Diary Ramadhan tanggal 4 Ramadhan 1431H

Oleh : Pecinta Ayam

Gerimis turun sejak pagi hari, Ariel memandang keluar jendela. Angin dingin meresap ke sela-sela kancing baju musim panas yang dikenakannya sejak kemarin petang. “Oh brother”, pikirnya. Pandangannya kembali tertuju pada layar komputer, lembaran kosong dengan kedip kursor yang sudah bertahan lebih dari dua jam. Pikiran kosong menerawang, entah apa yang mau dituliskan. Sudah habis berlembar-lembar artikel dibaca untuk mencari ide dan membuka wawasan baru. Tangan kanannya pun lalu mengambil cangkir di sebelah layar komputer dan perlahan menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. Kopi cangkir kelima dalam tiga jam terakhir.

Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, “untunglah tadi pagi sarapan tiga piring nasi goreng, jadi belum terasa lapar”, pikirnya. “Tak mengapa, lah”, lanjutnya, “melewatkan makan siang sekaligus berlatih untuk puasa besok”. Sebenarnya, bukan karena tidak merasa lapar, tapi layar kosong dihadapannya yang lebih mengganggu pikirannya. Ariel pun merebahkan punggungnya ke sandaran kursi, melegakan. Sayup-sayup terdengar lantunan lagu kopi dangdut dari dalam tasnya, “oh, lupa mematikan iPod”, katanya. Dengan segera membuka tas dan mematikan music player yang sudah menjadi sahabat bersepedanya setiap hari. Ariel kembali duduk bersandar di kursinya, masih memandang layar kosong.

Ya, besok hari pertama puasa. “Berarti nanti malam sudah mulai bertarawih”, pikirnya. Ariel lalu melirik ke arah pintu. Nampak pohon yang sudah layu daun-daunnya, tanah di dalam pot tampak mengering. Dengan gontai mengambil botol Evian dan berjalan ke arah pintu, menuangkan sisa setengah botol air yang ada ke dalam pot dan duduk kembali di kursi dan, memandang layar halaman kosong.

Waktu berlalu dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 4.30 petang. Masih tertuju pada layar kosong dihadapannya, Ariel pun memutuskan untuk pulang lebih awal. Setelah mematikan komputer dan merapikan meja, memasukkan setumpuk manuskrip untuk dibaca di rumah. Melewati mushalla, barulah teringat kalau dirinya belum bersembahyang dzuhur. Ia pun masuk dan bersembahyang. Berseka air wudhu yang dingin, segar. Rakaat demi rakaat, perlahan Ariel menyentuhkan kening ke hamparan sajadah yang lembut. Sekian detik dilewatkan dalam sujudnya. Saat menoleh ke kanan menutup salam, pandangannya tertuju pada lembaran kertas di dinding, memantunkan untaian kata-kata.

= = = = = = = =
Hari tiada bermakna
Melewati waktu yang entah bila berakhir
Masa penantian menuju titik akhir
     Hari tiada bermakna
     Berlalu tanpa berterima kasih
     Berlari dengan kekejaman yang menusuk hati
            Hari tiada bermakna
            Bagai lembaran kosong yang tiada berarti
            Tercoreng arang mengaksara cacahan surgawi
            Tersirat garis kehidupan memilukan hati
     Hari tiada bermakna
     Menunjuk lurus menuju mati
     Membelokkan mata menarik keranda basi
Hari tiada bermakna
Bagai lembaran kosong yang tiada berarti
Hanya bisa menanti dan menanti
Hanya bisa menanti dan menanti
= = = = = = = =

Ariel memejamkan matanya sejenak, menghelas nafas dalam. Bertanya-tanya dalam hatinya, “tidak bermakna kah hari-hari ku ini ?”. Pikirannya melayang, teringat pada layar kosong yang dihadapinya sepanjang hari ini. Membandingkan hidupnya dengan lembaran kosong itu, membandingkan dengan lembaran kosong amalan yang akan diisi selama berpuasa besok. “Sungguh tidak bermakna jika lembaran itu dibiarkan kosong sepanjang sisa hidupku, sungguh merugi kalau lembaran itu tetap kosong di akhir bulan puasa nanti”, pikirnya. Ariel pun beranjak dan bergegas menuju pintu, mengenakan sepatu, mengambil tas dan jaket yang digantungkan di balik pintu mushalla. “Aku harus bergegas pulang, mempersiapkan diri untuk puasa besok. Tidak akan ku biarkan puasa ini berlalu meninggalkan lembaran kosong dalam buku kehidupanku”, kata Ariel pada dirinya sendiri, dengan penuh semangat. Ariel pun berlalu ……

Di sudut mushalla, sewujud halus memegang selembar kertas dan pena. Tersenyum menatap rupa Ariel, ditulisnya:

= = = = =
Amalan Ariel hari ini …..
….., memanfaatkan rahmat Allah dengan menggunakan akal dan fikirannya untuk belajar, menghindari kemubadziran dengan mematikan peralatan yang dia tak gunakan, berlaku sebagai tangan Allah untuk menyampaikan rejeki bagi tanaman yang ditimpa kehausan, …..
= = = = =

Sewujud halus itu pun bergumam, “Esok, Allah akan menggandakan nilai amalanmu. Semoga Allah menguatkan segala niatnya”.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •