Diary Ramadhan edisi 15 Ramadhan 1431H

Oleh: Ismail Fahmi

(Diterjemahkan dari The Protection: Climbing Up, Bawa Muhaiyaddeen, 1981)

Semua jenis pekerjaan, jabatan, gelar, keturunan, agama, warna kulit, dan politik adalah pendorong hidup, sehingga ketika kelaparan, penyakit, dan segala kesulitan datang ke dalam hidupmu, kamu akan naik satu tingkat lebih tinggi mendekati kualitasNya, dan dalam kecintaanmu kepadaNya.

Keyakinan kita harus naik satu tingkat. Kita tidak boleh bilang, “Dia telah memberiku penderitaan ini. Apa yang telah Dia berikan padaku?” Please, jangan katakan ini. Sesungguhnya, Dia sedang mengangkatmu ke atas.

“Ini adalah anak tangga yang goyah.
Naik lah menuju anak tangga di atas yang lebih kokoh.
Ketika masalah lain muncul,
Naik lah ke anak tangga berikutnya!
Ini adalah sebuah langkah untuk cinta
Dan keyakinanmu.”

Jangan pernah berpikir bahwa Allah sedang mengujimu.
Itu bukan pekerjaanNya.
Sebaliknya, berpikirlah bahwa Dia sedang mengangkatmu
Satu tingkat berikutnya.

„Ketika sebuah masalah muncul,
naik lah satu tingkat ke atas.
Naik lah dengan penuh keyakinan dan keimanan!

“Ketika kamu sudah menapaki ke-99 anak tangga,
Apapun yang telah kamu lihat sebelumnya dan sesudahnya akan sirna.
Yang kamu lihat hanyalah Aku.“

„Masalah-masalah itu semua hadir
Agar kamu bisa datang kepadaKu.

„Ketika mereka berkata bahwa mereka tidak menginginkanmu, naik lah!
Mereka semua adalah keburukan,
Setan dan keburukan adalah ikatan-ikatan di dalam dirimu.
Putuskan, dan naik lah ke atas.

„Naik!
Naik yang tinggi!
Naik adalah kebaikan.
Turun adalah keburukan.
Keduanya adalah tawakkal-Ku, tanggung jawab-Ku.
Mereka milik-Ku.
Datanglah ke sisiKu. Naik!“

Kita harus memiliki keyakinan itu,
Iman itu.
Baru kemudian kita akan meraih kebebasan.

Tapi jika sebaliknya kita bilang,
“Dia sedang mengujiku.
Oh Tuhan, mengapa Kau beri aku ini?
Apakah Tuhan yang seperti ini ada atau tidak?
Apa ini, oh Tuhan…“
Bukan ini yang diharapkan.

„Aku sudah menempatkan keduanya,
baik dan buruk; setan dan kebaikan,
di depan mu.
Yang itu adalah keburukan.
Yang ini adalah kebaikan.
Yang itu adalah musuh bagimu,
dan dia pasti akan berusaha mengalahkanmu.

“Naik saja satu tingkat ke atas.
Itu adalah kebaikan buatmu.
Sesuatu yang akan datang telah menanti.
Naik lah lagi satu tingkat kebaikan.
Itulah yang diharapkan.”

Seseorang yang telah melewati seluruh tingkatan
Dia lah insan kamil, seorang manusia sempurna.
Hal ini harus dipahami.

“Contoh yang telah Aku perlihatkan di depanmu
Adalah sebuah bunga lotus.
Lihatlah bagaimana dia tumbuh dari air yang kotor.
Dia hidup di tempat kotor, tetapi dia tidak membawa serta
Air yang kotor itu. Lihatlah itu!
Aku telah ciptakan kamu juga dari sesuatu yang kotor (tanah).
Tapi kau membawa serta semua yang kotor itu ke dalam dirimu.
(Kau bawa serta jabatan, gelar, agama, keturunan, politik, kekayaan ke dalam dirimu).

“Karena inilah mengapa kamu menderita.
Ini adalah penderitaanmu.
Segala sesuatu yang kamu genggam erat adalah penderitaanmu.
Bunga lotus itu tidak menggenggam air yang kotor.
Lihatlah, betapa cantiknya dia.
Oleh karena itu, naiklah!

“Aku telah perlihatkan kepadamu banyak contoh.
Lihatlah mereka dengan bijak.

“Lihat berapa banyak bunga yang telah Aku ciptakan
Untuk para lebah!
Tak terhitung banyaknya.
Betapa banyak warnanya,
betapa banyak gradasinya,
betapa banyak jenisnya!

„Namun, lebah hanya terbang menuju tujuannya.
Dia hanya mengambil apa yang menjadi haknya (madu),
dan kemudian pergi.
Apa yang menjadi sisa ditinggalkannya.

“Aku telah menempatkan
Keburukan dan kebaikan,
Dzat dan sifat,
Esensi dan ciptaan,
Di depanmu.
Ambillah apa yang menjadi hakmu, lalu datanglah padaKu.

“Lebah madu tidak berkata,
‘Semua bunga itu indah.’
Dia tidak memetik dan membawanya ke sana kemari.
Dia mengambil apa yang dibutuhkannya,
Dan meninggalkan sisanya di belakang.
Aku telah menciptakan segala sesuatu.
Di dalamnya, identifikasi apa yang menjadi hakmu,
Ambillah dan datanglah.

“Aku telah menciptakan satu jenis burung bernama penghisap madu.
Warnanya hitam, sangat hitam.
Tapi lihat bagaimana kilauannya, terang seperti petir!
Tubuhnya seperti itu.
Hitam (gelap).

“(Tubuhmu juga terbuat dari tanah yang mengandung kegelapan)
Tapi di dalam dirimu terdapat cahaya iman.
Aku telah tempatkan cahaya iman itu ke dalam dirimu.
Dia selalu bercahaya.

“Lihat bagaimana usaha kerasnya si penghisap madu
Agar dia bisa meminum madu.
Sungguh sebuah keseimbangan!
Dia menjaga keseimbangan sehingga dia kelihatan diam tak bergerak.
Tanpa menyentuh bunga,
tanpa duduk di atasnya,
dia menjulurkan paruhnya tepat di tengah
seperti diam tak bergerak,
sebuah keseimbangan.

„Seperti itu, di dalam hidupmu,
jangan duduk di atas bunga!
Kamu harus menjaga keseimbangan—laa ilaaha illaAllah:
Tidak ada sesuatu pun kecuali Engkau, ya Tuhan.
Hanya Kau lah Allah.

„Tetaplah dalam keseimbangan,
Tetap diam dan seimbang dan ambillah intinya.
Ekstrak rasanya, rasa dari ilmu.
Maka kamu akan mengerti.
Jika kamu gagal untuk tetap seimbang,
maka kamu tidak akan mampu berada di atas bunga itu.
Jika kamu jatuh duduk di atasnya,
maka dia akan melengkung dan membuatmu jatuh.
Kamu akan terjatuh.

“Aku ciptakan bunga-bunga dan warna yang indah.
Aku tempatkan begitu banyak kelopak di sana.
Tetapi aroma wangi datang dari dalamnya.
Aroma ada di dalam.

“Seperti ini, Aku telah ciptakan
Begitu banyak nafsu di dalam dirimu.
Betapa banyak kelopaknya!
Betapa banyak detailnya!

“Walau bagaimana pun, aroma wangi ada di dalam dirimu.
Aroma muncul dari dalam dirimu.
Jika keindahan dan aroma me mancar dari dirimu,
kamu akan membuat segala yang ada di dalam dirimu wangi.

“Jika kamu mengontrol nafsu-nafsu itu,
kamu akan bisa membuat mereka beraroma wangi.”

Ini adalah contoh-contoh dari Allah.
Pahami mereka.
Jangan memegang erat penderitaan.
Naiklah satu tingkat ke atas.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •