Diary Ramadhan edisi 8 Ramadhan 1431H

Oleh: Puri Handayani

“Gunakan sehatmu sebelum datang sakitmu”

Sehat memang nikmat Alloh yang luar bisa, maka sudah sewajarnya kita bersyukur dengan mengisi hari-hari sehat kita dengan hal yang berguna. Saat saya sakit flu saja rasanya sudah tersiksa sekali. Paling tidak butuh tiga hari untuk sembuh kembali, dan selama kena flu tersebut hanya bisa terkapar tidak bisa apa-apa. Pada saat sakit itulah kadang baru sadar betapa berharga waktu saya sehat, dan betapa sering kali saya menyia-nyiakan karunia sehat tersebut.

Sakit bisa menjadi ujian kesabaran yang sangat berat, apalagi jika penyakit itu diderita selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Bukan hanya buat yang sakit tetapi juga buat keluarga yang merawatnya juga. Setidaknya hal ini yang saya saksikan pada keluarga sahabat saya. Sejak awal 2000an ibunda tercinta terkena stroke hingga saat ini. Ibunda yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, membiayai kuliah putra-putrinya tiba-tiba terkena stroke tidak berapa lama setelah putra putrinya menyelesaikan kuliah dan bekerja. Hmm…kadang saya berfikir mungkin beliau selama ini menahan segala sakitnya demi terus bekerja untuk putra-putrinya. Ibunda yang dulunya terlihat tegar dan gesit, saat ini hanya bisa terbaring tidak mampu melakukan aktivitas apapun. Tidak hanya itu, beliau sekarang juga mulai pelupa. Tiba-tiba saja beliau suka marah karena merasa tidak diberi makan selama seharian, padahal sebenarnya beliau sudah makan. Kadang sahabat saya ini sampai memilih untuk membiarkan piring dan gelas yang dipakai beliau tetap dimeja, sehingga kalau beliau protes bisa diberikan bukti. Emosi beliau juga tidak stabil lagi. Beliau bisa demam tinggi karena cucu yang dikangeni tidak jadi datang menengok beliau. Sungguh berbeda sekali dengan saat pertama kali saya mengenal beliau disekitar tahun 1995, saat beliau masih sehat, saat saya melihat beliau sebagai sosok perempuan yang tegar, sandaran putra-putrinya.

Hmm…sakit memang bisa menimpa siapa saja. Sakit bisa mengubah kehidupan seseorang secara drastis, baik secara fisik, financial, maupun emosional. Hanya kesabaran dan semangat ikhtiar mungkin yang bisa melawannya. Itupun belum tentu berhasil. Menyaksikan beberapa sahabat maupun keluarga yang diberi cobaan sakit sering kali membuat saya bersyukur sekaligus khawatir, berharap agar saya dijauhkan dari cobaan itu, berdoa untuk teman dan saudara yang sakit semoga mereka bisa seperti Nabi Ayub yang sabar dan akhirnya mendapat pertolongan dari Alloh.

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”

Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •