Diary Ramadhan edisi 9 Ramadhan 1431H

Oleh: Sri Pujiyanti

Without cause God gave us being;

Without cause, take it back again.

Jalaluddin Rumi

Seorang teman baru saja meninggal beberapa hari sebelum Ramadhan ini. Seorang perempuan cantik penuh energi yang usianya baru saja 31 tahun. Setelah dua tahun berjuang melawan kanker rahim yang telah menjalar kemana-mana, akhirnya dia pasrah. Dia menyerah. Ketika membuka laman Facebook-nya, membaca tangis kehilangan orang-orang yang mengenalnya, saya sempat tertegun ketika dia menulis ‘heaven is a concept’ di lamannya tersebut. Saya tidak pernah tahu apakah akhirnya dia menemukan kebenaran atas kata-katanya bahwa surga hanyalah sebuah konsep di kepala kita belaka.

Kematian teman saya itu menghantui saya berhari-hari. Membuat saya sedih dan merasa hidup ini sesuatu yang absurd. Pertanyaan yang dulu pernah saya tanyakan ketika kematian itu pertama kali bersinggungan secara pribadi dengan saya -mengapa kita ada di dunia ini jika hidup kita bisa sewaktu-waktu tercerabut- muncul lagi ke permukaan. Dan saya takut. Lalu bermimpi buruk.

Kematian sesuatu yang saya takuti. Sesuatu yang saya pikirkan terlalu sering. Mungkin karena dia diselimuti kegelapan. Sebuah perjalanan ke dunia tanpa peta. Tidak pernah ada orang yang pernah kembali dari kematian dan bercerita pada kita yang hidup ini mengenai situasi di dunia sana.

Kematian saya takuti mungkin karena pada kematian bersemayam neraka, yang menakutkan. Kadang saya menyalahkan komik jelek yang pernah saya baca waktu kanak-kanak yang melukiskan neraka dengan keseraman yang absolut yang seringkali memberi saya mimpi buruk hingga saat ini. Saya harus akui bahwa saya takut pada neraka, dan saya seringkali berharap bahwa nerakalah, bukan surga, yang cuma konsep di kepala manusia. Jalaluddin Rakhmat satu-satunya penulis yang bisa menenangkan ketakutan saya ketika dia mengatakan di dalam bukunya, Memaknai Kematian, bahwa neraka diciptakan seperti mesin cuci yang diciptakan untuk membersihkan semua kotoran di baju ini (perumpamaan ini saya sendiri yang membuat, bukan Kang Jalal). Neraka perlu karena disanalah kita akan membersihkan semua dosa kita, dan seperti kita menginginkan baju yang bersih, tentu saja kita juga menginginkan jiwa yang bersih.

Satu teori lain mengenai surga dan neraka yang sedikit lucu saya dapat dari sang ilmuwan Blaise Pascal yang punya teori yang menarik mengenai Tuhan, surga dan neraka. Katanya, akan lebih baik (baca:menguntungkan) kalau kita percaya Tuhan, karena jika Tuhan itu ada, jika kita mempercayai-Nya kita akan masuk surga, dan jika tidak, kita akan masuk ke neraka selama-lamanya. Jika Tuhan itu tidak ada, kita tidak rugi apapun selama hidup kita mempercayai Tuhan karena we’re dead anyway. Teori yang ditolak mentah-mentah oleh Richard Dawkins, sang atheis yang terkenal itu dengan alasan, urusan percaya-mempercayai Tuhan tidak bisa hanya mempergunakan hitungan untung rugi seperti itu. Membuat saya berpikir, apakah selama ini saya berhitung untung rugi dengan Allah? Membuat saya teringat Rabiah, sang sufi perempuan yang berdoa, “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya.” Dalam hal ini, Rabiah dan Richard Dawkins sepakat :D.

Satu hal lain yang saya takuti dari kematian adalah karena kematian berarti kehilangan, ketidakberartian. Saya tipikal orang yang clingy, posesif. Dan kematian adalah mimpi buruk untuk orang seperti saya. Dulu, ketika saya masih remaja, doa saya nomor satu adalah, ‘Ya Allah, mudah-mudahan saya tidak akan pernah merasakan kehilangan karena kematian selama saya hidup. Kalau boleh, semua orang yang saya sayangi harus meninggal setelah saya.’ Saya tahu, doa yang muskil (dan harus saya akui, kadang saya masih berdoa begitu sekarang). Dan Allah mengajari saya untuk menghadapi ketakutan saya paling besar itu dengan cara yang paling indah. Saya dibenturkan pada kematian orang terdekat saya. Tanpa disangka-sangka. Datang secara tiba-tiba.

Pada saat itu, bertahun-tahun yang lalu, ketika sayap kematian itu datang dan merengkuh orang terdekat saya, saya sempat mati rasa. Saya kesulitan untuk mencernanya. Saya butuh waktu lama untuk mengangkat kepala dari keterpurukan. Saya beruntung saya dilimpahi keluarga dan sahabat yang setia mau menemani pada saat-saat terburuk saya. Ketika saya merasa jadi orang paling malang sedunia, seorang sahabat menceritakan kisah seorang perempuan dalam cerita Budha, Kisagotami, seorang perempuan yang kehilangan anaknya, jadi setengah gila, dan meminta Budha untuk menghidupkan anaknya kembali. Budha berjanji untuk menghidupkan anaknya dengan bumbu yang harus dicari Kisagotami dari rumah yang tidak pernah mengenal kematian. Kisagotami berjalan dari rumah ke rumah mencari bumbu tersebut hanya untuk mendengarkan kisah sedih mengenai kematian dari tiap rumah yang dia kunjungi. Ada yang kehilangan suami, kehilangan istri, kehilangan orangtua, kehilangan saudara. Kisagotami berhenti bersedih ketika sadar ternyata kematian adalah sebuah keniscayaan dan kepedihannya dibagi oleh semua orang di bumi ini. Tanpa kecuali. Dan saya, seperti Kisagotami, belajar untuk melihat bahwa saya bukan satu-satunya orang yang mengalami kepedihan. Dalam bahasa sahabat saya, every one has their cross to bear.

Allah mengajarkan bahwa fitrahnya, kita tidak pernah memiliki apapun, semuanya milik Allah. Bahwa segala sesuatu yang kita kasihi suatu saat akan jadi cobaan untuk kita. Kita bukan pemilik belahan jiwa kita, atau anak-anak yang lahir dan mewarisi darah kita. Akan tetapi, buat saya, rasa kehilangan itu wajar, karena saya rasa, rasa kepemilikan juga fitrah yang diberikan Allah agar kita dapat menjadi ‘penjaga’ yang baik. Rasa memiliki dan perasaan kehilangan akan menjadi elemen keseimbangan yang datang silih berganti mengasah jiwa kita. Kepedihan akan jadi pupuk agar saya belajar untuk memelihara semua yang saya kasihi sebaik-baiknya karena saya tidak pernah tahu kapan semua itu akan hilang, dan saya harus belajar mengikhlaskan semua yang selama ini saya ‘miliki’ karena semua itu bukan milik saya.

Ikhlas, ikhlas, ikhlas. Betapa sulitnya menerjemahkan kata itu ke dalam perilaku.

Satu lagi permasalahan besar saya ketika bersentuhan dengan kematian, saya cenderung fatalis. Ketika saya becermin pada hidup orang terdekat saya yang meninggal, saya ketakutan karena tiba-tiba, manusia seperti tidak ada artinya. Dunia akan terus berputar ketika kita sudah tidak ada. Dan perlahan-lahan, orang-orang yang menangisi kita akan berhenti menangis. Perlahan-lahan, kita akan dilupakan. Hal-hal yang kita wariskan di dunia ini akan hilang perlahan dan suatu saat, manusia bahkan akan lupa bahwa kita pernah hadir di dunia ini. Absurd dan menyakitkan. Saya kehilangan selera makan dan semangat hidup. Pertanyaan, ‘lalu untuk apa kita ada di dunia ini jika pada akhirnya kita akan jadi sesuatu yang terlupakan dan seolah-olah tidak pernah ada?’ muncul dan tidak mau pergi dari kepala saya. Butuh energi besar untuk mengusir pikiran negatif itu, yang kemudian selalu muncul lagi dalam riak-riak kecil (dan besar jika saya bersentuhan dengan kematian lagi seperti ketika teman saya meninggal). Saya selalu butuh untuk menguatkan diri saya sendiri bahwa saya, ya, saya mungkin tidak akan menciptakan sesuatu yang besar, akan tetapi, dengan remah kecil saya, saya dapat berkontribusi untuk dunia yang lebih baik dan insyaAllah anak-anak saya akan lebih baik dari saya, orangtua mereka. Setiap kali saya merasa tidak ada artinya, saya mengingat bahwa Islam mengajarkan bahwa tujuan manusia ada di dunia ini adalah untuk mencari ridha Allah dengan beribadah pada Allah, yang saya artikan sebagai beribadah dalam arti luas. Horizontal dan vertikal. Menciptakan surga di dunia ini dan dunia setelah kematian. Dan saya bertanggung jawab atas surga-surga itu. Saya harus melakukan sesuatu, tidak hanya berdiam diri meratapi nasib dan menunggu mati. Ucapan populer seorang sutradara, Stanley Kubrick, juga selalu menyemangati saya. Dia mengatakan, ‘The most terrifying fact about the universe is not that it is hostile but that it is indifferent, but if we can come to terms with this indifference, then our existence as a species can have genuine meaning. However vast the darkness, we must supply our own light.

Menjelang Ramadhan ini, saya berpikir kembali mengenai kematian. Mengingat seseorang yang telah bertahun-tahun meninggalkan saya dan tahun ini saya tidak sempat menjenguk makamnya. Mengingat Didi, teman saya yang meninggal karena kanker itu, dan anak yang ditinggalkannya yang masih balita. Memandang orang-orang yang saya kasihi. Apakah tahun depan saya masih akan bisa bertemu mereka dan bertemu Ramadhan? Ketika mengingat kematian, saya menyadari bahwa saya tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Saya harus terus menerus membersihkan diri. Belajar mengisi waktu saya dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar untuk memberi arti pada hidup saya, seperti apapun. Belajar untuk bersabar. Belajar untuk berempati. Belajar untuk berdisiplin, karena mencintai adalah kata kerja, apalagi mencintai Allah. Karena kematian mengajari saya, days maybe long, but life is short.

-untuk Didi dan A.B-

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •