Diary Ramadhan edisi 10 Ramadhan 1431H

Oleh: Rahmad Mahendra

Lima belas soal mata pelajaran Kimia itu telah mereka tuntaskan di siang yang terik. Hamzah dan Iqro, dua sahabat semenjak sekolah dasar, menyelesaikan satu-satunya pekerjaan rumah di akhir pekan kali ini. Tidak seperti akhir pekan biasanya ketika setidaknya tiga dari lima mata pelajaran di hari Senin memiliki tugas, LKS, atau laporan praktikum. Belum lagi jika dihitung dengan PR untuk hari Selasa sampai Jumat pekan depannya. Pekan ini, tampaknya guru di SMA Hamzah dan Iqra bersekolah mengekang ‘nafsu’ mereka untuk memberikan setumpuk tugas untuk para siswa. Pekan pertama Ramadhan. Entah maksudnya supaya siswa punya lebih banyak waktu untuk beramal. Wallahu’alam.

“Zah, enaknya kita ngapain ya?”, Iqro memasukkan bukunya ke dalam tas. “Aye males balik nih sekarang, adek-adek aye lagi pada rame di rumah. Heboh pasti”

“Jalan-jalan yuk, Ro. Kapan lagi? Biasanya weekend tugas-tugas numpuk, cuma sempat main bola sabtu di lapangan”

“Ogah ah. Panas di luar. Bedugnya kan masih lama, Zah.” Iqro malas-malasan, malah nyender di pojok ruangan setelah mengemasi tasnya. “… kitamain game baru XBox lo aja ya, yang baru Lo beli bulan lalu.”

“Bosen ah. Jagoannya kalah mulu di stage 8. Boss nya terlalu jago deh. Sok aja atuh, kalo Lo mau maen. Gue ngenet aja deh, siapa tau ada status-status seru di Pesbuk.”

“Ah, Lo nya aja yang ga bisa maen. Sini aye ajarin.” Iqro menyalakan TV set milik Hamzah. Sejak mereka masih berseragam putih merah, Iqro telah dianggap bagian dari keluarga Hamzah sehingga Iqro tidak canggung di rumah gedongan itu.

“Babe Nyak Lo mana, Zah? Dari tadi sepi banget nih rumah?”

“Abah dan Emak lagi nengokin Mang Udin ke Karawang. Masih ingat Mang Udin ga yang dulu jadi supir Abah lima tahun lalu? Mang Udin sakit keras kabarnya”

“Innalillahi. Moga Allah memberikan kesembuhan”. Iqro melantunkan doanya, kemudian melanjutkan pertanyaan berikutnya kepada Iqro, “Kalau Vidi Aldiano?”

“Vidi Aldiano?” Hamzah yang sudah menyalakan laptop mengerutkan kening.

“Abang Lo! Dah di Indonesia kan sekarang? Lah? Kan Lo yang pernah cerita, Abang Lo suaranya mirip Vidi Aldiano kalo lagi ngaji”

“Ooo.. Kang Alif” Hamzah cengengesan sendiri. Memang dia pernah cerita seperti itu tentang abangnya yang pernah juara 2 MTQ se-DKI ketika masih mahasiswa S1 di Depok dulu. “Iya, Kang Alif dah nyampe kemaren lusa dari Groningen. Dia libur dari kerjaan PhDnya sebulan ini. Kang Alif lagi ke rumah guru SMPnya. Katanya silaturrahmi. Ada-ada aja tuh orang. Biasanya kan orang silaturrahmi pas lebaran”.

Maka dua pelajar kelas XI IPA itu pun asyik dengan aktivitas masing-masing. Iqro dengan joystick memelototkan mata ke layar monitor, mengendalikan jagoannya menaklukkan tantangan game genre action terbaru itu. Sementara Hamzah pun super serius mengklik berbagai teks dan gambar di browser-nya, menghabiskan waktu dengan plurk, twitter, dan facebook.

***

“Assalammu’alaykum” Pintu kamar Hamzah diketok dan seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahunan telah hadir di sana.

“Waalaykumsalam,” Hamzah dan Iqro hampir bersamaan menyahut. “Dah pulang, Kang Alif?”

“Baru nyampai. Di sini toh kalian. Akang kira tadi tidak ada orang di rumah, soalnya ruang tamu dan ruang tengah sepi.” Kang Alif mengambil posisi duduk di depan dipan, membuka majalah yang dipegangnya. Tapi dia tidak membaca, malah melanjutkan percakapan dengan Hamzah dan Iqro. “Kalian lagi pada ngapain?”

“Nyobain game barunya Hamzah, Bang.” Iqro menjawab dengan semangat. Dia baru saja mengalahkan boss stage 10. Iqro kembali membuktikan kalau memang dia sekelas di atas Hamzah soal main game. Hamzah tak menjawab. Dia merasa jawaban Iqro cukup mewakili bahwa intinya mereka sedang mengisi waktu kosong dengan aktivitas santai.

“Wah, Ramadhan gini sayang loh diabisin waktunya main game. Mendingan kalian tilawah.” Kang Alif mulai berceramah di hadapan adik dan teman adiknya itu.

Hamzah cepat-cepat menimpali. “Kan abis Subuh tadi, Hamzah dah tilawah, Kang. Lima halaman lagi”

Kang Alif tersenyum. “Ya, ditambah atuh, Zah. Masa lima halaman aja dah puas. Ramadhan ini kesempatan mulia untuk mengencangkan amalan, Zah. Allah telah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi ummat-Nya. Sayang kan kesempatan emas dilewatkan begitu saja. Bukan ga boleh refreshing sih, tapi coba udah berapa lama dari tadi kalian di depan layar monitor?”

Mendengar uraian Kang Alif, Iqro memencet tombol pause joy stick, menghentikan permainannya yang sebenarnya sedang seru. Dia hampir mengalahkan boss stage 11. Hamzah garuk-garuk kepala.

“Coba nih kalian lihat,” Kang Alif menyodorkan majalah yang tadi dibukanya. “Majalah Lentera pekan ini mengangkat profil yang menginsipirasi nih. Kalian pernah dengar Ummi Maktum voice?”

Hamzah dan Iqro menggeleng.

“Mereka itu LSM yang bergerak salah satunya di bidang Al Quran. Tau ga keistimewaan mereka?” Kang Alif kembali menanyakan sebuah retorika yang tak berapa lama langsung dijawab sendiri. “Mereka itu orang-orang yang diberikan ujian oleh Allah, diambil penglihatannya. Mereka tuna netra namun punya semangat untuk membaca Al Quran. Mereka juga bercita-cita mengembangkan Al Quran Braille”.

Iqro tambah khusyuk mendengarkan penjelasan Kang Alif. Hamzah yang sebenarnya malas kalau sudah mendengarkan Kang Alif berceramah pun akhirnya tak kuasa men-hibernate laptop-nya.

“Coba bandingkan mereka dengan kita. Kita seharusnya bisa leluasa membaca Al Quran, sedangkan mereka sangat terbatas inderanya…” “Baca Al Qur’an itu fadhilahnya sangat istimewa loh. Satu huruf dalam Al Qur’an dibalas pahala satu kebaikan dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Dan Alif Lam Mim itu tidak satu huruf, melainkan Alif, satu huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu huruf.”

Kang Alif mengambil posisi berdiri dan meninggalkan kamar Hamzah. Sementara Majalah Lentera itu sudah berada di tangan Iqro yang tampaknya tertarik membaca profil LSM yang diceritakan Kang Alif. Namun tak sampai dua menit, Kang Alif masuk membawa buku agendanya, membuka sebuah halaman yang di dalamnya terdapat potongan artikel berbahasa Inggris.

“Nih, ada cerita menarik lain. Artikel ini kisah tentang bocah-bocah Palestina umur sepuluh sebelas tahunan, tapi sudah hafal 30 judz Al Qur’an. Mereka yang masih belia dan hidup dalam kondisi serba sulit ini tidak hanya khatam baca Qur’an, tapi juga hafal… Kang Alif malu sama mereka. Bukannya nambah hafalan, malah sering lupa yang sudah dihafal karena jarang diulang”. Kang Alif terdiam, tapi hanya sebentar.

“Yuk, kita tilawah. Masih ada 20 menit lagi sebelum adzan Asyar. Kita manfaatkan sebaiknya waktu Ramadhan, ni’mat kelapangan dan ni’mat indera yang telah dianugerahkan-Nya. Kalian ambil wudhu dulu, kita gantian baca sambil menanti adzan Asyar”. Kang Alif dengan komandonya.

***

Kang Alif telah menyiapkan tiga mushaf Al Qur’an begitu Hamzah dan Iqro selesai dengan wudhunya. “Nah, dimulai dari Iqro dulu kali ya, kemudian Hamzah, lalu Akang, kemudian Iqro lagi. Sementara yang satu baca, yang lain nyimak.” Kang Alif dengan instruksinya ibarat trainer outbond.

Iqro yang dapat kesempatan pertama mengelak. “Eh, saya bagian mendengar saja, Kang”. Hamzah yang sedang membolak-balik mushafnya terkikik.

“Loh? Kok cuma mendengar?” Kang Alif tak menduga kalau Iqro menolak instruksinya. “Pake malu segala dikasih giliran pertama, Ro. Apa kamu baca setelah Hamzah?”

Iqro panas dingin. Hamzah cekikikan.

“Kenapa sih Hamzah malah ketawa?” Kang Alif bingung dengan tingkah mereka berdua. Hamzah mau menjelaskan, tapi Iqro sudah lebih dulu bersuara.

“Bukan soal gilirannya, Kang. Tapi… tapi… saya malu bacanya. Saya ngajinya masih terbata-bata,” penjelasan Iqro nyaris tak terdengar karena saking pelannya.

Kang Alif manggut-manggut dan Iqro masih meneruskan, “..jadi, saya mendengarkan bacaan Kang Alif dan Hamzah saja ya, Kang?”

Seutas senyum di wajah Kang Alif tapi bukan meremehkan. “Ro, kita kan bukan lagi lomba musabaqah toh. Justru kalau kamu membaca, kita punya kesempatan sama-sama bisa memperbaiki bacaan”.

“Kamu tau ga, Ro? Rasulullah itu pernah bersabda bahwa orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya, dengan kata lain belum lancar bacaannya, dia akan mendapat dua pahala”. “Jadi ga usah berkecil hati dulu, Allah pun tak akan sia-sia menghargai usahamu”.

“Tapi…” Kang Alif memberi penekanan pada suaranya.

“Tapi seterusnya kamu tentu tidak mau cukup dengan dua pahala saja kan? Karena itu harus banyak berlatih ngaji. Diperbanyak membacanya dan memperdengarkannya kepada yang lain, nanti dikoreksi jika ada kesalahan. Lama-lama kamu nanti juga akan lancar.”

<“Sama saja konsepnya dengan ketika kamu pertama kali belajar bahasa Inggris. Terbata-bata kan awalnya. Sekarang malah kalian dah jago cas cis cusnya. Itu kan karena sering mengulang, sering praktek. Belajar Al Qur’an juga begitu”

“Dan kamu, Zah”, Hamzah kaget tiba-tiba Kang Alif malah menasehati dirinya. Perasaan dia sudah lancar baca Al Qur’an semenjak kelas tiga SD deh.

“Kamu itu harusnya bantu Iqro. Dah tau kalo Iqro ada kesulitan untuk baca Al Qur’an, mbok ya diajarin toh. Dan Rasulullah pun bersabda dalam hadits shahih lain bahwa sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Ga cukup bisa menguasai untuk diri sendiri aja, Zah tapi kamu harus juga mengajarinya untuk orang lain. Pasti kamu tau kalo ilmu itu semakin nancep kalo kamu ngasih ke orang lain.” Kali ini Iqro yang cekikikan sementara Hamzah bersemu merah wajahnya dikuliahi oleh abangnya.

“Ya udah, kayaknya udah mau Asyar nih. Setelah Asyar aja nanti kita ngajinya sekalian mendengarkan radio pengajian,” Kang Alif dengan cepat mengambil alih kondisi.

Iqro yang pendengar setia radio, berhubung di rumah dia hampir selalu kalah bersaing dengan adik-adik perempuannya soal memilih channel TV langsung nyambar memberikan komentar, “Radio apa itu, Bang? Baru denger aye. Frekuensinya berapa?”

“Radio pengajian itu streaming online yang digagas teman-teman mahasiswa muslim Indonesia di mancanegara, Ro. Soalnya di luar negeri kan tidak segampang di Indonesia mendengarkan pengajian. Jadi dengerinnya di internet. Link-nya http://radiopengajian.com.”

“Nah kebetulan abis Asyar nih, ada siaran program Tahsin Ramadhan, disingkat TaRa. Langsung dipandu oleh ustadz yang ada di Yokohama, Jepang. Pas buat ngabuburit, perbaiki bacaan, nambah tabungan amal lagi.”

“Ya udah sekarang kita siap-siap ke masjid dulu, kalau bisa kita sudah sampai duluan sebelum adzan berkumandang”. Dan mereka pun menuju Masjid Baitul Jannah yang hanya berjarak dua ratus meter dari rumah Hamzah.

***

Apa kabar sahabat sekalian? Bagaimana target bacaan dan hafalan Al Qur’an kita?

3 pekan lagi Ramadhan tersisa, moga kita memanfaatkannya sebaik mungkin.

Jangan sampai mau kalah dengan Iqro yang sudah bertekad memperbaiki bacaannya,

Hamzah yang berniat mengkhatamkan minimal 20 judz,

Kang Alif yang memasang target dapat mengingat kembali semua hafalan yang mulai berkarat dan menambah hafalan satu surat baru.

Yuk, mari berlomba-lomba dalam target Ramadhan.

Mohon maaf jika ada bagian yang tidak berkenan.

Beberapa kesamaan nama, tempat, dan latar mungkin memang disengaja,

sejumlah data dan fakta yang disampaikan insya Allah benar adanya.

Lantai 12 bangunan 275 C,

setelah Tarawih di malam 8 Ramadhan 1431 H

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •