dan lawan sama saja. Jika kita ingin belajar mendapatkan cinta tak bersyarat, cobalah amati bahwa di belakang segala sesuatu ada Dia. Dalam kawan kita ada Dia. Dalam lawan kita ada Dia. Ada Tuhan dimana-mana. Dan Tuhan sayang kepada mahluk-mahlukNya.

Mari kita coba kembangkan sepenuhnya element cinta dalam diri kita.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •