Diary Ramadhan edisi 21 Ramadhan 1431H

Oleh: Muhammad Iqbal

Sedikit introduksi sebelum mulai bertualang, IceWind Dale II adalah game khusus PC racikan Black Isle Studio. Diterbitkan Interplay Entertainment pada akhir Agustus 2002, game ini mendulang sukses mengikuti prekuelnya (IceWind Dale). Game bergenre fantasy RPG (Role Playing Game) ini bercerita tentang perseteruan penuh intrik dari berbagai ras, organisasi, dan agama dari para penghuni Ten Towns. Panorama penuh salju yang dingin-dingin empuk mendominasi hampir seluruh lingkungan outdoor. Nuansa ghotic yang artistik menambah cantik tampilan indoor, Story line yang kuat yang disertai gameplay dan menu kendali yang user friendly, menjadikan game ini sebagai salah satu game yang layak dikhatamkan pada jamannya.

Game dimulai dengan character creation screen. Dimulai dengan memilih nama, gender, ras, alignment, hingga penampilan fisik, dan sebagainya. Kombinasi enam character yang terdiri atas barbarian, paladin, thief, ranger-fighter, cleric, dan mage jadi pilihan yang sepertinya akan memuluskan petualangan. Bunuh sana, bunuh sini, tipu sana, perdaya sini, dan lalu dibunuh juga, terasa seru sampai akhirnya saya stuck di sebuah kuil. Di kuil itu ada ruangan yang tidak bisa dimasuki dan gua tersembunyi berisi naga yang kekuatannya superior. Perkiraan bahwa dengan membunuh naga akan memberikan akses ke ruangan terlarang itu ternyata salah. Perjuangan keras membunuh naga hanya membuahkan kondisi terjebak alias stuck, game tidak bisa dilanjutkan. Penasaran!

Selang beberapa bulan kemudian patch game ini pun keluar. Saking penasarannya terhadap game ini, jalur cepat memakai walkthrough pun ditempuh. Dengan sedikit browsing di internet, akhirnya saya dapatkan fakta mengesalkan bahwa memang ada bug di game itu ketika masih belum dipatch, dan juga larangan membunuh naga sebelum menyelesaikan quest tertentu. Naga yang sama yang sudah saya bantai dengan seksama. Asal tebas memang tidak menyelesaikan masalah. Sialnya, save game sebelumnya ternyata corrupt! Sehingga game harus dimainkan dari awal lagi tapi kali ini game dapat diselesaikan dengan mulus dan seksama. Terima kasih kepada patch dan walkthrough persembahan gamefaq.

Game yang satu ini memberikan banyak kesan dan renungan. Bermain peran (role play) sedikit banyak memang mirip dengan kehidupan nyata. Kemiripan-kemiripan itulah yang mungkin membuat permainan terasa lebih hidup dan menyenangkan. Peran yang dimainkan sengaja disesuaikan dengan karakter yang dibangun sebelumnya. Untuk menanggulangi undead, cleric memang tiada duanya tapi untuk berdiplomasi, pastilah paladin yang dipasang pertama untuk bicara. Tiap karakter ada peran sentral masing-masing.

Lantas terpikirkan tentang apa peran saya dalam hidup ini. Bak sebuah game RPG, kehidupan di dunia ini diisi banyak karakter dengan perannya masing-masing. Saya yang kondisinya seperti ini didisain untuk sebuah peran tertentu, saya meyakini itu. Memang tidak seperti game, permulaan cerita saya di dunia tidak bisa ditentukan oleh diri sendiri. Beberapa karakteristik dasar hidup memang sudah ditakdirkan seperti begini adanya. Warna kulit, suku, tempat tanggal lahir dan sebagainya bukanlah variabel yang bisa diotak atik. Tapi tetap saja kita punya keleluasaan dalam mengambil peran. Tiap orang punya kesempatan jadi presiden, mendarat di bulan, atau bahkan melahap seporsi spare ribs di salah satu restoran di Groningen dengan masih menyandang status sebagai mahasiswa. Hanya perlu dimaklumi bahwa probabilitas tiap orang untuk melakukan itu semua memang berbeda-beda. Satu hal yang saya yakini, sekarang sudah bukan waktunya untuk menyesalkan dan mempermasalahkan bawaan orok. Apa yang harus dipikirkan adalah bagaimana si orok ini bisa menjadi “orang”.

Menjadi “orang” dalam hal ini dapat diartikan dengan meraih keberhasilan dalam kehidupan dunia. Untuk berhasil, tentunya kita harus tahu aturan main yang berlaku sehingga bisa menyusun strategi dengan tepat. Bermain tanpa strategi tak ada bedanya dengan sekedar main-main saja tak akan ada pelajaran yang bisa diambil. Segala sesuatu itu memang ada aturannya, ada ini dan ada itu, begitu juga dengan hidup. Aturan main resmi tentang hidup pun sebenarnya sudah diterbitkan sebagai panduan dalam firman-firman-Nya. Al-Qur’an adalah panduan yang dibuat oleh Dia Yang Menciptakan Segala Keteraturan bagi makhluk-Nya yang hendak bertualang di dunia. Tapi pada kenyataannya masih banyak juga yang malah menggunakan petunjuk terbitan pihak ke tiga sebagai panduan utama hidup. Alih-alih selamat, kebanyakan malah terjebak dan tersesat dalam realita yang semu. Sebagai manusia yang senantiasa berfikir, mempelajari dan memahami semua keteraturan ini merupakan sesuatu yang menarik. Bagi mereka yang berpikir lebih keras, maka pemikiran mereka akan membuahkan karya-karya revolusioner yang sanggup mengubah peradaban. Kehidupan ini terlalu berharga untuk dihabiskan layaknya sebagai seorang NPC (non playable character, baca: tokoh figuran). hidup ini tak lebih dari menjalani bangun, ngantor, makan, dan tidur. Jika masih bingung tentang hidup, mungkin panduan yang kita pakai selama ini salah, atau juga sudah tepat tapi kita tidak melaksanakan apa yang tertulis di dalamnya.

Ada peringatan keras bahwa kehidupan dunia ini tidak bisa diulang lagi andaikan gagal, tidak seperti memainkan sebuah game RPG. Satu kesempatan saja dan tidak ada extra credit untuk bisa start over. Dalam game, tidak adanya extra credit memang mengurangi resiko rusaknya permainan karena adanya leaver. Leaver (rage quit, desperate quit, dc problem, afk-ers, dll) memang tidak pernah disukai di kalangan para gamer karena perilakunya itu merusak jalannya permainan. Maka, akan jadi sangat tidak bersyukur jika ada yang sekonyong-konyong leave dari kehidupan dunia karena pada dasarnya dia sudah menyia-nyiakan kesempatan tunggal yang dia miliki. Meninggalkan kehidupan dunia secara paksa dengan cara mengakhiri hidup dengan alasan yang menggelikan hanya akan bersambut siksa. Tapi tidak perlu khawatir jika kita sempat khilaf dan tersesat dalam hidup karena Dia adalah Dzat Yang Maha Adil. Memang tidak ada media reinkarnasi andaikan manusia terbelok dan ingin kembali, tapi pintu taubat-Nya senantiasa terbuka. Hanya saja yang namanya taubat itu haruslah disegerakan, karena tulisan GAME OVER yang sangat besar itu bisa menghampiri kita kapan saja dan di mana saja.

Game RPG manapun pastilah memiliki ending, meskipun ending ceritanya itu bersifat menggantung. Seirama dengan itu, ada sebuah fakta tragis tentang kehidupan dunia: hidup ini harus berakhir. Hidup sebetulnya memiliki multiple ending, tergantung dari pilihan-pilihan yang kita ambil di dalamnya. Tiap gamer umumnya ingin mengetahui ending utama dari cerita game yang dia mainkan dan ingin keberhasilannya itu terpampang di high score board yang sifatnya online. Begitu juga dengan manusia yang mengambil jalur taqwa dengan harapan memperoleh ending utama dari kehidupan dunia: surga. Karena alam akhirat adalah perhentian kita yang sesungguhnya. Siap ataupun tidak kita harus beralih ke perhentian yang abadi. Oleh karena itu, berhati-hati dalam setiap pilihan hidup sudah menjadi keharusan.

Sebuah analogi yang sempit dari seorang yang ingin bisa mengangkasa di surga. Dan sesungguhnya Ramadhan ini adalah waktu yang baik untuk mengevaluasi diri dan menjadi BETTER GAMER dalam kehidupan dunia. So, lets start playin our game better then ever! Good player respects each other!

~maniakgamenepikasurga~

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •