Diary Ramadhan edisi 5 Ramadhan 1431H

Oleh: Teguh Sugihartono

Di suatu sore yang sejuk di pinggir sawah, dua orang sahabat duduk di bawah pohon yang rindang. Kedua sahabat tersebut bernama Hardjo dan Prawiro. Sambil ditemani teh hangat dan pisang goreng kedua sahabat menikmati suasana kampung yang masih asri dan bersih. Suara air sungai yang mengalir dan kicau burung-burung pipit menemani kebersamaan mereka di sore itu.

Prawiro baru saja beberapa bulan yang lalu memutuskan untuk menjalani jalan sufi di salah satu tariqat di kampung tetangga. Setelah mengikuti jalan sufi ini Prawiro menjadi sedikit berubah. Hardjo sebagai sahabat dekatnya menjadi penasaran dan memutuskan secara spontan untuk menanyakan beberapa hal kepada sahabatnya tersebut.

Hardjo: “Wiro, ngapain sih kamu belajar sufi?”

Karso: “Lha, emangnya kenapa gitu?”

Hardjo: “Kamu kan sudah tahu Islam dan shalat lima waktu serta puasa, apa itu nda cukup? Apa yang membuat kamu memutuskan untuk belajar sufi?”

Karso: “Ada sesuatu dalam diriku yang ingin lebih dari itu. Waktu aku belajar Islam aku sudah mengetahui banyak hal, namun itu hanya sekadar pengetahuan saja. Itu hanya menjadi makanan untuk akalku. Sedangkat hatiku juga membutuhkan makanan. Aku ingin mencari kebenaran sejati dan mencari tahu apa tujuan hidup ini sebenarnya. Aku ingin ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Aku ingin mencari arti di dalam arti, makna di dalam makna dari kehidupan ini. Siapakah aku? Siapakah Tuhan? Ini pertanyaan-pertanyaan yang mengusikku beberapa waktu yang lalu. Ini yang membuatku tertarik untuk menjalani perjalanan sufi ini.

Hardjo: “Sebenernya sufi itu gimana sih? Apakah sama dengan Islam ataukah berbeda dengan Islam? Atau gimana?” Hardjo masih bingung.

Karso: “Kalau aku lebih mudah memahaminya dengan memakai suatu perumpamaan. Jika aku pakai perumpamaan jeruk. Jeruk itu ada kulitnya dan juga ada isinya. Jika Islam aku umpamakan dengan kulit jeruknya, maka isinya tersebut adalah Sufi. Shalat lima waktu, puasa dan lain-lain itu adalah kulit luarnya, hal ini bisa dilihat oleh orang banyak. Namun isi hati tidak bisa dilihat orang. Sufi ini mengupas banyak tentang isi dalam hati. Sufi ini bisa dikatakan agama hati. Tentu saja jeruk terdiri dari kulit dan isinya dan mereka merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Sama seperti Islam dan Sufi itu sendiri. Isi jeruk membutuhkan kulit jeruk dan sebaliknya, kulit jeruk tanpa isi jeruk tidak bernilai apa-apa. Banyak orang yang shalat lima waktunya tidak pernah ketinggalan tapi kerjanya menyakiti perasaan orang tua dan orang-orang sekitarnya. Banyak yang berpuasa tapi senang mengambil hak orang lain. Itu karena mereka baru makan kulit jeruknya saja tapi belum dapat isi jeruknya. Jadi antara Islam dan Sufi itu nda ada bedanya, mereka itu sama saja. Seorang muslim yang baik adalah seorang sufi, apakah mereka menyebut dirinya Sufi atau tidak. Sufi banyak sekali membantuku untuk memahami Islam dengan lebih baik. Sufi membantuku untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik. Seorang muslim yang tidak hanya menjalankan perintah namun juga mengerti essensinya. Bukan hanya bisa tahu bagaimana membuka kulit jeruk, tapi juga bisa menikmati isi jeruk tersebut.

Hardjo pun mengangguk-angguk. Sambil menyeruput teh hangat dan memasukkan pisang goreng ke dalam mulutnya dia pun melanjutkan pertanyaannya.

Hardjo: “Waduh jawabanmu dalem banget. Sebentar, kita mulai pelan-pelan, aku juga ingin memahaminya. Sebenarnya Sufi itu apa sih?”

Prawiro: “Sebenarnya setiap orang yang sedang dalam perjalanan mencari kebenaran sejati adalah seorang sufi, apakah orang tersebut menamakan dirinya sendiri sufi atau tidak. Seorang sufi itu bebas dari percaya atau tidak percaya namun tetap memberikan kebebasan kepada orang lain untuk memiliki pendapatnya masing-masing. Perjalanan Sufi ini adalah perjalanan mencari ke dalam diri. Perjalanan untuk mengenal diri dan Tuhannya karena barang siapa yang telah mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya. Bagi seorang Sufi, Sang Guru akan selalu hadir dan hidup baginya, tidak pernah pergi walau sedikitpun. Sang Guru akan dapat ditemui di semua bentuk dan manifestasinya. Sang Guru akan tetap Satu dan yang Satu ini akan dapat dia kenali di mana-mana. Setiap saat adalah saat yang dia akan pergunakan untuk bersama dengan Sang Guru. Bagi Sufi, Tuhan bukan hanya Sang Pencipta dan Pemilik dunia ini, namun juga seorang Sahabat dan Kekasih yang sangat dia cintai. Cita-cita tertingginya adalah bertemu dengan Beliau, bertatap mata dengan-Nya, melihat-Nya tersenyum dan mendapatkan Ridha-Nya.

Hardjo terpaku mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Giliran Prawiro yang menyeruput teh hangat. Tidak lupa tangannya meraih bala-bala dan cabe rawit, makanan kesukaannya.

Hardjo: “Terus terang aku nda pernah mendengar hal-hal seperti ini sebelumnya. Kedengarannya menarik, tapi untukku aku merasa kalau aku sudah merasa cukup dengan pelajaran agama di SMP. Aku nda punya kebutuhan untuk belajar Sufi, keliatannya njelimet.”

Prawiro: “Nda apa-apa Djo. Setiap orang kan punya kebutuhannya sendiri-sendiri. Setiap orang punya jalannya masing-masing. Kalau kamu merasa cukup dengan apa yang kamu jalani ya nikmati saja. Nda usah dipaksakan. Apalagi kalau kamu ngerasa njelimet dengan ajaran-ajaran Sufi, malah mungkin buat kamu nda akan ada manfaatnya. Malah nanti bikin pusing kepala aja, hehehe…”

Hardjo: “Aku punya pertanyaan yang mudah, pertanyaan yang banyak ditanyakan banyak orang. Coba terangkan kepadaku bagaimana agar aku bisa bahagia.”

Prawiro: “Coba hidup dengan sederhana. Terapkan semua perintah Tuhan dan jauhi larangan-Nya. Hormati orang tuamu dan berbuat baik terhadap semua mahluk-Nya. Sayangi istrimu dan anak-anakmu. Cintai sesama. Inget Djo bahwa kita semua bersaudara. Bahkan orang yang tidak seagama dengan kita, mereka pun saudara kita. Jangan kita sakiti mereka. Seluruh umat manusia ini selayaknya seperti satu badan. Apa yang terjadi kalau tangan kita menjatuhkan batu ke kaki kita? Bukan hanya kaki kita yang sakit, tapi kita juga ikut sakit. Kalau kita menyakiti saudara kita, kita pun akan ikut sakit. Kalau kita berbuat baik terhadap sesama, kita pun akan mendapatkan buah kebaikan kita sendiri. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita dapatkan.

Kita semua berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kebanyakan dari kita sedang terpisah dari-Nya, oleh karena itu kita menderita. Kita menderita karena kita hidup tanpa kehadiran-Nya. Kebanyakan dari kita hanya melihat apa yang dilihat oleh matanya saja. Namun kebanyakan hal-hal yang justru berharga tidak bisa dilihat hanya dari mata kasat ini saja, tapi harus dengan mata hati. Jika mata hati kita terbuka, seluruh dunia akan terbuka Djo. Banyak orang yang ingin bahagia tapi salah dalam mencarinya. Mereka mencarinya di dalam dunia materi. Mereka cari kebahagiaan di pekerjaannya, mereka pikir pekerjaannya yang akan membuatnya bahagia. Mereka cari kebahagiaan di dalam harta dan berpikir bahwa punya banyak harta itu akan membuatnya menjadi bahagia. Mereka cari kebahagiaan di dalam kecantikan tubuh dan menyangka bahwa jika mereka bisa punya wajah yang cantik dan tubuh yang indah mereka akan bahagia. Itu semua ilusi Djo, jangan sampai kita tertipu. Buktinya banyak yang banyak hartanya, punya pekerjaan bagus, punya wajah dan tubuh yang indah tetap tidak bahagia. Malah menderita. Itu karena kebahagiaan sejati tidak terletak di berapa banyak harta yang kita miliki. Kebahagiaan sejati tidak terletak di waja yang cantik dan tubuh yang indah. Bukan Djo, jangan tertipu. Kebahagiaan sejati ada di dalam hati ini. Kebahagiaan yang sejati ada di dalam hati yang tenang dan damai. Yaitu ketika Sang Kekasih sangat dekat dengan kita dan semakin dekat dengan kita, sampai tak ada jarak lagi. Kita merasakan kehadiran Kekasih dalam diri dan telah memenuhi isi hati kita. Ketika hati kita ini tidak lagi merindukan dunia tetapi merindukan-Nya. Ketika kita menjadi warga dunia ini tetapi bukan lagi milik dunia. Ketika kita selalu bisa bersama dengan Sang Kekasih. Ketika hati kita telah melebur bersatu bersama-Nya.”

Tanpa terasa sore telah berganti malam. Prawiro pun mengakhiri obrolannya.

Prawiro: “Djo, aku ngomong gini itu bukan maksudku untuk mengguruimu lho. Omonganku ini sebenernya ditujukan untuk diriku sendiri, agar aku belajar dan mengambil manfaat darinya. Jika ada yang bisa bermanfaat untukmu maka ambillah, jika tidak ada ya nda usah dianggap serius. Sebenarnya aku ini nda tau lebih banyak dari kamu. Jika ada omonganku yang bener, maka itu semuanya ini berasal dari-Nya. Jika ada yang salah maka itu datang dariku sebagai manusia biasa.”

Hardjo: “Wiro, aku senang mendengarkan ocehanmu. Kapan-kapan kalau kita ada waktu kita lanjutkan obrolan kita ini ya.”

Kedua sahabat itu pulang ke rumah masing-masing sambil memikirkan obrolan yang terjadi spontan di pinggir sawah sore hari itu. Suara jankrik pun mulai bersahut-sahutan menemani sang malam.

Untuk kakek Hardjoprawiro.

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •