Diary Ramadhan: Edisi tanggal 6 Ramadhan 1430 H

Oleh: Teguh Sugihartono

Teman-teman, kita semua sedang dalam perjalanan, kehidupan adalah perjalanan. Tidak tepat jika dikatakan bahwa untuk menjalani perjalanan spiritual kita harus meninggalkan kedudukan kita di dunia ini. Tidak ada yang mempunyai tempat tetap dalam kehidupan ini. Kita semua berjalan, bergerak, menuju suatu tempat.

Kehidupan ini bisa kita bagi dua bagian, kehidupan nuraniah atau batiniah (dalam), dan kehidupan lahiriah atau badaniah (luar). Yang dimaksud dengan kehidupan nuraniah atau batiniah ini adalah sebuah kehidupan menuju kesempurnaan, kesempurnaan cinta, harmoni dan keindahan, dalam bahasa agama, menuju Tuhan. Kehidupan nuraniah ini tidak berarti bertolak belakang dengan kehidupan dunia, justru dengan kehidupan nuraniah ini kita akan menjalani kehidupan dunia dengan lebih sempurna.

Kehidupan dunia terbatas, kehidupan nuraniah tak terbatas.

Seseorang yang menjalani kehidupan nuraniah seakan-akan tanpa dosa, seperti layaknya anak-anak. Namun sekaligus juga sangat bijaksana. Ini menunjukkan perkembangan dalam dua sisi. Di satu sisi nurani yang mendapatkan ketenangan dan kedamaian yang luar biasa, di sisi lain akal yang mendapatkan pengetahuan yang bijaksana.

Mengapa ini bisa terjadi? Apa yang membuat mereka mempunyai keseimbangan ini? Jika mereka berdiri di hadapan Tuhannya, hati mereka penuh dengan-Nya. Jika mereka ingin belajar dari Tuhannya, mereka lupakan apa yang telah mereka pelajari dari dunia. Jika mereka sedang berada bersama Tuhannya, tidak ada lagi ke-‘aku’-an. Tidak ada lagi keterikatan.

Tujuan dari kehidupan nuraniah ini adalah agar Tuhan menjadi sebuah kenyataan, bukan lagi sekadar imajinasi belaka. Selama ini banyak yang bertanya, apakah Tuhan ada? Dimanakah Tuhan itu kalau Tuhan itu ada? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa konsep Tuhan masih abstrak dan kabur, tak tersentuh. Bagaimana mungkin akan ada pertanyaan mengenai keberadaan Tuhan jika Tuhan baginya adalah sebuah kenyataan?

Ketika nabi-nabi besar seperti nabi Isa saw dan nabi Muhammad saw turun ke muka bumi ini, bagi mereka Tuhan adalah sebuah kenyataan. Mereka menyebarkan pesan Tuhan lewat ucapan. Ucapan adalah suara, yang dikemas dalam kata-kata, dan akhirnya ditulis dalam huruf-huruf. Huruf-huruf adalah benda mati, sedangkan Tuhan Maha Hidup. Bagaimanakah bisa menerangkan Tuhan yang Maha Hidup hanya dengan huruf-huruf yang mati? Terjadi proses reduksi disini. Yang tadinya Tuhan sebagai kenyataan dalam diri nabi-nabi, sebuah kenyataan besar yang sulit untuk dijelaskan oleh kata-kata, namun mau tidak mau dengan proses verbal harus disampaikan. Disampaikannya kepada orang yang belum tentu berada dalam stadium yang sama dengan penyampai. Banyak terjadi kesalahpahaman dalam proses ini. Untuk bisa memahami secara utuh apa yang disampaikan, maka caranya adalah memiliki stadium yang sama dengan stadium penyampai. Namun kebanyakan orang tidak atau belum sampai ke stadium ini. Maka banyak orang yang sulit untuk mengerti fenomena Tuhan ini, apalagi jika mereka hanya membaca kitab suci saja, yang notabene berisi huruf-huruf.

Dengan hanya berbekal kehidupan lahiriah saja, maka Tuhan akan tetap menjadi sesuatu yang abstrak dan tak tersentuh. Dengan kehidupan nuraniahlah Tuhan akan menjelma sebagai bentuk perwujudan, realisasi dan kenyataan.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •