Diary Ramadhan edisi 6 Ramadhan 1431H

Oleh: Abdul Muizz Pradipto

Hari-hari menjelang dan selama bulan puasa adalah hari-hari ucapan selamat dan kata maaf bertebaran. Di hari-hari ini, silaturrahmi biasanya tersambungkan kembali. Tak hanya itu, ritme hidup dan aktivitas sedikit (atau banyak) berubah, menyesuaikan dengan ritme dan aktivitas berpuasa. Ya, di luar dari segala keutamaan ibadah di bulan ini, hari-hari ini adalah memang hari-hari istimewa. Namun, hari-hari menjelang dan selama bulan puasa juga selalu berhasil membangkitkan rasa rindu kampung halaman dan keluarga tercinta.

Saya ingat, di tanah air sana menjelang bulan Ramadhan, di tayangan dan iklan-iklan televisi bertebaran tema-tema seputar ibadah puasa. Promosi acara menemani sahur, menjelang buka puasa, bahkan sinetron khusus Ramadhan disiapkan. Iklan obat mag, dikaitkan dengan puasa. Iklan kecap dan bumbu penyedap, dikaitkan dengan menyiapkan buka puasa dan sahur. Kalau produknya tidak ada hubungannya dengan puasa, no problem, tambahkan saja di bagian akhir iklannya ucapan Marhaban Yaa Ramadhan. Tak hanya televisi, radio dan koran menampilkan tema Ramadhan juga. Artikel di buletin Jum’at menyampaikan topik keutamaan bulan puasa. Di masjid, beberapa pekan sebelum Ramadhan sudah ditempel jadwal penceramah tarawih selama sebulan, biasanya malam pertama diisi oleh ketua takmir mesjid. Bukan hanya penceramahnya, pendengarnya pun disiapkan: sekolah membagikan buku jurnal yang harus diisi siswa dengan rangkuman ceramah dan kultum di bulan Ramadhan, lengkap dengan tanda tangan Ustadz dan stempel masjid. Tak ingin kalah, di spanduk sepanjang jalan, partai politik dan para tokoh masyarakat turut mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, benar kata sahabat saya, Ramadhan selalu berhasil mengkondisikan kehadirannya untuk disambut. Alhamdulillah, subhanallah..

Saat bulan puasa dimulai, aktivitas warga sudah berjalan jauh sebelum fajar menyingsing. Tiap hari sebelum ibu-ibu bangun menyiapkan sahur, remaja masjid atau karang taruna setempat melakukan pawai keliling kampung, “Sahuur.. sahuur..” tak lupa kentongannya dibawa. Di kampung-kampung, selain adzan awal, ada pengumuman sahur dan imsak yang biasanya dikumandangkan dalam bahasa daerah, redaksi kalimatnya sama persis dengan intonasi yang begitu-begitu juga dari hari ke hari, sehingga di hari kesepuluh warga di sekitar mesjid sudah hafal kata per katanya dan bisa menirukan. Sudah itu, aktivitas di tiap rumah bermula: ibu bangun paling awal, kadang sholat malam dulu beberapa rekaat, kemudian memasak sahur dan membangunkan keluarganya untuk sahur bersama, seringkali ditemani acara sahur di televisi. Jika masih ada waktu agak panjang, riuh rendah bacaan Qur’an bergema di rumah menanti adzan shubuh, seperti suara lebah kalau didengar dari jauh. Indah sekali.

Saat adzan shubuh berkumandang, jalanan sudah ramai dengan jamaah sholat yang berjalan menuju mesjid. Usai sholat shubuh, ceramah kuliah shubuh disampaikan. Lalu usai ceramah, bak selebritis, pak ustadz dikerubuti untuk dimintai tanda tangan di buku jurnal anak sekolah. Oya, ada hal lucu yang sering disindir para penceramah, biasanya di hari pertama Ramadhan jamaahnya membludak ke belakang sampai ke luar mesjid, lalu sedikit demi sedikit mengalami kemajuan hingga di akhir Ramadhan jumlah jamaah tak jauh beda dengan di luar Ramadhan. Betul, konsistensi dan stamina beribadah kita di bulan ini memang harus dijaga hingga akhir bahkan seusai Ramadhan.

Hadirnya Ramadhan juga menandai hadirnya kebiasaan baru di banyak kantor atau kampus. Di waktu-waktu luang, tak jarang dijumpai karyawan atau mahasiswa yang mojok di sudut ruangan kantor atau kelas, sibuk dengan mushaf Qur’an mungilnya, mendadak sholeh. Sebagian lagi memilih tidur-tiduran (atau tidur betulan) di mesjid sebelum atau sesudah sholat wajib gara-gara sejuknya udara di dalam masjid tersebut, atau gara-gara iming-iming tidurnya orang berpuasa adalah ibadah; di kanan kirinya suara orang sedang membaca Qur’an, menambah tentram perasaan dan nyenyak tidurnya. Senang membayangkan bahwa produktivitas tak berkurang di bulan ini, bahkan waktunya makin optimal digunakan. Kantin dan warung, tentu saja sebagian besar tutup di siang hari dan baru buka lepas ashar. Tak hanya kantin dan warung itu, orang jualan kolak, es teler, es cendol, es shanghai, rujak atau yang lainnya tiba-tiba bertebaran banyak sekali -sebagian para penjual dadakan- di jam-jam menjelang berbuka, dan istimewanya, rata-rata laris! Rupanya di bulan ini Allah tetap membukakan rizki-Nya bagi mereka yang mau berusaha.

Ada lagi hal yang tak lazim di bulan ini. Biasanya, bagi masyarakat di Indonesia, jadwal sholat tidak terlalu sering diperhatikan. Pasalnya, adzan berkumandang di mana-mana, dan panjang harinya pun tak jauh berubah. Tapi di bulan ini, jadwal sholat menjadi sangat penting dan dicari. Waktu sholat maghrib sangat dinanti, dan adzan pun dikumandangkan sangat presisi mengikuti jadwal ini. Suasana ta’jil di mesjid, atau buka puasa bersama keluarga di rumah menikmati es buah atau kolak yang baru dibeli sorenya langsung menghapus dahaga. “Haus? sudah lupa tuh..”

Di waktu isya, komplit sudah aktivitas bernuansa Rabbani dalam satu hari di bulan puasa ini. Waktu ini juga adalah waktu di mana jamaah masjid meluber hingga ke luar. Lepas isya, pak Ustadz (yang nantinya juga akan menjadi selebritis semalam) menyampaikan ceramah tarawih. Seusai ceramah, sholat tarawih didirikan, kadang dengan speed yang mengagumkan. “Eh, mesjid itu tarawihnya bagus lhoh!” “Kenapa?” “Cepet beres..” Hihi..

Hanya di Indonesia sajakah, hangatnya suasana Ramadhan ini? Alhamdulillah, setelah beberapa kali merasakan Ramadhan di negeri orang, saya bisa mengatakan tidak. Tentu saja, ada warna yang berbeda. Di sini adzan tidak berkumandang di corong mesjid. Woro-woro bukan lagi lewat speaker masjid, melainkan di mailing list. Pawai keliling sahur juga tak lagi terdengar. Tak ada kuliah shubuh atau tarawih dalam bahasa Indonesia, tapi tausiyah dan nasehat bertebaran di internet. Kini, ta’jil di mesjid dinikmati sembari duduk semeja dengan saudara kita Muslim dari berbagai penjuru Asia, Eropa dan Afrika. Tak ada kolak, sup harira pun jadi. Sederet perbedaan boleh didaftar, namun insya Allah, berkah dan keutamaan Ramadhan akan tetap diperoleh, jika bersungguh-sungguh meraihnya. Semoga rasa rindu akan tanah air dan keluarga makin memotivasi untuk mengisi Ramadhan ini sebaik-baiknya, hingga Allah nanti kumpulkan kita dengan orang-orang yang kita cintai dalam kebaikan, amin..

Sahabat, selamat menjalankan ibadah puasa!

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •