Diary Ramadhan edisi 13 Ramadhan 1431H

Oleh: Arramel

Sekilas melihat cuaca diluar kantor yang tidak bersahabat alias hujan mengingatkan kenangan penulis saat akan memasuki masjid Agung di alun-alun kota Bandung pada tahun 2002. Pandangan mata tak luput melihat hiruk pikuknya para pedagang yang menawarkan makanan untuk sekedar berbuka, khususnya di areal jalan dalem kaum menjelang adzan magrib sudah menjadi pemandangan umum Memori ini membawa kembali pikiran ketika punggung serasa pegal karena isi tas yang berisikan dua textbook Organic Chemistry setebal buku Harry Potter. Maklum pelajar dengan modal low-budget jadi pinjaman buku-buku kuliah sudah menjadi hal lumrah untuk dipinjam hampir genap satu semester. Sesaat sebelum memasuki pelataran masjid, ada satu anak perempuan kecil yang segera menyodorkan tangan kecilnya meminta sedekah dengan muka memelas. Hasrat hati ingin sekali memberikan sebagian recehanku, tapi berhubung uang yang ada saku sangat pas untuk perjalanan pulang ke rumah, dengan berat hati aku menggelengkan kepala kepadanya. Sesaat dia seperti kecewa dan sedih, tapi mimik wajahnya mengatakan jangan patah arang dan kembali tersenyum..

Badan ini kembali melangkah masuk ke bagian dalam masjid, terlihat beberapa pojok sisi masjid sudah diisi dengan orang yang sedang mengaji. Namun, ada juga orang yang memanfaatkan sejuknya udara dengan memejamkan mata sambil menunggu beduk tiba. Langkah kaki kuteruskan ke areal tempat wudhu yang ternyata sudah cukup padat dengan para jemaah lainnya. Basuhan air segar menerpa wajah dan segera menghilangkan kepenatan hari yang padat dengan jadwal kuliah dan praktikum. Selepas shalat sunnat, kucoba untuk menyempatkan membaca ayat-ayat suci Al-Qurán. Kering rasanya jika tidak melafazkan barang beberapa bacaan singkat tapi cukup bermakna apalagi di bulan suci ini, nikmat kita terus berlipat dengan nilai pahala yang berbeda dari yang biasanya. Kilasan surat An-Nisa di beberapa petikan ayat yang kubaca sungguh mengangkat harkat insan akhwat dimata Islam. Entah kenapa bacaan ini mengingatkan penggalan ingatan ketika melihat berita di TV ataupun diskusi singkat dengan rekan sejawat di kantor yang mengesankan bahwasanya Islam secara terang-terangan menekan posisi wanita, baik di kehidupan keluarga ataupun masyarakat secara umumnya. Akan tetapi, bagi para umat muslim tentunya sebagian besar mengetahui jika posisi wanita khususnya ibu adalah peluang untuk mengarahkan langkah kaki ke surga ilahi.

Satu suap lagi ya anakku sayang.. Hampir satu jam sendok kecil ini bulak-balik memasukkan asupan bagi si kecil yang umurnya tak terasa hampir berusia satu tahun. Pandangan matanya nan bersih dan tanpa beban sungguh menyegarkan pikiran dari peliknya pekerjaan di kantor. Karakter bayi memang sangatlah unik, setiap anak memiliki ciri khasnya masing-masing. Prilakunya yang menerima apa saja yang diberikan kadang harus disikapi dg hati-hati karena pola fikir anak yang belum terbentuk mana yang baik atau buruk bagi dirinya. Oleh karena itu, tugas orang tua menjadi sangat vital membantu serta mengarahkan sifat ataupun tingkah laku anak di masa depan. Terlepas kedua peran ibu dan ayah besar sama bobotnya, namun penulis ingin sekali mengangkat betapa kinerja ibu sangatlah penting untuk mendidik anak ke jalan yang diridhai oleh Alloh SWT. Maka tak salah jikalau ada kalimat ”pintu surga berada di kaki ibu “. Semua usaha susah payah yang dilakukan oleh para ibu patut diacungi jempol dan disyukuri. Teringat ketika masa dimana penulis masih menduduki sekolah dasar kelas satu, ibu mencoba untuk selalu membangunkan anaknya yang sukar bangun pagi agar pergi ke sekolah. Tak lupa menyiapkan sarapan serta menyiapkan pakaian putih-merah.Ketika anak beranjak dewasa, ibu pula yang senantiasa berupaya memenuhi kebutuhan sekolah seperti buku, alat tulis dan lain-lain. Tatkala sang anak sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri, sang ibu dengan tulus selalu mendoakan agar anaknya sukses dunia dan akhirat. Semoga semua usaha dan doa mampu mengiringi semua para ibu ataupun calon ibu dibalas di hari nanti, amin..

Secercah rasa lelah terlihat di pelupuk mata sang istri kala membereskan sisa makanan si kecil. Tak luput dari pandangannya, hasil cucian yang masih bertumpuk kadang membuat rasa semangat membereskannya sirna. Serta tugas lain sudah menanti seperti menyiapkan makan malam bagi anggota keluarga lainnya. Akan tetapi, para istri terus menjalani peranan dan tugas secara ikhlas dan istiqamah. layaknya siklus metabolisme tubuh yang terus berputar setiap saat.

Sekelumit tulisan singkat penulis diatas hanyalah sedikit dari rangkaian roda kehidupan wanita secara umum. Mungkin sedikit tulisan di atas bisa menjadi pengingat bahwasanya semua usaha serta doa para ibu, istri, ataupun bahkan si kecil akan menjadi bekal yang akan dinilai oleh Alloh SWT menuju lingkaran tanpa batas di akhirat kelak, amin yaa robbal alamin..

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •