Diary Ramadhan: Edisi tanggal 6 Ramadhan 1430 H

Oleh: Muhammad Iqbal

Seorang sahabat pernah berkomentar tentang foto-foto bunga di sela-sela kompetisi foto dG periode April lalu. Kami berbincang tentang keindahan foto-foto bunga yang dikirimkan para kontestan. Menurut beliau, tentunya dengan redaksi yang tidak tepat sama, bunga yang pada dasarnya sudah indah pastilah lebih mudah diekstrak kemolekannya dalam sebuah potret kepada pihak ke tiga bila dibandingkan dengan harus menyuguhkan sisi unik dari objek yang penampakannya biasa-biasa saja, atau bahkan tidak biasa. Tapi tetap saja, bagi mereka yang punya kemampuan dan naluri tinggi dalam berkamera ria, hasil jepretannya bisa membuat sebuah objek nampak lebih menarik dari aslinya. Saya sependapat dengan itu, keindahan sebuah potret jadi nampak relatif.

Salah satu fitrah dari bunga adalah tampak indah. Tulip dan mawar menawarkan keindahan dengan cara mereka masing-masing. Sekuntum tulip berwarna orange yang ditakdirkan mekar di tengah kebun bunga Keukenhof musim semi tahun ini jadi nampak tidak terlalu istimewa karena berada di tengah lautan bunga lainnya. Tulip ini hanyalah satu di antara sekian banyak bunga lainnya yang sama-sama menyajikan keindahan yang serupa. Sebuah perspektif yang berbeda akan muncul ketika satu tangkai mawar berwarna putih dihadirkan oleh seseorang yang terkasih di hari ulang tahun kita. Indahnya mawar memberikan amplifikasi keindahan momen ulang tahun kita. Di sisi lain, mawar tersebut jadi terlihat jauh lebih indah dibanding mawar-mawar lainnya yang pernah dilihat sang penerima bunga. Keindahan bunga jadi nampak relatif.

Mari kita lakukan analogi tentang keindahan bunga dengan berbagai nikmat Allah kepada kita. Kita akan mulai tersadar bahwasanya kita sering melupakan nikmat-Nya hanya karena nikmat itu selalu kita dapatkan secara kontinu. Mungkin juga karena semua orang di sekitar kita mendapatkan nikmat yang serupa dengan yang kita miliki. Hela nafas saat membaca tulisan ini sering tidak terasa istimewa karena kita menghirup udara setiap saatnya. Memang benar bahwa udara yang kita konsumsi ini tidak memberikan tagihan di akhir bulan, tapi itu bukan alasan yang tepat bagi kita untuk lupa bahwa udara ini adalah salah satu nikmat Allah untuk makhluk-Nya. Cerita yang berbeda tentang dua-tiga hela nafas akan kita peroleh dari seorang yang pernah hampir tewas karena tenggelam. Dua-tiga hela nafasnya di waktu itu layaknya mawar dari orang yang terkasih, memberikan kesan yang mendalam Makna dari suatu nikmat terasa berbeda ketika kita benar-benar membutuhkannya, atau jika kita belum pernah memperoleh nikmat yang serupa di waktu yang telah lalu. Kembali, semua jadi nampak relatif.

Kita kembali dengan cerita orang yang mengambil potret dengan kamera. Objek apapun bisa terlihat bagus hasilnya, jika dan hanya jika kita tahu cara memotret dengan benar. Apalagi jika kamera yang dipergunakan kualitasnya memukau, hasilnya pastinya akan semakin mantap. Bisakah kita menganalogikan ilmu yang kita miliki dengan kamera? Dan kemudian menganalogikan objek foto dengan semua hal yang menimpa kita, baik itu nikmat ataupun musibah? Orang yang bisa menghasilkan potret memukau dari objek yang indah layaknya seseorang yang bisa mensyukuri nikmat yang ia peroleh. Orang yang bisa membuat potret berkualitas tinggi dari jenis objek apapun layaknya seseorang yang bisa mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dalam kehidupannya.

Galeri hidup yang ada di dalam hati kita ini tentunya akan terasa sepi jika hanya diisi beberapa bingkai potret saja. Semoga Ramadhan ini memberikan pelajaran kepada kita tentang memotret indahnya hidup, amin.  M. Iqbal, 2009

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •