Diary Ramadhan edisi 11 Ramadhan 1431H

Oleh: Budi Arifvianto

Ya, di tahun 2006, tepatnya seminggu setelah gempa bumi yang menggemparkan Jogja, kota tempat tinggal kami, kehidupan rumah tangga itu kami mulai. Usia kami waktu itu tergolong muda, karena kami masih terbilang fresh-graduate. Aku dan istriku baru saja menyelesaikan S1. Beberapa bulan setelah wisuda aku lalu bekerja di universitas almamaterku, sedangkan istriku masih harus menyelesaikan pendidikan profesi setelah S1-nya tamat. Kira-kira 6 bulan setelah aku bekerja, kami menikah.

Tak ubahnya seperti sepasang suami istri yang lain, kehadiran seorang anak setelah pernikahan tentu saja menjadi sebuah keinginan bagi kami. Semula kami sempat ragu dan berpendapat mungkin lebih baik menunda untuk mempunyai anak, apalagi setelah mendengar nasehat dari orang-orang di sekitar kami yang berharap aku dapat memberikan waktu untuk istriku menyelesaikan sekolahnya dulu, kemudian baru mempunyai anak. Perasaan ingin menunda punya anak itu ternyata hanya beberapa bulan saja bersemayam di hati kami. Melihat teman-teman kami yang sudah menikah dan segera mempunyai anak, rupanya kami tergiur juga. Senang rasanya bila ada seorang anak di dalam kehidupan kami. Kami memimpikan seorang anak.

Setahun usia pernikahan kami, belum juga kami mendapatkan mimpi kami itu menjadi kenyataan. Tapi, aku dan istriku bisa mengerti keadaan pada saat itu. Tugas istriku selama pendidikan profesi ternyata cukup berat. Seringkali tugas itu mengharuskannya jaga malam di rumah sakit atau pergi ke rumah sakit di luar kota. Tentu saja, selain pikirannya, fisiknya juga terkuras selama mengikuti pendidikan. Pun demikian denganku. Tahun pertama pernikahan kami, kuisi kebanyakan hari-hariku dengan mengerjakan tugas-tugas S2-ku yang cukup menyita tenaga, pikiran dan seringkali membuatku stres. Program S2-ku ternyata tidak semudah yang kukira. Dari situlah kami pahami, kecapekan dan pikiran yang sering bercengkrama dengan stres itulah yang mungkin membuat kami belum dikaruniai seorang anak.

Setahun lebih setelah menikah, akhirnya istriku berhasil menyelesaikan pendidikannya. Berarti, satu tugas sudah selesai; sebuah tugas pula untukku untuk membantu menyelesaikan sekolah istriku. Keadaan ini menurut kami sudah lebih baik daripada setahun sebelumnya. Demikian pula dengan dinamika S2 ku; sedikit demi sedikit aku telah menemukan ritme bagaimana aku harus belajar selama studiku. Saat itulah kami sudah merasa jauh lebih siap dengan mimpi kami dan berharap mimpi akan anak itu akan segera terwujud. Kami mulai intensif berkonsultasi dengan dokter obsgin.

Langkah pertama yang harus kami lakukan adalah mengikuti program pemicu ovulasi. Namun, hasilnya masih nihil. Istriku belum juga hamil. “Ah, tidak apa-apa, baru pertama, pasti ada kesempatan yang lain.” gumamku. Program itu kami ikuti lagi beberapa kali, tetapi hasilnya selalu saja masih nol persen. “Hmm… kenapa ya?” aku dan istriku sering berucap demikian.

Bulan terus berganti seiring dengan upaya kami di kala itu untuk mewujudkan mimpi hadirnya seorang anak. Rasanya masih belum putus harapan kami. Kami ikuti lagi program dari dokter obsgin kami, termasuk check-up tentang kesuburanku. Ternyata normal. Tidak ada apa-apa. Demikian juga dengan istriku. Serangkaian tes di laboratorium juga menunjukkan tidak ada masalah dengan istriku. Tidak ada gangguan apapun yang mungkin bisa menghalangi kehamilan.

Bulan Maret 2008, istriku harus terbaring di rumah sakit. Bukan karena mau melahirkan, tetapi karena operasi di salah satu organ pencernaannya. Hal ini sejenak mengistirahatkan kami untuk berlari mengejar mimpi akan seorang anak. Fokusku saat itu adalah istriku sehat kembali. Sepintas aku tersadarkan bahwa inilah jalan Alloh memudahkan aku dalam menghadapi cobaan berupa sakit yang dialami istriku, yakni dengan menunda hadirnya anak dalam kehidupan kami.

Setelah sehat kembali, kami mulai lagi menyusun mimpi kami akan seorang anak. Tahun itu, aku pun berhasil menyelesaikan S2-ku. Alhamdulillah, meski sempat terseok-seok di awal, hasilnya bisa membuatku tersenyum. Semangatku dan istriku menyeruak lagi, karena kami merasa sudah tidak ada beban yang mengharuskan kami bergulat dengan stres. Namun, ternyata usaha kami untuk mempunyai anak belum juga membuahkan hasil. Satu per satu rasa penasaran kami mulai berubah menjadi kegelisahan. Istriku apalagi. Aku bisa merasakannya. Gelisah, gundah, kadangkala minder. Seringkali istriku sering menolak jika kuajak pergi ikut reuni atau bertemu dengan teman-teman kami. Alasan yang sepele; karena biasanya mereka selalu bertanya apakah sudah hamil atau belum. Kalau dijawab belum, mereka lantas bilang “lho kok belum? Ditunda ya?”. Belum lagi kalau bertemu dengan teman-teman yang notabene umur pernikahannya lebih muda dibanding kami, tetapi sudah menggendong anak-anaknya yang lucu.

Tiga tahun usia pernikahan kami, usaha kami mewujudkan mimpi itu masih belum juga membuahkan hasil. Dalam doa kami pun tak luput ungkapan pinta kepadaNya. Tetapi, rasanya Beliau belum atau masih menunda jawaban doa-doa kami. Dokter obsgin kami pun agaknya juga sudah mulai berpikir keras. Program selanjutnya masih kami ikuti. Kami memutuskan untuk ikut program inseminasi buatan. Pikirku, mungkin inilah program ingin anak termahal menurut takaran finansial kami. Bagaimana tidak, sebagian uang tabungan kami relakan untuk program itu, sementara saat itu gajiku jarang sekali menyisakan sejumput uang untuk ditabung. Gaji istriku bekerja juga hanya cukup untuk membantuku menghadapi pengeluaran-pengeluaran yang insidentil.

Program inseminasi buatan itu dilakukan dengan sangat hati-hati, baik oleh kami maupun dokter obsgin kami. Dag-dig-dug hati kami sering berdebar menunggu hasilnya. Pada bulan yang sama, kami menunggu hasilnya, berharap istriku terlambat datang bulan dan hamil. Sehari dua hari istriku terlambat. Tetapi, di hari ketiga ternyata mengharuskan kami untuk terus bersabar menghadapinya. Belum hamil lagi. Semenjak saat itulah, kami merasa, ya sudahlah… kami merasa sudah melakukan apa yang terbaik. Apa yang kami miliki, tabungan, waktu, pikiran dan upaya sudah kami kerahkan semuanya. Tapi, kalau hasilnya memang belum, ya mau bagaimana lagi. Dokter obsgin kami sebenarnya menyarankan untuk memulai program inseminasi lagi. Tetapi waktu itu kami menolak. Selain alasan finansial, aku juga harus pergi ke luar kota untuk sebuah konferensi. Kami merasa tidak mempunyai waktu yang tepat saat itu untuk memulai program yang serupa.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kami pun larut dalam kesibukan masing-masing. Aku sibuk dengan risetku di kampus, sementara istriku dengan prakteknya di sebuah rumah sakit swasta di Jogja. Saat itu juga, aku berkutat dengan niatanku mengambil program S3, sementara istriku juga mulai tergerak untuk melamar pekerjaan di tempat yang lain. Dan ternyata kesibukan itu cukup membuat kami merasa ‘terhibur’, meskipun kadangkala kami juga sering saling bercerita senangnya bila sudah ada anak. Upayaku mencari sekolah S3 ternyata juga tidak mudah. Beberapa universitas aku daftar, termasuk departemenku di Groningen sekarang, membuatku sedikit kecewa karena tidak menerimaku. Beberapa universitas menolakku karena proposal yang kutawarkan tidak sesuai dengan calon supervisornya. Sementara, aplikasiku di salah satu universitas di Belanda dimentahkan pada seleksi untuk beasiswanya. Pun dengan istriku. Upayanya menembus menjadi pegawai kesehatan berlabel abdi negara ternyata harus melalui tahap gagal dulu. November 2009, mungkin menjadi bulan dimana kami sama-sama berjuang. Secara hampir bersamaan, istriku mengikuti tes kerja untuk yang kedua kalinya, sementara aku terbang ke Groningen mengikuti interview sebagai kandidat mahasiswa S3. Impian kami tentang anak sudah bisa kami alihkan. Doa yang kami haturkan kepadaNya pun mulai diisi dengan harapan diterima sekolah dan bekerja. Akhir tahun 2009, Alloh memberikan jawabanNya. Aku diterima sebagai mahasiswa S3 di Groningen, sementara beberapa minggu kemudian istriku mendapatkan jawaban juga atas doanya untuk diterima bekerja. Tetapi, akhirnya istriku memutuskan untuk melepas peluangnya bekerja, lalu ikut denganku ke Groningen. Hingga awal tahun 2010, kesibukan kami beralih pada persiapan keberangkatan ke Groningen yang ternyata sangat sempit waktunya. Awal bulan Maret 2010 aku sudah harus memulai proyek S3 ku.

Suatu pagi di tengah-tengah sibuknya mempersiapkan koper dan isinya, istriku berkata padaku, “Mas, aku kok terlambat ya?” “Hah, apa iya?” jawabku,”kalo begitu nanti sore kita beli alat tes kehamilan.” Keesokan harinya, istriku mencoba melakukan tes kehamilan. Dua strip. “Ini ‘kan tanda hamil..” kata kami berdua seolah tak percaya. Kami memang belum percaya. Selang beberapa hari, istriku melakukan tes lagi. Ternyata hasilnya tetap… dua strip. “Coba kita beli merek yang lain, yang paling bagus.” saranku kepada istriku untuk membeli alat tes kehamilan lagi. Cek lagi setelah beberapa hari kemudian. Dan ternyata, dua strip lagi. Pikiran kami mulai melayang lagi ke impian kami yang sudah teralihkan. “Benarkah istriku hamil?” kataku dalam hati. Di tengah perjalanan pulang dari Jakarta untuk mengambil VISA kami ke Belanda, kami memutuskan untuk pergi ke dokter obsgin lagi. Keesokan harinya, dokter obsgin kami memeriksa rahim istriku dengan USG.

Alhamdulillah, ternyata apa yang kami nantikan telah hadir, meskipun kami sudah tidak memikirkannya dalam-dalam. Setitik hitam terlihat di foto USG istriku. Dokter obsgin menunjukkan adanya titik hitam sebagai tanda adanya embrio di rahim istriku. Istriku hamil juga akhirnya. Pulang dari dokter obsgin, kami berdua seakan masih tidak percaya. Kami kabarkan berita gembira itu kepada orang tua kami semua. Tetapi di hari itulah, kami merenungi, apakah ini bentuk rasa cinta Alloh kepada kami? Ujian yang kami lalui dengan tertundanya kehadiran seorang anak ternyata kami rasakan sebagai sebuah nikmat dariNya di hari itu. Bagaimana tidak. Jika kami menoleh ke belakang, kami melihat skenario Alloh yang begitu hebat. Mungkin Alloh menunda kami mempunyai anak agar aku bisa merasakan nikmatnya bisa menyelesaikan studi S2-ku dengan lancar serta membuat riset yang akhirnya bisa menjadi modal untuk S3-ku. Istriku juga bisa merasakan nikmatnya selesai sekolah dan bisa bekerja sesuai keinginannya tanpa terganggu dahulu oleh tangisan si buah hati. Selain itu, kami bisa merasakan bagaimana indahnya hidup berdua terlebih dahulu, bisa traveling kemana-mana tanpa harus merasa terganggu mengganti popok si bayi. Kami bisa membeli dan memenuhi apa yang kami inginkan terlebih dahulu tanpa harus ada perasaan khawatir kekurangan dana untuk membeli peralatan bayi saat itu. Belum lagi, Alloh mungkin memilihkan saat yang tepat dimana anak kami nanti lahir ketika kedewasaan kami sudah hadir, kesabaran kami sudah terasah, serta pengetahuan kami sudah diniliaiNya cukup. Subhanalloh… Ya Alloh, inikah gerangan cinta dariMu kepada kami? Hari itu, Jumat, 19 Februari 2010, tepat enam bulan yang lalu, empat hari sebelum kami berangkat menuju Groningen. Hari-hari yang mengejutkan sekaligus membahagiakan.

Groningen, 19 Agustus 2010

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •