Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.” Sabda Lelaki Agung itu ketika menyambut Ramadhan ratusan tahun yang silam, mengandung makna yang sangat dalam.

Rupanya ini penjelasan yang dicari-cari oleh Kang Bejo tentang pertikaian yang terjadi dalam dirinya. Pergumulan seru berlangsung setiap saat antara nafsu, hati dan pikirannya. Dia merasa, setiap ada hal baik atau buruk yang dilakukan, tertorehlah sebuah jejak. Misal, ketika sebuah sukses dipetik, ada sebuah dorongan untuk mengakui kehebatan, kecerdasan, atau kelebihan diri yang membawa sukses itu. Perasaan senang kalau disanjung pun sering muncul tanpa diundang dan tanpa dirasa.

Yang lebih gila lagi (menurut hasil teropong ke dalam dirinya), Kang Bejo sering merasa dia telah melangkah di jalan yang benar, bahkan yang paling benar. Pengetahuannya bahwa Islam, agama yang mengajarkan dia untuk berpuasa Ramadhan, adalah agama penutup yang paling sempurna, membuat dia merasa seolah sudah mendapatkan tiket masuk syurga. Dijamin, garansi 99,9%. Memang, dia tahu bahwa belum tentu dia dijamin selamat, tetapi dia juga tidak tahu, kok ada perasaan tenang dengan cukup beragama Islam dan menjalankan petunjuk dalam manual berIslam.

Suatu malam menjelang Ramadhan dia merenung. “Apa yang mendorongku melakukan ini semua? Mengapa aku menjadi sangat bersemangat mengisi Ramadhan dengan berlomba melakukan amalan yang baik?” tanyanya saat itu. Tahun lalu, dia sudah mengkhatamkan Al-Quran selama Ramadhan. Dia merasa senang karena kalau diibaratkan, ganjarannya sama dengan mengkhatamkan AlQuran sebanyak 6666 kali. Shalat tarawih juga tidak ketinggalan. Dia juga isi dengan amalan-amalan lain yang baik. Semua ini menjadikan dia merasa sudah dalam koridor kebenaran. “Tapi, mengapa tanpa terasa, aku mudah memandang salah orang lain, atau merasa lebih dari orang lain? Kenapa amalan-amalan itu seolah menumbuhkan kesombongan spiritual? Kenapa penyakit-penyakit hatiku masih tumbuh subur? Masih mudah telingaku menjadi merah kalau dikritik atau dipojokkan orang? Kenapa?” genderang pertanyaan bertubi-tubi mendera hatinya.

Kang Bejo, seolah mendapat pencerahan baru. Khutbah Sang Lelaki Agung ratusan tahun silam, menggema kembali di kalbunya. “Diriku ternyata belum merdeka. Ikatan keakuanku, yang meng-aku-aku segala yang kuterima, telah membuatku lupa. Amalan-amalan yang kulakukan, hanya berujung pada penggadaian diriku pada keakuanku. Astaghfirullah…. Duh Gusti… ampunilah aku..,” tersungkur dia di atas sajadah panjang. Seperti baja dalam kawah, luluh lantak keakuannya.

Sujud, sujud, dan sujud lah Kang Bejo di atas sajadah panjang kehidupannya. Dia sujud, melalui dialog dengan sang ego, agar sudi berserah diri kepada Gusti Allah. Dia sujud, melalui puasa seluruh jiwa-raga, agar lemah segala unsur keakuannya dan mengakui ke-AKU-anNya atas segala yang terjadi. Dia sujud, dengan mensyukuri hadirnya kekurangan, penderitaan dan penyakit. Dia sujud, melalui penerimaan yang ikhlas atas segala yang menimpanya, baik itu sanjungan ataupun cacian, kesuksesan maupun kegagalan. Dia sujud, bersama para tamu agung yang dihadirkan Tuhan untuk mengajarinya tentang kehidupan.

Itulah ilham yang dihadirkan Gusti Allah kepada Kang Bejo di malam yang sunyi. “Ya Allah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untukMu. Bimbinglah aku ya Gusti, agar aku bisa menjalani Ramadhan kali ini dengan hikmah dariMu. Agar aku beribadah hanya untukMu semata, bukan untuk mendapatkan hadiah-hadiah dariMu. Dan berilah hidayah kepadaku untuk memahami makna berserah diri ini…”

Kang Bejo seperti mendapatkan energi baru. Dia solah melihat dunia di depan matanya dengan warna-warni yang indah. Duka-lara, sedih-gembira, kemiskinan-kekayaan, kebodohan-kepandaian,… semua indah, memperkaya pelangi kehidupan. Dia pun ingin berterimakasih kepada semua tamu agung — baik yang berbaju penyakit, hutang, kemiskinan, musuh, keterasingan, dll — yang membawa pesan penting dari Gusti Allah. Semua itu dihadirkan agar dia kembali berpikir. Agar dia kembali merenung. Agar dia kembali membuka mata hati.

Marhaban Ya Ramadhan…
Ijinkan aku kali ini memasukimu dengan segala ketidakpunyaanku..

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •